Merekrut kandidat atau karyawan terbaik? (2)

Dalam tulisan sebelumnya sudah disebutkan beberapa karakter mengenai kandidat terbaik. Karakter tersebut muncul karena memang didasarkan kepada kebutuhan, pengalaman mencari pekerjaan dan ’pakem’ atau kebiasaan yang diambil oleh employer sebagai dasar merekrut karyawan. 

Namun paradigma sekarang sudah berbeda. Metode perekrutan karyawan terbaik lebih menitikberatkan aspek pemasaran (marketing) daripada sekedar memenuhi kebutuhan (manpower requirement). Hal ini biasanya sudah dilakukan oleh top hiring agency atau expert head-hunter, namun masih jarang / sedikit dilakukan oleh perusahaan biasa. Umumnya, hanya good employer yang sudah melakukan hal ini, dimana mereka menyadari bahwa talent people baik itu yang fresh maupun experience adalah berlian bagi organisasi perusahaan. 

Bagaimana mengetahui bahwa kandidat terpilih adalah karyawan terbaik? berikut karakter atau ciri-ciri dasar mereka yakni : 

  • Sangat bermotivasi tinggi dalam setiap pekerjaan. Motivasi dalam pekerjaan ini sangat luas, bisa di tingkat organisasi (sekolah, kampus, lembaga informal) atau perusahaan komersial.
  • Bersedia bekerja melebihi kebutuhan. Ciri ini dapat diperoleh dari hasil wawancara ataupun pengalaman bekerja. Perilaku mereka tidak pernah menolak bila diberi tanggungjawab atau tugas lebih, asalkan diberikan sumberdaya memadai dalam pemenuhannya.
  • Tidak membuat alasan penyesalan (not make any excuses). Mereka tidak menyalahkan atau menyesal dalam setiap pekerjaan/keputusan yang diambil, karena merupakan konsekuensi dari setiap tugas/tanggungjawab.
  • Antisipasi masalah. Dalam setiap proyek atau penugasan, para karyawan terbaik cenderung sudah mengantisipasi masalah yang mungkin timbul, dengan memberikan opsi-opsi solusi.
  • Menyelesaikan masalah (facing problem). Masalah bukan dilewati, ditutup-tutupi atau dibiarkan, tapi dihadapi dan dibuatkan solusinya.
  • Mengambil inisiatif. Mereka bosan jika menunggu orang lain/pihak lain untuk mengambil inisiatif, meskipun itu tanggungjawab orang/pihak lain. Mereka suka mengajukan diri berinisiatif baik itu dalam program pengembangan, proyek atau penyelesaian masalah.
  • Belajar dengan cepat. Karyawan terbaik cenderung dapat mempelajari sesuatu hal dengan cepat, karena sudah menjadi kebiasaan mereka.
  • Memiliki komitmen. Apapun penugasan, tanggungjawab ataupun beban pekerjaan yang diberikan, karyawan terbaik akan memenuhi janji-janjinya. Tidak sebatas perkataan, tapi lebih banyak dalam hal action, process dan result.
  • Fokus. Karyawan terbaik memiliki fokus terhadap apa yang menjadi tanggungjawab dan tugasnya.Mereka memiliki kepedulian, perhatian dan prioritas agar tanggungjawab yang dibebankan dapat diselesaikan dengan tuntas.
  • Memiliki keyakinan. Didasari atas sikap bertanggungjawab, komitmen dan motivasi tinggi, maka karyawan terbaik memiliki keyakinan atas segala keputusan dan pekerjaan yang mereka lakukan.
  • Memiliki jiwa team player yang kuat (strong team player). Anda mengenal Michael Jordan? beliau adalah pemain basket NBA legendaris. Itulah contoh individu dengan team player yang kuat. Karakter karyawan terbaik memiliki karakter seperti Michael Jordan, selalu berupaya menyukseskan sasaran kelompok kerja di dalam organisasi. Mereka berjuang untuk kesuksesan tim, unit, divisi atau organisasi, dan menggugah semangat anggota tim, unit, divisi atau organisasi untuk sukses. Seperti keberadaan Michael Jordan, dimana terlihat sekali perbedaan antara ada dan tidaknya Michael dalam timnya Chicago Bulls saat bertanding pada kompetisi NBA.

Jika dilihat karakter-karakter diatas, maka sangat berbeda sekali dengan karakter kandidat terbaik. Seringkali karyawan terbaik saat diwawancara terlihat seperti tidak antusias, atau tidak perhatian terhadap pekerjaan yang ditawarkan. Namun, didalamnya mereka memiliki catatan kinerja dan perilaku yang mengesankan. Sederhananya, orang lain yang mengenalnya akan mereferensikan mereka sebagai karyawan terbaik di lingkungan pekerjaan. 

Karena itu, penulis suka menggunakan model gunung es (iceberg) atau model lapisan inti (core-layer) dalam pendugaan karakter karyawan terbaik. Seringkali apa yang terlihat di permukaan atau lapisan terluar (CV yang bagus, pendidikan yang tinggi, penampilan yang baik, komunikatif, antusiasme dalam wawancara dll) belum menunjukkan ciri bahwa itu merupakan karyawan terbaik, tapi hanya merupakan indikasi bahwa mereka benar-benar mempersiapkan diri dalam mencari pekerjaan atau kandidat terbaik.

7 pemikiran pada “Merekrut kandidat atau karyawan terbaik? (2)

  1. Seringkali apa yang terlihat di permukaan atau lapisan terluar (CV yang bagus, pendidikan yang tinggi, penampilan yang baik, komunikatif, antusiasme dalam wawancara dll) belum menunjukkan ciri bahwa itu merupakan karyawan terbaik, tapi hanya merupakan indikasi bahwa mereka benar-benar mempersiapkan diri dalam mencari pekerjaan atau kandidat terbaik.

    Betul !
    Kita bisa terkecoh dengan hal seperti ini. Oleh karena itu, kita perlu cross check dengan orang lain yang mengenalnya dan yang dapat dipercaya.

    Terima kasih telah mengingatkannya.

  2. Yup! Setuju!
    seringkali kita bias

    untuk penulis, saya ada beberapa pertanyaan nich

    1. Bagaimana cara supaya tidak terkecoh saat interview, tidak tertipu dgn kandidat yg komunikatif?
    2. Bagaimana cara menggali untuk mendapatkan karyawan terbaik?

    Thx

    • Supaya tidak terkecoh saat melakukan interview, sebenarnya kalau interviewer berpengalaman akan tahu apakah kandidat ini cuma ‘ngecap’ saja atau memang memiliki bobot. Saya sarankan, interviewer menguasai teknik behavioral event interview atau competency based interview untuk mengetahui apakah benar kandidat ini kompeten pada bidangnya atau memiliki perilaku berkinerja tinggi. Sebenarnya mengetahui karyawan terbaik tidak sulit, anda bisa melakukan cross-check pada lingkungan tempat karyawan tersebut berada. Umumnya karyawan terbaik akan selalu direferensikan baik oleh atasan atau rekan kerjanya.
      Untuk memperoleh karyawan terbaik, paling mudah memang melalui referensi dari karyawan yang juga memiliki performa terbaik. Jika bapak memiliki rekan, teman kerja, mitra yang kompeten, mintalah referensi dari mereka. Jangan meminta referensi dari rekan/karyawan/teman yang masuk kategori ‘biasa-biasa saja’.

      semoga membantu,

      salam hangat,
      tshahindra

  3. Tshahindra yg terhormat,
    Yang ingin saya tanyakan adalah,
    1. Bagaimana mengenali karakter individu-individu yang berkinerja tinggi melalui pertemuan pertama?
    2. Upaya apa sajakah yang dapat membuat individu-individu yang berkinerja tinggi untuk tetap loyal dan semangat didalam memenuhi targetnya?contohnya pada saat kondisi perusahaan belum bisa memberikan yang terbaik bagi SDM berkualitas tersebut,

    Thanks,
    Wijaya

    • Saya jawab satu-satu ya pak Wijaya,
      1. Mengenal individu berkinerja tinggi pada pertemuan pertama, memang tidak mudah. Tapi jika interviewer (pewawancara) berpengalaman, maka akan menggunakan teknik behavioral event interview atau competency based interview untuk menggali karakter/perilaku yang menggambarkan kinerja tinggi. Saya sarankan bagi pewawancara untuk menggunakan teknik ini, jika belum mengenal kandidat. Jika sudah mengenal, ada baiknya melakukan cross checking ke sumber-sumber yang pernah bekerja dengan kandidat tersebut, seperti model 360 degree assessment. Bisa tanya ke mantan atasan, mantan bawahan atau rekan kerjanya.
      2. Untuk tetap loyal atau saya lebih suka melihatnya memiliki komitment dan dedikasi pada pekerjaannya, ini memang pertanyaan yang susah dijawab. Jika perusahaan selalu berusaha mengikat karyawan melalui salary/benefit, maka tidak akan pernah tercapai karena tidak pernah ada batas untuk tingkat salary. Saya cenderung agar perusahaan tidak hanya memberikan manfaat yang bersifat tangible (nyata) seperti gaji, salary, benefit, tunjangan dll, tetapi juga memberikan manfaat yang bersifat intangible, yakni : lingkungan kerja yang kondusif, iklim kerja, kesempatan karir, kesempatan memberi kontribusi, penghargaan dari atasan dll. Silakan lihat teladan yang baik pada perusahaan terbaik bagi pekerja 2009(the best employer) yakni NetApp. Mereka sangat peduli terhadap pekerja, karena memang membangun budaya perusahaan yang positif seperti penciptaan komunikasi yang selaras, penghargaan kontribusi karyawan, perlakuan adil dll. Itulah yang biasa dicari para karyawan berkinerja tinggi. Jika ingin lebih fokus, bapak wijaya bisa mengadakan survey kepada karyawan berkinerja tinggi tersebut, mengenai hal-hal yang menyebabkan mereka tetap bertahan pada perusahaan. Hasil survey nantinya dijadikan sebagai acuan program pengembangan retensi karyawan berkinerja tinggi.

      Itu saja, semoga berkenan,

      salam hangat,
      tshahindra

  4. salam mas tengku,
    saya sangat tertarik dengan bahasan ilmu sdm yang bapak buat. apakah sebelumnya bapak pernah merilis buku terkait sdm? saya seorang mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah konsentrasi manajemen sdm dan sedang mencari2 topik penelitian. saya ingin sekali berdiskusi dengan bapak bila diijinkan. saya ingin mengangkat topik rekrutmen dan seleksi pada perusahaan penyedia jasa pekerja (rekrutmen spesialis) namun menurut saya judul ini apakah terlalu umum? mengingat banyak topik penelitian mengenai rekrutmen dan seleksi namun tempat penelitian belum pernah ada pada perusahaan tersebut (sejauh ini yg saya lihat dari referensi penelitian sebelumnya di fakultas saya). yang mau saya tanyakan apakah ada perbedaan pola rekrutmen dan seleksi pada perusahaan umum dan perusahaan spesialis rekrutmen? jika ada perbedaan, saya ingin mengetahuinya sehingga saya bisa pasti untuk mengajukan topik penelitian tersebut.
    terimakasih,
    Regards,
    agnes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s