Realisasi dalam kompetisi – 1st Robotic Challenge Competition 2019

Beberapa waktu lalu penulis membaca berita di media tentang seorang anak yang mengalami gangguan psikomotorik, tubuh maupun syaraf. Anak tersebut tidak bisa mengendalikan interaksi sosial dengan keadaan sekitar maupun gerakan tubuhnya sehingga perlu menjalani perawatan secara intensif. Apa penyebabnya? Ya kecanduan main game melalui perangkat gadget/console. Diketahui, anak tersebut bisa menghabiskan waktu lebih dari 6 jam sehari hanya bermain game.

Berawal dari kajian tentang inovasi terbuka di lego, selanjutnya tentang kontes robotika oleh DARPA, sehingga mengilhami berdirinya sebuah Lembaga robotika,sebagai start up sekolah robotka dan otomasi di tahun 2015. Dengan niat tulus untuk memperbaiki pendidikan terutama aspek sains, teknologi, rekayasa, matematika dan seni melalui Lembaga tersebut. Misi berikutnya adalah menghindari anak-anak mengalami nasib seperti tulisan diatas, yang unfaedah, kalau ikut bahasa milennialnya. Dengan berdirinya Lembaga ini diharapkan para orang tua sadar akan bahaya dan efek buruk game/console berlebihan bagi anak, serta bisa memberdayakan energi dan keinginan anak ke dalam hal yang positif, melalui disain, perancangan, pembuatan perangkat mekanik maupun simulasi robotic.

Baca lebih lanjut

Menggapai pendidikan masa depan : Sebuah Cita-Cita

al-khawarizmiBerawal dari sebuah startup kecil yaitu lembaga pendidikan untuk pengembangan sains, teknologi, rekayasa, seni dan matematika maka sejak sekitar setahun lalu sudah berdiri  Lembaga Sekolah Robotika dan Otomasi. Sebagai awal dari perkembangan lebih lanjut agar pergerakan cepat dalam dunia bisnis, teknologi dan informasi  yang sudah tidak bisa lagi dihadapi dengan kompetensi masa lalu, namun harus melihat tantangan masa depan apa dan apa yang perlu dipenuhi untuk memenuhi tantangan tersebut.

Dalami upaya memberikan kontribusi yang lebih besar ke dunia pendidikan, pengajaran dan integrasi ke dalam dunia bisnis, maka didirikanlah yayasan untuk mengakomodir hal tersebut. Adapun yayasan ini bernama sama dengan blog ini, yaitu Yayasan Ilmu SDM dengan tag line, Rethinking Posibilities, Unleashing Human Potentials.

Baca lebih lanjut

Free Trial : Sekolah Robotika dan Otomasi

2016-09-14-robotic-poster-free-trialBanyaknya permainan seperti console games, game station, atau game center yang sering bertebaran di sekitar perumahan menyebabkan anak-anak dan remaja seperti mengalami autisme dunia sekitar.  Bahkan kadang menimbulkan dampak negatif karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Atas dasar demikian, alangkah baiknya jika potensi kemampuan anak bisa diberdayakan sepenuhnya melalui wadah yang tepat.

Baca lebih lanjut

Ketika ide tulisan menjadi kenyataan…

Ideas Reality

Jika pembaca rajin melihat dan memperhatikan konten isi blog ini, maka isinya sudah mulai beragam. Di tahap awal-awal penulisan masih berkutat tentang SDM dan pengembangan organisasi. Selanjutnya mulai merambah ke arah bisnis, manajemen, dan strategis. Dan sekarang sudah mencakup hal di luar tersebut, dimana ada tulisan mengenai teknologi, informasi, riset, militer bahkan aspek hukum dan politik.

Melihat timeline tulisan, ada benang merah yang terhubung dari tulisan di blog ini. Penulis pernah membuat tulisan mengenai inovasi terbuka oleh Lego, yang membantu Lego bangkit dari kebangkrutan taktala berhadapan dengan console games di era 90 an. Pembentukan produk Lego Mindstorm ini, juga mengilhami penulisan mengenai aspek teknologi robotika yang terkait. Dimana ada kontes robot paling terkemuka di dunia DRC yang dipelopori oleh agensi pertahanan teknologi amerika yaitu DARPA.  Lantas ada juga tulisan tentang Google yang berniat masuk ke dunia otomasi dengan membeli peraih skor tertinggi DRP tahun sebelumnya yaitu tim SCHAFT termasuk perusahaan robot Boston Dynamics.

Baca lebih lanjut

Apakah ada perbedaan gaji tingkat pendidikan Sarjana (S1), Magister/Master (S2) dengan Doktor (S3)?

AlmamaterKetika anda ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi, terutama bagi kalangan swasta mungkin ada yang beranggapan “ Buat apa sekolah lagi? Di swasta kan yang penting kemampuan dan kompetensinya yang dinilai?”. Kalau masih menerima anggapan demikian, sebaiknya diabaikan saja karena memang masih ada yang berpikiran sempit atau berada dalam lingkup ‘tempurung’, menganggap bahwa titel kependidikan tidak perlu – perlu amat, jauh lebih penting kompetensi.

Berbagai alasan dikemukakan, terutama pada seminar MLM, motivasi, kisah orang sukses baik dari lokal maupun internasional yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Kadang mereka membandingkan dengan salah tokoh yang tidak sarjana tapi bisa menjadi menteri, konglomerat yang tidak pernah menduduki SMP. Atau lebih ekstrim, membandingkan dengan Bill Gates yang tidak pernah lulus Sarjana, tapi bisa menjadi orang terkaya di dunia.

Baca lebih lanjut

Apa itu Art-Based Learning?

Orchestra ConductorTahun 2009, Taylor dan Ladkin memberikan contoh pengajaran dan pendekatan pelatihan yang dilakukan oleh organisasi, dalam hal pengembangan kepemimpinan dan pendidikan yaitu :

  • Seorang manager dari Denmark membuat bangunan tiga dimensi yang menggambarkan strategi organisasi dengan LEGO.
  • Pemimpin tentara Amerika bersama-sama ke bioskop untuk memberikan ilustrasi mengenai kepemimpinan militer
  • Mahasiswa program MBA mengambil kelas seni untuk mengembangkan kreatifitas mereka.

Apa benang merah penghubung ketiga aktifitas diatas, dari tiga organisasi berbeda tersebut?

Baca lebih lanjut