Bagaimana menilai Asset Maturity dan kapabilitas Asset Management perusahaan?

Ada pertanyaan menarik dari peserta saat memberikan pelatihan mengenai Smart Asset Management dalam bingkai dan Industri 4.0 beberapa waktu lalu.  Pertanyaannya adalah begini: Bagaimana menilai suatu pengelolaan / manajemen Asset dan apa saja yang mesti diperbaiki agar bisa mencapai model Smart Asset Management.

Sebuah pertanyaan menarik. Tentunya setelah mengetahu karakteristik model apa Smart Asset Management, perlu ada model lagi kita sudah di tingkat apa atau mencapai kelas apa dalam hal Manajemen Asset. Nah disinilah pentingnya memiliki standar Smart Asset Capability Maturity Model atau tingkat kematangan Manajemen Asset.

Baca lebih lanjut

Menuju Smart Asset Management System – apa karakteristiknya

Dalam tulisan terdahulu ketika menangani pengelolaan aset kontraktor migas  dan juga memperhatikan aspek disruptive innovation pada industri migas  telah membawa penulis kepada suatu konsep, yang mungkin merupakan sinergi antara pengelolaan asset dengan penerapan industri 4.0 yaitu smart asset management system.

Pada dasarnya asset suatu organisasi bisa berupa asset fisik yang meliputi : kantor, peralatan mesin produksi / peralatan operasional, lokasi pabrik / pabrik fisik , serta asset non fisik yang berupa :  teknologi, informasi dan data,  merek, reputasi, yang mendukung proses bisnis dan ekspansi bisnis di masa depan.

Baca lebih lanjut

Pengelolaan asset di kontraktor migas / industri migas seperti apa?

Migas IndonesiaSaat menangani konsultansi pada kontraktor migas/ KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), terkait pengelolaan asset tentunya memerlukan landasan dan referensi yang kuat terkait pengelolaan asset. Ini tidak bisa lepas dari skema bagi hasil yang diberikan. Skema bagi KKKS  migas di Indonesia saat ini bisa dibagi dua skema yaitu cost recovery dan gross split. Sederhananya skema cost recovery adalah semua biaya terkait perolehan migas akan diganti negara, selanjutnya hasil migas akan diberikan ke negara memiliki porsi lebih besar dengan kisaran pembagian 85% negara dan 15% kontraktor. Sedangkan skema gross split bahwa semua biaya terkait perolehan migas ditanggung semuanya oleh kontraktor, selanjutnya kontraktor mendapatkan bagi hasil yang lebih besar dari perolehan migas, skemanya bisa 57% bagi negara, dan 43% bagi kontraktor.

Pada skema cost recovery bagi kontraktor , maka pemerintah harus memberlakukan regulasi yang kuat, kontrol yang ketat serta berbagai aturan, pedoman maupun juklaknya.  Terkait itu, sudah ada badan bentukan Pemerintah yaitu SKK Migas sebagai Badan  Penyelenggaraan Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Boleh dikatakan, SKK migas memiliki kepentingan agar asset – asset yang digunakan KKKS bisa berdaya optimal dalam memberikan nilai perolehan migas sesuai dengan target lifting migas. Skema ini mengharuskan setiap investasi/pengeluaran dari kontraktor harus melalui persetujuan mekanisme anggaran yakni Work Planning & Budget serta otorisasi untuk pengeluarannya (Authorization for Expenditure). Sedikit berbeda dengan skema gross split, maka apapun pengeluaran dari kontraktor maka semuanya harus dihitung sendiri oleh Kontraktor agar biaya yang dikeluarkan masih masuk anggaran dan kontraktor masih mendapatkan keuntungan dari bagi hasil perolehan migas yang didapat.

Baca lebih lanjut

Apa saja disruptive innovation di sektor oil & gas industry?

Berbicara mengenai disruptive innovation, seringkali diskusi mencakup industry yang umum, start-up, technology based dan bersifat penghubung. Jarang berhubungan dengan segmentasi industri yang capital intensive, high risk industry atau proyek-proyek dengan expenditure yang besar. Nah, terkait topik diatas, mungkinkan terjadi disruptive innovation pada sektor migas (oil & gas industry)?

Dalam beberapa tahun terakhir ini, sebenarnya sudah ada disruptive pada industri oil dan gas. Memang melihat kondisi keadaan cadangan minyak dan gas di negeri ini, tampaknya sulit terhadap sektor ini. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Komersialisasi pada sumber minyak dan gas non-conventional seperti pada minyak dan gas serpih (oil and shale gas), telah menurunkan harga minyak dan gas sangat signifikan. Jika anda pernah mendengar tentang perusahaan Mitchell energy, maka boleh dikatakan perintis disruptive innovator khusus pada minyak dan gas serpih, dengan temuan formula fracking fluid, yang mampu meningkatkan produksi minyak/gas serpih mereka. Teknologi fracking yang ditemukan membuat eksplorasi dan eksploitasi minyak/gas serpih menjadi feasible saat ini.

Baca lebih lanjut

Apa test dan simulasi terbaik bagi Business Continuity Management?

Ketika memberikan arahan dan training mengenai Business Continuity Management pada salah satu perusahaan manufaktur ethanol terbesar di Indonesia beberapa waktu lalu, ada pertanyaan menarik dari peserta mengenai BCM ini. Sebagai sebuah sistem, atau manajemen tentunya BCM ini perlu diuji, nah bagaimana pengujiannya?

Sebuah pertanyaan menarik, karena memang pada dasarnya BCM ini akan bekerja saat terjadi kondisi bencana, kondisi tidak diinginkan atau sebuah incident/disruptive. Sama ketika mengisi seminar mengenai BCM tahun 2014 lalu, maka BCM ini justru diharapkan tidak terjadi. Tapi, kalau seandainya terjadi incident/disruptive, maka akan terlihat mana organisasi yang akan siap, mana yang tidak. Tingkat kesiapan inilah nantinya bisa diuji melalui testing atau simulation.

Baca lebih lanjut

Mengapa masalah di organisasi terus menggulung?

problem-thinking-solutionKetika penulis memberikan fasilitasi dan pengarahan bersama management team sebuah perusahaan beberapa waktu lalu, dalam rapat kerja rencana strategis dan action plan untuk tahun mendatang, ada pertanyaan menarik dari manajemen peserta rapat. Yaitu mengapa seringkali masalah yang dibahas dalam suatu meeting, tidak pernah selesai. Bahkan selalu muncul dalam rapat-rapat berikutnya.

Dalam hal ini penulis jadi teringat, ketika memberikan pelatihan mengenai perencanaan, pengelolaan dan monitoring organisasi. Banyak kejadian serupa terjadi, karena ketidakpahaman atau ketidakfokusan rapat saat berlangsung. Boleh disebut, ketika penulis mengobservasi suatu rapat/meeting, justru meeting tersebut sangatlah tidak efektif. Kondisinya persis karena kegagalan dan memahami persoalan di organisasi.

Baca lebih lanjut