“Darkness Age” Indonesia : Akhir Riset Kanker C Tech Labs Dr. Warsito

ecct-electro-capacitive-cancer-therapy-619x465Jika mempelajari sejarah, maka anda akan mengetahui bahwa di Eropa pernah mengalami Zaman kegelapan. Yang dimaksud Zaman Kelam atau Zaman Kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan. Zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi  pada abad ke 9 dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.

Di jaman kegelapan itulah, sekelompok Ilmuwan ditangkap, dipenjara bahkan bisa dihukum mati karena tidak sesuai dengan Doktrin Gereja Kristiani. Nicholas Copernicus (1473-1543) yang menyebutkan teori Heliosentris, dimana Matahari sebagai  pusat Tata Surya bukan Bumi, dianggap  mematahkan teori Geosentris (bumi adalah pusat tata surya) harus mengalami nasib tragis karena ditolak Gereja yang berkuasa saat itu. Nasib serupa juga dialami Galileo Galilei (1564-1642).

Kini kondisi mirip sepertinya terjadi di negeri Indonesia. Penelitian Dr. Warsito Purwo Taruno,  fisikawan Indonesia alumnus Jepang penerima penghargaan BJ Habibie Technology Award (BJHTA) karena temuan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECTV) yang  merupakan pendeteksi kanker otak dan payudara . Dan juga turunan teknologi ECVT yaitu  Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT). Aplikasi ini telah didaftarkan paten Indonesia pada 2012. Sayang karena dianggap belum memenuhi prosedur penelitian menurut Kementerian Kesehatan dengan surat nomor HK.06.01/IV/2444/2015 pada 20 November 2015, riset kanker di tempat Edwar Technology harus ditutup.  Akibatnya jelas, sekitar 70 tenaga kerja di klinik riset tersebut harus dirumahkan karena tidak boleh lagi menerima pasien yang mau berobat dengan alat ECVT maupun ECCTnya.

Padahal riset yang dibuat oleh Dr. Warsito bukanlah riset abal-abal. Dari data Edwar (2015), terdapat 3.183 pengguna ECCT,  48% mengalami kondisi perbaikan kesehatan, 41% stagnan alias tidak mengalami perubahan, dan 11% mengalami kegagalan.   Perlu diketahui bahwa  pasein tersebut juga memillih secara sadar  dan sukarela metode penyembuhan ala ECCT tersebut dan tahu bahwa alat tersebut tidak otomatis menjamin kesembuhan mereka.

Alangkah baiknya jika memang dalam prosedur klinik riset kanker CTECH Labs Dr. Warsito ini, tidak langsung ditutup begitu saja. Kemungkinan bisa terjadi pada klinik riset telah melakukan lompatan prosedur riset dan melanggar aturan tentang pelayanan kesehatan, klinik dan alat kesehatan. Namun faktanya, alat tersebut telah menolong cukup banyak penderita kanker.  Selain terapi medis yang telah dikenal luas seperti kemoterapi, radiasi dan lain.  Terlebih riset yang dilakukan di CTECH Labs Dr. Warsito adalah berjalan mandiri, tidak ada sokongan atau bantuan dari pemerintah. Dan penggunaan alat terapi kanker oleh pasien kanker yang datang sekitar 50 orang tiap hari, merupakan salah satu sumber penghasilan dan telah memberikan lapangan pekerjaan bagi ratusan orang di klinik dan lembaga riset tersebut.

Para innovator muda di negeri ini  sebenarnya memerlukan dukungan, yang biasa diperoleh di negara seperti Amerika, Cina dan Jerman. Bukannya malah diberangus atau dihabisi, sehingga bisa berhenti di tengah jalan. Apalagi untuk ilmuwan sekaliber Dr. Warsito, yang sudah menerima penghargaan kelas dunia, penerima Habibie Award, Achmad Bakrie Award dengan ratusan publikasi internasional, indeks sitasi lebih dari 1200, memfasilitasi 61 skripsi, thesis dan disertasi mahasiswa dalam dan luar negeri telah membuktikan bahwa Dr. Warsito adalah ilmuwan kaliber internasional.

Memang negeri yang dipimpin via demokrasi tidaklah memiliki kapabilitas memadai. Kasus Kusrin,  dengan pabrikan manufaktur TV sederhana yang sempat diberangus oleh pengadilan negeri justru kemudian ditemui oleh pemerintah dan diberikan nomor SNI produk. Sebaliknya kasus klinik riset kanker Dr Warsito yang sudah jelas ada fakta pendukung riset, telah menolong pasien sembuh kanker, malah ditutup oleh Kemenkes, dan sampai tulisan ini dibuat (Feb 2016) tidak ada kabarnya apakah akan dibantu, dibina atau diberi fasilitas pendukung. Sangat berbeda dengan kasus Ren Zhengfei, pendiri Huawei yang justru mendapatkan perhatian serius pemerintah Cina saat mengembangkan teknologi Switching dan Network.

Dalam catatan penulis, ternyata sudah banyak ilmuwan di negeri ini, yang karena tidak adanya perhatian pemerintah akhirnya memilih berkiprah di luar.Tragisnya malah ada yang harus berurusan dengan hukum karena dianggap tidak sesuai prosedur.  Seperti kasus korupsi yang menimpa Dasep Ahmadi, innovator mobil dan bus listrik.

Dr. Warsito yang telah berupaya menggalang riset dan pusat penelitian di Indonesia, tampaknya harus menghadapi realitas ini. Kini beliau diundang ke Polandia untuk melanjutkan risetnya. Jadilah negeri luar yang mendapatkan manfaat luar biasa penemuan dan hasil riset Dr. Warsito. Tentunya ini langkah yang harus dilakukan Dr. Warsito agar risetnya kankernya tetap berjalan dan juga tugas jauh lebih mulia dengan menciptakan ratusan lapangan kerja bagi staf dan karyawannya, yang terpaksa dirumahkan karena ketidakpahaman pemerintah akan  pentingnya inovasi dan teknologi.

Tampaknya “Dark Ages” kini sedang melanda innovator – innovator di Indonesia. Nasib serupa telah di alami  innovator mobil listrik seperti Ricky Elson, Dasep Ahmadi dan beberapa innovator  lainnya di bidang elektromechanic, UAV/Drones, Satellite, Radar system, nanotechnology serta bidang high tech lainnya yang memilih berkiprah di luar dibandingkan negeri sendiri.

“..Setori in Ngeri ku, Disini, mengembangkan EV (Electric Vehicle) malah dikejar kejar untuk jadi Saksi oleh sebuah Instansi” Demikian curhatan  Ricky Elson di media sosial.

Referensi :

CTECH Labs.  Dikutip dari laman. http://www.c-techlabs.com/tanggapan-pt-edwar-technology-terhadap-hasil-reviu-kemenkes-mengenai-teknologi-ecvt-dan-ecct/

Kompas. Dasep Ahmadi : Inovator yang menjadi tersangka. 2015 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/07/30/165120326/.Dasep.Ahmadi.Inovator.Mobil.Listrik.yang.Jadi.Tersangka.

Liputan 6.  2015 Bakal Dibeli Malaysia ini Curhatan pencipta mobil listrik. Dikutip dari laman http://bisnis.liputan6.com/read/2306742/bakal-dibeli-malaysia-ini-curhatan-pencipta-mobil-listrik-ri

4 pemikiran pada ““Darkness Age” Indonesia : Akhir Riset Kanker C Tech Labs Dr. Warsito

  1. Ping balik: Menggapai lompatan kuantum bisnis dan teknologi | ilmu SDM

  2. Ping balik: Inilah salah satu kandidat produsen Smartphone terbanyak di dunia tahun 2016 | ilmu SDM

  3. Ping balik: Inovasi yang membuat kisruh : online apps transport vs conventional transport | ilmu SDM

  4. Ping balik: Inovasi yang digagalkan politik+kekuasaan | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s