ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials

Menggunakan prinsip “5M+2”

6 Komentar

Dalam tulisan terdahulu, sudah dijelaskan mengenai menggunakan prinsip 5W (5 Whys) dalam menganalisa dan menemukan akar masalah dari suatu masalah. Setelah akar masalah ditemukan, bukan berarti harus di’diamkan’ atau dipetieskan, namun langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah mengkategorikan akar masalah tersebut termasuk di bagian apa. Ini diperlukan karena kategori yang berbeda, memerlukan pendekatan penyelesaian (approach) yang berbeda bula. 

Pengkategorian atau pengklasifikasian akar masalah tersebut dapat menggunakan model Diagram Tulang ikan (fishbone diagram) atau biasa disebut Ishikawa. Ini sebenarnya merupakan diagram sebab-akibat, yakni karena sebab ”x” maka mengakibatkan ”y”. Pada awalnya, sebagai alat quality management tools, hanya mengenal 5 (lima) kategori yakni : Manpower, Machine, Method, Material, Media. Tetapi dengan perkembangan manajemen lebih lanjut, ditambahkan kategori Motivation (soft competency) dan Money (Uang). Di beberapa pakar manajemen, kadang memasukkan motivation ini tetap di dalam kategori Manpower,  dan Money ke dalam kategori Media. 

Bagaimana mengkategorikan akar masalah ke dalam prinsip 5M+2? pertama-tama kita harus mengenal dulu apa kategori dari setiap ”M” yang berjumlah tujuh tersebut. 

  1. Manpower (Tenaga Kerja). Adalah segala hal permasalahan yang terkait dengan aspek tenagakerja dilihat dari aspek : lemahnya pengetahuan, kurang ketrampilan, pengalaman, kelelahan, kekuatan fisik, lambatnya kecepatan kerja, banyak tekanan kerja, stress dll.
  2. Machine (Mesin, peralatan, Infrastruktur). Adalah segala masalah yang terkait dengan aspek peralatan, mesin maupun physical tools lainnya. Misalnya : perawatan mesin-mesin, fasilitas pendukung mesin, ketidaklengkapan mesin/peralatan, pengkalibrasian mesin/tools yang tidak standar, daya tahan mesin yang lemah, kesulitan dalam penggunaan mesin, mesin tidak user-operability, dst.
  3. Methods (Metode dan prosedur kerja). Adalah segala hal masalah terkait dengan metode dan prosedur kerja. Misalnya prosedur kerja tidak ada, prosedur kerja tidak jelas, metode sulit dipahami, metode tidak standar, metode tidak cocok, metode yang bertentangan dengan metode lainnya dll.
  4. Materials (material bahan baku utama, bahan baku penolong).Berkaitan dengan ketersediaan bahan baku utama atau bahan baku penolong yang terkait dengan akar masalah, dengan melihat aspek: kualitas bahan baku tidak sesuai standar, bahan baku tidak lengkap, kuantitas bahan baku tidak seragam, ukuran dan spesifikasi tidak standar dst.
  5. Media (media, lingkungan kerja, waktu kerja). Yakni melihat aspek tempat kerja, waktu, lingkungan yang tidak mendukung. Biasanya yang termasuk kategori ini adalah : tempat yang kurang bersih, keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan kurang terang, ventilasi dan peredaran udara buruk, faktor kebisingan suara, faktor lantai yang licin/bergelombang/tidak rata dst.
  6. Motivation (motivasi, soft competency). Ini terkait dengan sikap kerja, perilaku kerja, budaya kerja yang tidak benar ataupun tidak kondusif. Bisa digolongkan seperti : tidak kreatif, tidak proaktif, tidak mau bekerjasama dst.
  7. Money (uang dan finansial). Terkait dengan aspek keuangan dan finansial yang belum mendukung dan mantap. Misalnya : ketidaktersediaan anggaran.

Setelah mengkategorikan masalah tersebut, maka penyelesaian masalah bisa lebih fokus dan solusi yang diberikan akan lebih tepat.

Iklan

Penulis: Tengku Shahindra

Strategic Business Advisor, Implementer, Consultant & Trainer dealing with Business Management, Business Performance, Organization Development & Human Capital Management

6 thoughts on “Menggunakan prinsip “5M+2”

  1. trims atas ertikelnya yg bgus

  2. Ping-balik: manajemen kompensasi « manajemenkompensasi

  3. artikel nya sangat membantu mengenal salah satu teori managemen,,, matur nuwun sudah berbagi,,

  4. Bisa tau sumber bukunya? Terima kasih

  5. Mbak Priscilia,

    Ini dari diagram ishikawa atau fishbone diagram. Bisa dilihat pada
    Ishikawa, Kaoru (1968). Guide to Quality Control. Tokyo: JUSE

    Salam,
    T Shahindra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s