ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials


2 Komentar

Menyusun Sistem Remunerasi yang selaras dengan Strategi Bisnis perusahaan (2)

Formulasi Remunerasi strategi sebagaimana dijelaskan sebelumnya pada tulisan awal ini , tergantung pada strategi bisnis dan pengaruh lainnya seperti peraturan dan regulasi, proses bisnis, struktur organisasi, budaya dan lainnya.

Dalam implementasinya, terkait formulasi sistem remunerasi dan kompensasi maka ada beberapa segmentasi yang perlu diperhatikan. Ada lima Segmen yang bisa menjadi perhatian, sebagai bagian penyusunan sistem remunerasi.

Baca lebih lanjut

Iklan


1 Komentar

Sejarah bisnis konsultansi manajemen

Berbicara mengenai bisnis konsultansi cukup menarik, bila melihat sejarahnya. Ini merupakan usaha yang benar-benar Human Asset Capital Intensive. Jika dianalogikan, bisa sama dengan klub Olahraga, dimana nilai klubnya berdasarkan performa pemain.

Asal-usul konsultansi manajemen bisa ditelusuri mulai pada 1800-an. Perusahaan konsultansi pertama, Arthur D. Little didirikan pada tahun 1886.  Industri konsultasi tumbuh perlahan selama setengah abad, dengan peluang pelanggan tertentu yang sudah berada dalam genggaman, atau dengan spesialisasi fungsional tertentu.

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Apa test dan simulasi terbaik bagi Business Continuity Management?

Ketika memberikan arahan dan training mengenai Business Continuity Management pada salah satu perusahaan manufaktur ethanol terbesar di Indonesia beberapa waktu lalu, ada pertanyaan menarik dari peserta mengenai BCM ini. Sebagai sebuah sistem, atau manajemen tentunya BCM ini perlu diuji, nah bagaimana pengujiannya?

Sebuah pertanyaan menarik, karena memang pada dasarnya BCM ini akan bekerja saat terjadi kondisi bencana, kondisi tidak diinginkan atau sebuah incident/disruptive. Sama ketika mengisi seminar mengenai BCM tahun 2014 lalu, maka BCM ini justru diharapkan tidak terjadi. Tapi, kalau seandainya terjadi incident/disruptive, maka akan terlihat mana organisasi yang akan siap, mana yang tidak. Tingkat kesiapan inilah nantinya bisa diuji melalui testing atau simulation.

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Masalah Perkembangan Koperasi Secara Umum

problem-analysis-solutionDalam tulisan terdahulu mengenai koperasi, sudah diungkapkan mengenai sejarah, akar historis dan tujuan dibentuknya Koperasi. Tujuan koperasi memang mulia, yaitu diharapkan sebagai pilar, soko guru, penyangga dan tulang punggung ekonomi Indonesia. Yang dari sejak  tahun 1960an sudah didengungkan oleh bung Hatta.

Tapi, fakta berbicara berbeda. Andil Koperasi masih dibawah 2% dari PDB Indonesia. Belum ada Koperasi yang memiliki ratusan ribu atau jutaan anggota. Koperasi terbesar di Indonesia pun hanya memiliki ribuan anggota. Jika dibandingkan dengan koperasi di negeri tetangga, sangat jauh. Apalagi jika perbandingannya dengan koperasi dari luar negeri semacam Credit Agricole, Nong Hyup, Kaisar Permanente dll. Secara fakta dan kebijakan pemerintah, belum kelihatan keberpihakan kepada pengembangan Koperasi.

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Antara Koperasi dan Korporasi

allianceBerbicara mengenai koperasi, maka kita biasanya teringat tentang salah satu Proklamator Indonesia, Drs. Muh. Hatta, yang sering dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia. Di dalam konstitusi negeri ini, juga disebutkan dalam Pasal 33 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.” Menurut para ahli ekonomi, lembaga atau badan perekonomian yang paling cocok dengan maksud Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 adalah koperasi.

Sebuah tujuan yang mulia, sehingga Koperasi dianggap sebagai soko guru perekonomian negeri. Artinya, Koperasi berperan sebagai pilar atau ”penyangga utama” atau ”tulang punggung” perekonomian. Diharapkan menjadi  sebagai pilar utama dalam sistem perekonomian nasional, semenjak diresmikan tanggal 12 Juli 1960. Tapi bagaimana 50 tahun sesudahnya? Benarkah koperasi telah menjadi pilar utama ekonomi bangsa? Apa hasilnya jika dibandingkan dengan Korporasi?

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Pentingnya penerimaan terhadap perubahan

funny-fitness-cartoon-1Ada pertanyaan menarik dari salah seorang peserta ketika terlibat dalam diskusi perubahan organisasi pada sesi Sharing Organization Development, 21 Januari 2017 lalu. Yakni mengenai langkah perubahan yang mau dijalankan yaitu sistem otomasi tapi mendapat pertentangan yang cukup keras. Tidak hanya dari serikat pekerja, dari manajemen bahkan juga komisaris.

Ya, memang tidak semua orang mau berubah. Terlebih jika perubahan tersebut akan ‘mengganggu’ zona nyaman mereka. Disinilah justru letak bagaimana seorang pemimpin atau profesional dalam pengembangan organisasi bisa menilai dan menganalisis, perubahan apa yang bisa diterima oleh karyawan atau bagaimana meningkatkan penerimaan terhadap perubahan. Karena tidak jarang, perubahan dalam organisasi tapi tidak disertai tingkat penerimaan yang besar, maka momok kegagalan sudah tampak di depan mata.

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Seperti apa bentuk Organisasi Masa Depan?

the-future-brought-to-you-by-nasaPada sesi Sharing Organization Development yang akan penulis bawakan, maupun sesi pelatihan/konsultasi/ seminar tentang pembentukan Struktur Organisasi biasanya penulis berikan materi mengenai bentuk dan struktur organisasi masa depan. Model dan bentuk ini dibuat sebagai antisipasi pemenuhan kebutuhan organisasi di masa mendatang, yang tidak bisa dihadapi dengan model saat ini.

Dalam beberapa hal, seringkali penulis menekankan tentang pentingnya membangun struktur yang tidak hirarkis, atau jangan terlalu banyak layer. Anggaplah ada dua perusahaan dengan bisnis model dan produk/jasa sejenis. Perusahaan pertama memiliki rata-rata rentang kendali atau jumlah anak buah dengan atasan adalah 4, perusahaan kedua memiliki rentang kendali 8. Maka organisasi pertama dengan 7 layer, akan memiliki 4096 staff operasional di layer terbawah dan 1365 manajer, sedangkan organisasi dengan 4 layer hanya memiliki 4096 staff operasional dan 586 manajer! Besar sekali perbedaannya, padahal skala atau model bisnisnya sama.

Baca lebih lanjut