ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials


2 Komentar

Sepenggal kisah dan liputan Aksi Bela Islam III 2 12

img-20161202-wa0075Pada awalnya sudah ada rencana penulis untuk berpartisipasi dalam aksi tersebut. Namun perubahan tanggal acara oleh GNPF-MUI dari tanggal 25 Nov menjadi tanggal 2 Desember atau dikenal 2 12 berbenturan dengan acara pelatihan yang mesti dibawakan penulis di lembaga otoritas moneter yang letaknya berdekatan dengan tempat aksi. Walhasil, tetaplah harus diatur bagaimana supaya acara pelatihan tetap berjalan dan bisa juga meliput acara tersebut.

Berangkat pagi-pagi, kondisi sudah mulai padat pada pukul 06.30. Kendaraan mulai stagnan sejak halte tosari. Maka penulis pun berjalan dari dukuh atas sampai dengan budi kemuliaan. Jalan Thamrin mulai tertutup bagi kendaraan dan puluhan ribu massa sudah mulai tampak memadati aksi.

Baca lebih lanjut

Iklan


4 Komentar

Inovasi yang membuat kisruh : online apps transport vs conventional transport

The Uber Technologies Inc. logo is seen on the ground at Ronald Reagan National Airport (DCA) in Washington, D.C., U.S., on Wednesday, Nov. 26, 2014. Uber Technologies Inc. investors are betting the five-year-old car-booking app is more valuable than Twitter Inc. and Hertz Global Holdings Inc. Photographer: Andrew Harrer/Bloomberg via Getty Images

Entah, berapa lama lagi kisruh antara jasa transportasi aplikasi online dengan jasa transportasi konvensional akan berakhir. Setelah demo besar-besaran kemarin oleh pengemudi taksi konvensional, tampaknya masih menyisakan PR besar bagi pemerintah karena ini menyangkut hajat hidup dan urusan perut. Sayang, pemerintah tidak tanggap terhadap hal ini, ataukah sengaja membiarkan?

Ketika penulis menggunakan taksi konvensional, mereka sebenarnya sudah memahami akan adanya persaingan dan kompetisi antara jasa transportasi dengan apps maupun yang konvensional. Taksi umumnya dibagi dua model , ada sistem setoran dan kedua sistem bagi hasil, dengan opsi kepemilikan kendaraan. Nah, bagi pengemudi dengan sistem setoran memiliki keleluasaan, karena biasanya pengelola tidak mempermasalahkan jika mau menggunakan apps online, hanya saja jangan terlalu terbuka. Toh yang penting setoran tetap. Tapi bagi pengemudi dengan sistem bagi hasil, inilah yang membuat mereka ‘gigit jari’ karena penghasilannya terus tergerus dengan keberadaan transportasi  apps online. Puncaknya adalah demo di Jakarta tanggal 22 maret lalu.

Baca lebih lanjut


4 Komentar

“Darkness Age” Indonesia : Akhir Riset Kanker C Tech Labs Dr. Warsito

ecct-electro-capacitive-cancer-therapy-619x465Jika mempelajari sejarah, maka anda akan mengetahui bahwa di Eropa pernah mengalami Zaman kegelapan. Yang dimaksud Zaman Kelam atau Zaman Kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan. Zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi  pada abad ke 9 dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.

Di jaman kegelapan itulah, sekelompok Ilmuwan ditangkap, dipenjara bahkan bisa dihukum mati karena tidak sesuai dengan Doktrin Gereja Kristiani. Nicholas Copernicus (1473-1543) yang menyebutkan teori Heliosentris, dimana Matahari sebagai  pusat Tata Surya bukan Bumi, dianggap  mematahkan teori Geosentris (bumi adalah pusat tata surya) harus mengalami nasib tragis karena ditolak Gereja yang berkuasa saat itu. Nasib serupa juga dialami Galileo Galilei (1564-1642).

Baca lebih lanjut


1 Komentar

Hukum yang tidak sesuai dengan keadilan

no-justice-no-peace-2014

Apa yang terjadi jika memakai hukum buatan manusia? Kasus yang diulas oleh TribunNews 22 Desember kemarin, mengenai tuntutan  jaksa di pengadilan terhadap kasus pembunuhan PDE (15) , siswi 3 SMP oleh pelaku yang masih remaja SF (13) bisa menjadi contoh. Jaksa yang hanya menuntut terdakwa SF (13) untuk dirawat di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) selama 1 tahun, jelas sangat menggoyahkan rasa keadilan.

Bagaimana tuntutan jaksa itu bisa terjadi?. Faktanya SF memukuli PDE dengan palu yang telah dibawa oleh SF hingga tewas. Artinya ada unsur kesengajaan atau perencanaan pembunuhan. Menurut UU KUHP pasal 340, ancaman terhadap pelaku tindakan pembunuhan dengan perencanaan adalah hukuman mati atau seumur hidup atau bisa juga paling lama 20 tahun. Tapi kenapa jaksa hanya menuntut 1 tahun, dan itu juga bukan dipenjara, tapi lembaga perawatan sosial? Hal inilah yang diprotes keras orang tua PDE, karena merasa tuntutan hukuman tidak setimpal dengan perbuatan SF.

Baca lebih lanjut