Kapan pandemic di Indonesia ini berakhir?

Mungkin ini jawaban yang paling sulit penulis berikan. Selain bukan anggota Gugus Tugas/ Satgas Covid, bukan juga Dokter atau Epidemiologist,  Cuma pengamat dari jarak jauh dan pernah memberikan konsultasi , pelatihan dan advisory manajemen bisnis bagi puluhan perusahaan.

Lha…jadi kenapa koq berani2nya memberikan prediksi tentang kapan pandemik covid-19 ini berakhir?

Ya, penulis termasuk pembelajar (lifelong learner), sangat mempercayai bahwa pengetahuan itu tidaklah datang dari satu arah (one-direction), namun merupakan convergence, suatu proses terus menerus, dengan pandangan-pandangan yang saling melengkapi baik bersifat berlawanan atau mendukung sehingga terjadilah proses thesis-antithesis-sinthesis berkelanjutan.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan di bisnis managemen, konsultansi dan advisory puluhan perusahaan, ribuan jam pelatihan dan pengamatan perilaku organisasi maka penulis memberanikan diri memberikan prediksi.

Lantas apa jawabannya?
Lanjutkan membaca “Kapan pandemic di Indonesia ini berakhir?”

Bagaimana menilai Asset Maturity dan kapabilitas Asset Management perusahaan?

Ada pertanyaan menarik dari peserta saat memberikan pelatihan mengenai Smart Asset Management dalam bingkai dan Industri 4.0 beberapa waktu lalu.  Pertanyaannya adalah begini: Bagaimana menilai suatu pengelolaan / manajemen Asset dan apa saja yang mesti diperbaiki agar bisa mencapai model Smart Asset Management.

Sebuah pertanyaan menarik. Tentunya setelah mengetahu karakteristik model apa Smart Asset Management, perlu ada model lagi kita sudah di tingkat apa atau mencapai kelas apa dalam hal Manajemen Asset. Nah disinilah pentingnya memiliki standar Smart Asset Capability Maturity Model atau tingkat kematangan Manajemen Asset.

Lanjutkan membaca “Bagaimana menilai Asset Maturity dan kapabilitas Asset Management perusahaan?”

Menuju Smart Asset Management System – apa karakteristiknya

Dalam tulisan terdahulu ketika menangani pengelolaan aset kontraktor migas  dan juga memperhatikan aspek disruptive innovation pada industri migas  telah membawa penulis kepada suatu konsep, yang mungkin merupakan sinergi antara pengelolaan asset dengan penerapan industri 4.0 yaitu smart asset management system.

Pada dasarnya asset suatu organisasi bisa berupa asset fisik yang meliputi : kantor, peralatan mesin produksi / peralatan operasional, lokasi pabrik / pabrik fisik , serta asset non fisik yang berupa :  teknologi, informasi dan data,  merek, reputasi, yang mendukung proses bisnis dan ekspansi bisnis di masa depan.

Lanjutkan membaca “Menuju Smart Asset Management System – apa karakteristiknya”

Pengelolaan asset di kontraktor migas / industri migas seperti apa?

Migas IndonesiaSaat menangani konsultansi pada kontraktor migas/ KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), terkait pengelolaan asset tentunya memerlukan landasan dan referensi yang kuat terkait pengelolaan asset. Ini tidak bisa lepas dari skema bagi hasil yang diberikan. Skema bagi KKKS  migas di Indonesia saat ini bisa dibagi dua skema yaitu cost recovery dan gross split. Sederhananya skema cost recovery adalah semua biaya terkait perolehan migas akan diganti negara, selanjutnya hasil migas akan diberikan ke negara memiliki porsi lebih besar dengan kisaran pembagian 85% negara dan 15% kontraktor. Sedangkan skema gross split bahwa semua biaya terkait perolehan migas ditanggung semuanya oleh kontraktor, selanjutnya kontraktor mendapatkan bagi hasil yang lebih besar dari perolehan migas, skemanya bisa 57% bagi negara, dan 43% bagi kontraktor.

Pada skema cost recovery bagi kontraktor , maka pemerintah harus memberlakukan regulasi yang kuat, kontrol yang ketat serta berbagai aturan, pedoman maupun juklaknya.  Terkait itu, sudah ada badan bentukan Pemerintah yaitu SKK Migas sebagai Badan  Penyelenggaraan Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Boleh dikatakan, SKK migas memiliki kepentingan agar asset – asset yang digunakan KKKS bisa berdaya optimal dalam memberikan nilai perolehan migas sesuai dengan target lifting migas. Skema ini mengharuskan setiap investasi/pengeluaran dari kontraktor harus melalui persetujuan mekanisme anggaran yakni Work Planning & Budget serta otorisasi untuk pengeluarannya (Authorization for Expenditure). Sedikit berbeda dengan skema gross split, maka apapun pengeluaran dari kontraktor maka semuanya harus dihitung sendiri oleh Kontraktor agar biaya yang dikeluarkan masih masuk anggaran dan kontraktor masih mendapatkan keuntungan dari bagi hasil perolehan migas yang didapat.

Lanjutkan membaca “Pengelolaan asset di kontraktor migas / industri migas seperti apa?”

Apa saja disruptive innovation di sektor oil & gas industry?

Berbicara mengenai disruptive innovation, seringkali diskusi mencakup industry yang umum, start-up, technology based dan bersifat penghubung. Jarang berhubungan dengan segmentasi industri yang capital intensive, high risk industry atau proyek-proyek dengan expenditure yang besar. Nah, terkait topik diatas, mungkinkan terjadi disruptive innovation pada sektor migas (oil & gas industry)?

Dalam beberapa tahun terakhir ini, sebenarnya sudah ada disruptive pada industri oil dan gas. Memang melihat kondisi keadaan cadangan minyak dan gas di negeri ini, tampaknya sulit terhadap sektor ini. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Komersialisasi pada sumber minyak dan gas non-conventional seperti pada minyak dan gas serpih (oil and shale gas), telah menurunkan harga minyak dan gas sangat signifikan. Jika anda pernah mendengar tentang perusahaan Mitchell energy, maka boleh dikatakan perintis disruptive innovator khusus pada minyak dan gas serpih, dengan temuan formula fracking fluid, yang mampu meningkatkan produksi minyak/gas serpih mereka. Teknologi fracking yang ditemukan membuat eksplorasi dan eksploitasi minyak/gas serpih menjadi feasible saat ini.

Lanjutkan membaca “Apa saja disruptive innovation di sektor oil & gas industry?”

Menyusun Sistem Remunerasi yang selaras dengan Strategi Bisnis perusahaan (2)

Formulasi Remunerasi strategi sebagaimana dijelaskan sebelumnya pada tulisan awal ini , tergantung pada strategi bisnis dan pengaruh lainnya seperti peraturan dan regulasi, proses bisnis, struktur organisasi, budaya dan lainnya.

Dalam implementasinya, terkait formulasi sistem remunerasi dan kompensasi maka ada beberapa segmentasi yang perlu diperhatikan. Ada lima Segmen yang bisa menjadi perhatian, sebagai bagian penyusunan sistem remunerasi.

Lanjutkan membaca “Menyusun Sistem Remunerasi yang selaras dengan Strategi Bisnis perusahaan (2)”