ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials


Tinggalkan komentar

Menggapai pendidikan masa depan : Sebuah Cita-Cita

al-khawarizmiBerawal dari sebuah startup kecil yaitu lembaga pendidikan untuk pengembangan sains, teknologi, rekayasa, seni dan matematika maka sejak sekitar setahun lalu sudah berdiri  Lembaga Sekolah Robotika dan Otomasi. Sebagai awal dari perkembangan lebih lanjut agar pergerakan cepat dalam dunia bisnis, teknologi dan informasi  yang sudah tidak bisa lagi dihadapi dengan kompetensi masa lalu, namun harus melihat tantangan masa depan apa dan apa yang perlu dipenuhi untuk memenuhi tantangan tersebut.

Dalami upaya memberikan kontribusi yang lebih besar ke dunia pendidikan, pengajaran dan integrasi ke dalam dunia bisnis, maka didirikanlah yayasan untuk mengakomodir hal tersebut. Adapun yayasan ini bernama sama dengan blog ini, yaitu Yayasan Ilmu SDM dengan tag line, Rethinking Posibilities, Unleashing Human Potentials.

Baca lebih lanjut

Iklan


1 Komentar

Anak SD berkemampuan SMU/Sarjana..mengapa tidak?

Jpeg

Melihat foto diatas, jika dibilang bahwa dalam kompetisi Autonomous Race Robot ada anak SD bisa bersaing dengan anak SMU mungkin tidak percaya. Di foto tersebut, dari tinggi dan besarnya badan sudah terlihat bahwa ada anak setingkat SD yang bisa bersaing dengan anak SMU untuk pemrograman Robot. Ya memang, sebenarnya  perlombaan itu diperuntukkan bagi SMP dan SMU, namun karena sudah dibekali belajar programming maka tim anak SD bisa diikutsertakan.

Dalam perjalanan mengamati dunia pendidikan, penulis melihat ada beberapa orang yang mau ‘mendobrak’ sistem pendidikan yang ada. Daripada berkutat atau tetap memaksakan mengikuti kurikulum pendidikan yang sudah ditetapkan pemerintah  atau institusi tertentu, mereka bahkan mengambil aliran yang lebih ekstrim. Yaitu membuat sekolah atau pengajaran sendiri sesuai dengan visi misi mereka.

Baca lebih lanjut


1 Komentar

Ketika ide tulisan menjadi kenyataan…

Ideas Reality

Jika pembaca rajin melihat dan memperhatikan konten isi blog ini, maka isinya sudah mulai beragam. Di tahap awal-awal penulisan masih berkutat tentang SDM dan pengembangan organisasi. Selanjutnya mulai merambah ke arah bisnis, manajemen, dan strategis. Dan sekarang sudah mencakup hal di luar tersebut, dimana ada tulisan mengenai teknologi, informasi, riset, militer bahkan aspek hukum dan politik.

Melihat timeline tulisan, ada benang merah yang terhubung dari tulisan di blog ini. Penulis pernah membuat tulisan mengenai inovasi terbuka oleh Lego, yang membantu Lego bangkit dari kebangkrutan taktala berhadapan dengan console games di era 90 an. Pembentukan produk Lego Mindstorm ini, juga mengilhami penulisan mengenai aspek teknologi robotika yang terkait. Dimana ada kontes robot paling terkemuka di dunia DRC yang dipelopori oleh agensi pertahanan teknologi amerika yaitu DARPA.  Lantas ada juga tulisan tentang Google yang berniat masuk ke dunia otomasi dengan membeli peraih skor tertinggi DRP tahun sebelumnya yaitu tim SCHAFT termasuk perusahaan robot Boston Dynamics.

Baca lebih lanjut


2 Komentar

Apa kompetensi SDM Indonesia dalam menghadapi MEA 2015?

Studium Generale UnsoedKetika penulis menjadi pembicara utama dalam Studium Generale Universitas Jendral Soedirman, beberapa waktu lalu, ada pertanyaan muncul dari mahasiswa. Apakah yang harus disiapkan terutama ketika akan berbisnis di era Global maupun MEA   (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015?. Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik karena memang siap atau tidak siap tentu Indonesia sudah masuk ke dalam MEA.

Ada berbagai hal yang mesti menjadi perhatian utama dalam hal menghadapi Globallisasi dan MEA. Dalam pemaparan tersebut, penulis memberikan ilustrasi mengenai SWOT analysis kondisi Indonesia, mulai dari bonus demografi, penetrasi internet yang tumbuh signifikan, serta pertumbuhan GDP yang besar.

Baca lebih lanjut


1 Komentar

Apakah ada perbedaan gaji tingkat pendidikan Sarjana (S1), Magister/Master (S2) dengan Doktor (S3)?

AlmamaterKetika anda ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi, terutama bagi kalangan swasta mungkin ada yang beranggapan “ Buat apa sekolah lagi? Di swasta kan yang penting kemampuan dan kompetensinya yang dinilai?”. Kalau masih menerima anggapan demikian, sebaiknya diabaikan saja karena memang masih ada yang berpikiran sempit atau berada dalam lingkup ‘tempurung’, menganggap bahwa titel kependidikan tidak perlu – perlu amat, jauh lebih penting kompetensi.

Berbagai alasan dikemukakan, terutama pada seminar MLM, motivasi, kisah orang sukses baik dari lokal maupun internasional yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Kadang mereka membandingkan dengan salah tokoh yang tidak sarjana tapi bisa menjadi menteri, konglomerat yang tidak pernah menduduki SMP. Atau lebih ekstrim, membandingkan dengan Bill Gates yang tidak pernah lulus Sarjana, tapi bisa menjadi orang terkaya di dunia.

Baca lebih lanjut