Bagaimana menilai Asset Maturity dan kapabilitas Asset Management perusahaan?

Ada pertanyaan menarik dari peserta saat memberikan pelatihan mengenai Smart Asset Management dalam bingkai dan Industri 4.0 beberapa waktu lalu.  Pertanyaannya adalah begini: Bagaimana menilai suatu pengelolaan / manajemen Asset dan apa saja yang mesti diperbaiki agar bisa mencapai model Smart Asset Management.

Sebuah pertanyaan menarik. Tentunya setelah mengetahu karakteristik model apa Smart Asset Management, perlu ada model lagi kita sudah di tingkat apa atau mencapai kelas apa dalam hal Manajemen Asset. Nah disinilah pentingnya memiliki standar Smart Asset Capability Maturity Model atau tingkat kematangan Manajemen Asset.

Lanjutkan membaca “Bagaimana menilai Asset Maturity dan kapabilitas Asset Management perusahaan?”

Bagaimana disruptive innovation bekerja?

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, seringkali secara tidak langsung penulis membeberkan pengaruh dan faktor inovasi yang mengganggu. Bisa dilihat bagaimana Apple mendisrupt industri jam swiss, sehingga menimbulkan tekanan berat bagi industri jam tangan mekanik tradisional mereka. Belum lagi langkah Apple yang mau masuk ke industri otomotif. Tampaknya langkah-langah ini sudah dibaca oleh para disruptor otomotif sebelumnya seperti Tesla, mengakui rivalitas dengan Apple daripada Google Car/ Alphabet.

Mengapa siklus perubahan sedemikian cepatnya, apakah yang menjadikan perusahaan bisa lebih cepat berinovasi dan mengganggu industri mapan lainnya? Jawabannya justru ada di karakter atau langkah strategis perusahaan.

Lanjutkan membaca “Bagaimana disruptive innovation bekerja?”

Saat-saat menyatukan puzzle

puzzle-business

Saya suka memandang bisnis itu sebagai ekosistem. Memberi perumpamaan bahwa bisnis merupakan representasi dari perilaku hidup organisme adalah pandangan yang wajar. Tak heran Marco Iansiti dan Lavien dengan pendekatan ekosistem menyebutkan bahwa kita terikat secara alami satu sama lain, baik itu berupa produk, teknologi, pasar, jaringan dan inovasi. Sehingga meningkatkan kinerja hubungan keterikatan jaringan tersebut, akan membantu produktifitas sesama pelaku untuk berinovasi, beradaptasi dan berubah.

Dalam kisah lain, ketika bertemu dengan para eksekutif, maupun top / high level management, pandangan serupa juga dikemukakan mereka. Bahkan bagi mereka yang memiliki kekuatan dan informasi jaringan kuat, bisa memanfaatkan dengan penuh para pelaku-pelaku tersebut, menjadi connecting rod dan mampu menyatukannya, bagaikan sebuah puzzle. Hanya saja tidak semua orang tidak memiliki pandangan dan kemampuan itu. Contoh nyata tampak bagi pelaku industri yang bisa  berperan dalam ekosistem digital.

Lanjutkan membaca “Saat-saat menyatukan puzzle”

Seperti apa bentuk Organisasi Masa Depan?

the-future-brought-to-you-by-nasaPada sesi Sharing Organization Development yang akan penulis bawakan, maupun sesi pelatihan/konsultasi/ seminar tentang pembentukan Struktur Organisasi biasanya penulis berikan materi mengenai bentuk dan struktur organisasi masa depan. Model dan bentuk ini dibuat sebagai antisipasi pemenuhan kebutuhan organisasi di masa mendatang, yang tidak bisa dihadapi dengan model saat ini.

Dalam beberapa hal, seringkali penulis menekankan tentang pentingnya membangun struktur yang tidak hirarkis, atau jangan terlalu banyak layer. Anggaplah ada dua perusahaan dengan bisnis model dan produk/jasa sejenis. Perusahaan pertama memiliki rata-rata rentang kendali atau jumlah anak buah dengan atasan adalah 4, perusahaan kedua memiliki rentang kendali 8. Maka organisasi pertama dengan 7 layer, akan memiliki 4096 staff operasional di layer terbawah dan 1365 manajer, sedangkan organisasi dengan 4 layer hanya memiliki 4096 staff operasional dan 586 manajer! Besar sekali perbedaannya, padahal skala atau model bisnisnya sama.

Lanjutkan membaca “Seperti apa bentuk Organisasi Masa Depan?”

Inikah strategi quantum leap Intel?

sandy-bridge_ep_3_largeSetelah rivalitas yang tak kunjung berakhir antara Intel vs Arm dalam segmen mobile chip smartphone, tampaknya Intel di tahun 2016 dan setelahnya tidak lagi melanjutkan produksi chip smartphonenya. Terlebih paska pengumuman tidak diteruskan chip Broxton dan project SoFianya pada pertengahan tahun ini.

Apa penyebab Intel tidak melanjutkan project chip smartphone? Alasan utama adalah kapasitas dan profitabilitynya yang sangat ketat di mobile smartphone. Ini bukanlah berarti chipset Intel untuk smartphone buruk, bahkan memiliki keunggulan dengan inti sedikit (dua core), sanggup menggungguli ARM chipset dengan 8 core. Artinya arsitektur clovertrail sudah menyaingi dan mengungguli arsitektur ARM.

Lanjutkan membaca “Inikah strategi quantum leap Intel?”

Cara memilih gadget yang Value Added : menggunakan produktifitas rasio

fluid-phoneSetelah sekian lama, dan mendapatkan banyak masalah karena memang usia yang sudah tua, akhirnya penulis merelakan gadget HP yang sudah menemani sekian lama harus di ‘lem biru’. Lebih dari 6 tahun lalu, itu gadget masih layak disebut smartphone, sekarang mungkin sudah kurang smart lagi. Padahal penulis sudah memaksimalkan penggunaan gadget tersebut, baik untuk agenda/scheduler, online messenger, push-email, internet connection dan lainnya. Boleh dibilang, dengan segala fitur tersedia, kemampuan HP tersebut benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Pilihan tentunya berdasarkan rasionalitas, dengan keseimbangan antara fungsionalitas, estetika, harga dan tentunya daya tahan baterai. Dengan fokus penggunaan untuk aktifitas mobile, maka gadget HP itu, tentunya harus mampu bertahan lebih dari 1 hari. Karena itu, pilihan pertama tentunya kemampuan baterai jadi prioritas. Rasanya aneh, jika memiliki smartphone tapi masih membawa-bawa powerbank. Terus terang HP sebelumnya memiliki performa terbaik dalam baterai.

Lanjutkan membaca “Cara memilih gadget yang Value Added : menggunakan produktifitas rasio”