Percakapan Imajiner dengan Mbok Yu Nani, UMKM yang smart adaptive thinking

Bagaimana menghadapi situasi bisnis di tengah ketidakpastian pasar pada wabah pandemic corona virus ini?. Biar tidak pusing-pusing memikirkan asal muasal virus, konspirasi china vs amerika dll, lebih baik mendengarkan wawancara eksklusif imajiner dengan tokoh UMKM dibawah.

Tokoh inspiratif itu adalah Mbok Yu nani yang awalnya jualan pecel namun ketika dua bulan lalu si Mbok merasa jualan pecel tidak terlalu memberikan dampak luar biasa. Ternyata Mbok ini juga memantau perkembangan pasar maupun sosial media terkait jamu yang diserukan pemerintah bisa melawan virus. Sehingga  si Mbok pun banting stir dari jualan pecel menjadi penjual jamu.

Berikut petikan wawancaranya :

“ Mbok , koq  ganti jualan pecel ke jamu ?”

“Begini mas…saya membangun platform bisnis ini karena di sini market-nya memang ada dan belum terpenetrasi oleh jaringan pemodal besar dari kota. Bisnis ini ndhak semata-mata untuk meng- capture margin, tapi saya ingin platform  ini sebagai business anchor atau market maker di kampung ini. Saya  ingin keluar dari pasar yang sudah jenuh, stagnant menuju pasar baru yang belum digarap banyak orang…” jawab si Mbok. Wow…emejing sekali Mbok ini. Saya kira cuma orang kota saja yang mengerti business platform & ideas. Ternyata penetrasi teknologi dan internet yang sudah masuk ke kampung dan pedesaan, sudah membuat pelaku UMKM memiliki kompetensi menyesuaikan dalam ekosistem bisnis disini.

” Kan sekarang lagi wabah pandemic, virus corona, daya beli masyarakat turun, bagaimana bisa jualan ? ” tanya lagi. Lebih dalam dan menggali wawasan si Mbok.

“Menurut saya purchasing power masyarakat memang sedang turun, tapi kesadaran mereka untuk hidup sehat melebihi orang kota. Awareness to healthy-nya sangat tinggi, apalagi virus corona sudah masuk Indonesia dan menyebabkan pandemic . Mungkin pola konsumsi masyarakatnya saja yang akan berubah, seperti konsumsi rokok bakal dikurangi.  Perkiraan mbok sekitar kuartal Q1 – Q3  2020  ini ekonomi kita hanya akan tumbuh 2%, tapi usaha kesehatan jamu, herbal maupun medical market  tetap tumbuh signifikan, karena tidak semua orang bisa bayar medical cost yang tinggi di kampung ini…”

“ Ini usaha yang baik bagi orang-orang di sini, mbok ini cuma pemain niche player di tengah big market industri kesehatan..” Demikian Mbok Yu nani menjelaskan. Semakin menarik dan inspiratif ini jawaban si Mbok, sudah mampu menjalani  risk management. 😊

“Hebat mbok, terus bagaimana mensiasati nilai tukar yang sekarang (27 Maret 2020) sudah mendekati IDR 17ribu? Kan harga-harga bahan pada naik ?” tanya penulis kembali. Karena ini yang gonjang ganjing bikin industri megap-megap.

“Iya itu…mbok juga heran, kenapa sih impor banyak bahan -bahan untuk obat baik jamu atau lainnya. Sejak mbok jualan pecel selalu menanam sendiri sayuran di pekarangan mbok. Jadi tidak tergantung dari pasar. Mbok  hanya beli raw material yang tidak bisa ditanam sendiri, seperti garam, ya harus beli di pasar. Gak usalah beli-beli keluar kecuali memang gak bisa  tanam atau buat sendiri”

“Terus sekarang sudah ganti ke tanaman herbal seperti kunyit, temulawak, jahe, serai dll. Biar gak repot dan mbok bisa pantau pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena mbok kerja sendirian, maka mbok menerapkan  smart integrated farming dimana setiap cluster  tanaman herbal dipantau Ph, kelembaban, suhu dan chemical content melalui sensor IoT , agar diketahui secara real time  kebutuhan tiap tanaman..”

“Ini pakai apps mas, bisa dipantau via HP mbok, data informasi dari cluster tanaman langsung disimpan melalui cloud storage dan dianalisis, dimana hasil big data analytic  dari apps ini, langsung eksekusi secara autonomous via microcontroller pada pompa-pompa di petak cluster tanaman herbal apakah perlu tambahan air, perlu pupuk dst…”

“Karena semua  locally made maka harga jamu mbok bisa murah, dan tidak terpengaruh currency fluctuation seperti mas bilang…”

Demikian mbok Yu nani memperlihatkan HP miliknya, untuk memantau perkembangan tanaman herbal sebagai bahan baku jamunya. Wah, kirain cuma negara maju saja yang sudah industry 4.0, ini UMKM malah sudah implementasi dahulu.

Note : Ingin tahu solusi mitigasi resiko bagi organisasi/ bisnis saat krisis melanda ,  silakan  klik ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s