Disruptive Technology Innovation pada TV Industri dan Media

Saat ini kita menyaksikan, begitu cepatnya perubahan dalam tayangan media, pasar TV konvensional maupun video. Pasar TV dan video sangat dinamis dan ditandai oleh sejumlah besar penggerak: digitalisasi media, new TV-media market offering , dan gangguan oleh pemain digital memastikan perubahan yang cepat dalam industri ini. Bahkan bisa dikatakan telah membentuk ekosistem baru dalam media – new media ecosystem.

Adanya PHK stasiun TV dengan segmentasi khusus, Net TV (Agustus 2019) serta telah merebaknya layanan VoD (Video on Demand) oleh para media content aggregator semacam Netflix, Hulu, Amazon TV telah merubah wajah tayangan media TV. Netflix, yang didirkan pada tahun 1997 dengan hanya karyawan 20 orang, telah berkembang dari 33 juta pelanggan di tahun 2013, lima tahun berikutnya telah memiliki pelanggan sekitar 100 juta, dan akan menjadi 3 kali lipatnya di tahun 2020, menurut prediksi para analyst. Kini dianggap sebagai bentuk disruption innovative bagi TV industri konvensional.

Apa saja teknologi yang bisa menjadi penggerak bagi para disruptor bagi TV industry dan media saat ini? Berikut adalah hasil analisis.

Netflix Effect

Untuk TV broadcaster, bisa dibilang Netflix effect adalah sebuah sebuah ledakan inovasi yang mengejutkan. Layanan VoD sebenarnya sebuah ide lama yang selalu dibatasi oleh bandwidth. Tapi itu cerita 10-15 tahun lalu, ketika layanan 10 Mbps hanya bisa dinikmati pelanggan level corporate. Sekarang pelanggan residensial sudah biasa menikmati layanan 100 Mbps, 300 Mbps bahkan mendekati 1 GBps. Itu sudah sangat cukup untuk menikmati tayangan HDTV, 4K bahkan 8K.

Effek Netflix telah memunculkan banyak media aggregator serupa seperti Hulu, Amazon dan Asia lokal seperti iFlix, HOOQ, serta lokal Genflix, UseeTV .

FPGA

Mungkin hanya berupa 4 huruf saja. Namun inilah dibalik kesuksesan tayangan VoD via Internet. Field – Programmable Gate Array (FPGA) adalah sebuah IC (Integrated Circuit) digital yang sering digunakan untuk mengimplementasikan rangkaian digital. FPGA berbentuk komponen elektronika dan semikonduktor yang terdiri dari komponen gerbang terprogram (programmable logic) dan sambungan terprogram (interkoneksi). Adanya FPGA pada sebuah device , maka device tersebut memiliki kemampuan untuk menangani beban komputasi berat,  mampu menghilangkan tugas-tugas intensif dari Digital Signal Processing, serta kustomisasi arsitektur agar sesuai dengan algoritme ideal.

Intel  telah membeli Altera, salah satu dari dua pabrikan FPGA utama dengan harga USD 16,7 Miliar pada tahun 2015 lalu.  Akuisisi ini menginformasikan tentang pentingnya masa depan FPGA. Terlebih lagi, Microsoft menyatakan akan menggunakan lebih banyak fungsi FPGA untuk memberi daya pada perangkat AI- Artifical Intelligence berbasis cloud, daripada chip AI dengan arsitektur fixed. Mungkin perusahaan perangkat lunak berbasis di Seattle beralasan adalah  karena chip “tetap” sudah ketinggalan zaman, sedangkan FPGA dapat diprogram ulang dan dikonfigurasi ulang.

5 G –  6 G

Dalam tulisan ini mengenai lompatan kuantum dalam bisnis dan teknologi, sudah penulis sebutkan bahwa implementasi 4 G atau 4.5 G adalah teknologi tanggung. Sebaiknya Indonesia mengikuti langkah Turki yang memutuskan tidak menuju 4 G tapi melompat ke 5 G. Dengan 5 G  mampu memberi bandwidth kecepatan minimal 2 Gbps , dibandingkan  4G yang kecepatan puncaknya mencapai 300 Mbps . Namun pengalaman penulis, sulit mendapatkan kecepatan 300 Mbps dengan jaringan 4G sekarang.  Jauh lebih stabil dengan layanan internet FO (fiber optic).

Dengan kecepatan hingga dan lebih dari 1Gbit / s, layak untuk mengunggah video ke cloud  hanya dalam ukuran detik. Pada akhirnya penyimpanan dalam kamera, smartphone akan dianggap sebagai buffer semata.

Teknologi 5 G ini sudah dirilis tahun 2019. Di Korea sampai pertengahan Juni 2019 telah memiliki satu juta pelanggan 5 G.  Bahkan. teknologi manufaktur network seperti Samsung, Huawei  telah meriset 6 G yang bakal punya kecepatan 5-10 kali lipat daripada 5G.

Itulah beberapa perubahan teknologi besar yang akan menjadi pengganggu bagi TV industry, TV Broadcaster conventional. Kita akan menyaksikan tayangan media yang lebih custom, preference serta low cost content TV/Media production model dari para kreator individu atau community based akan lebih banyak tersedia dan memenuhi selera para pengguna. Mereka adalah para pengguna teknologi diatas .

Note : Ingin tahu solusi konsultansi disruptive paling tepat bagi bisnis dan organisasi anda,  silakan  klik ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s