ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials

Ketika manusia tidak lagi menggunakan bahan alami

1 Komentar

Three bottles of olive oil with two olives and spices on white background

Dahulu, ada produk perawatan rambut yang benar-benar menggunakan bahan alami. Ketika penulis menggunakan produk tersebut, oleh penemunya diklaim sama sekali tidak menggunakan bahan buatan sintesis maupun deterjen dari olahan petrochemical. Bahkan sipenemu produk tersebut mengatakan untuk menguji produk alaminya. Pengujiannya sederhana, yaitu ketika cobalah dirasakan atau dikecapi oleh lidah. Jika terasa pahit, maka itu bukan bahan alami.

Sayangnya produk tersebut, tampaknya setelah pergantian manajemen sudah tidak lagi mempertahankan citra ‘real nature’. Dari komposisi terakhir yang penulis lihat, sudah menggunakan bahan-bahan sintesis seperti : Sodium Lauril Sulfate yang sering disebut sebagai deterjen atau bahan pembersih, Ammonium Lauril Sulphate yang bisa memberikan efek busa bagi pembersih rambut serta bahan lainnya seperti pengawet Formaldehyde dll. Untuk mempertahankan kesan alami, diberikan extract bahan-bahan alam, namun tentunya sudah tidak seperti dulu. Yang mengagetkan, ketika produk itu dirasa lidah, terasa pahit sekali. Sehingga penulis yakin, bahwa sudah terjadi perubahan mutu kualitas produk tersebut.

Nah jika sudah demikian, bagaimana mengatasinya. Ya seperti judul diatas. Seharusnya kita kembali menggunakan bahan yang benar-benar alami, bukan bahan kimia sintetis yang bisa berbahaya bagi tubuh manusia. Ini bukan berarti penulis antipati pada bahan kimia sintetis, tapi bila itu digunakan untuk tubuh manusia atau makhluk hidup tentunya akan berbeda. Bahan-bahan pembersih/ surfaktan awalnya bukanlah untuk membersihkan tubuh manusia, tapi untuk membersihkan pakaian,  peralatan rumah tangga, perabotan, mesin-mesin dan lainnya.  Memang dengan kandungan dan kadar tertentu, bahan tersebut bisa digunakan untuk makhluk hidup. Namun tetap saja asalnya berbahaya. Pembuktian paling sederhana adalah dengan mencoba merasainya atau memakannya.

Padahal awalnya sabun atau pembersih tubuh manusia dibuat dari bahan alami. Sejak abad ke-7 M, umat Muslim telah mengembangkan sebuah gaya hidup higienis. Dikenalkan pertama kali oleh ilmuwan Muslim yang bernama Ar-Razi atau di Barat sebagai Razes. Sabun tersebut dibuat dari minyak sayuran, seperti minyak zaitun (olive oil) serta minyak aroma. Sejak dari dulu formula untuk pembuatan sabun berbahan alami tidak pernah berubah. Sabun yang dibuat umat Muslim di zaman kejayaan sudah menggunakan pewarna dan pewangi. Selain itu, ada sabun cair dan ada pula sabun batangan. Bahkan , pada masa itu sudah tercipta sabun khusus untuk mencukur kumis dan janggut. Masyarakat Barat, khususnya Eropa, diperkirakan baru mengenal pembuatan sabun pada abad ke-16 M. Karena penemuan sabun oleh ilmuwan muslim itulah, akhirnya masyarakat barat atau Eropa mengenal mandi dengan sabun.

Sayangnya sekarang di abad modern, sebagian besar bahan pembuat sabun atau pembersih untuk manusia sudah lebih banyak menggunakan bahan sintetis daripada bahan alaminya. Ini seperti pendekatan kapitalis dalam membangun suatu bangunan, yang tidak selaras dengan alam. Padahal jika manusia mau, bila menggunakan pendekatan biomimetik, maka banyak menyelesaikan masalah lingkungan akibat pembangunan manusia. Prinsip ekonomi mencari keuntungan sebesar-besarnya, dengan biaya serendah-rendahnya menjadi mantra era modern.

Karena itulah, sabun atau pembersih sintetis sekarang hampir tidak ada komposisi lemak alami (coconut oil, olive oil, palm oil) di dalamnya. Tapi mengandung bahan deterjen seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS), Sodium Laureth Sulfate (SLES), Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS), Alkyl Benzene Sulfonate (ABS),  juga mengandung senyawa pelimpah busa (Foam Booster) seperti Cocamide DEA, serta sering mengandung tambahan pewarna dan pengawet. Biasanya pengawet yang digunakan adalah EDTA. Sehingga sabun dapat bertahan bertahun-tahun. Sangat berbeda dengan sabun alami yang hanya awet dalam ukuran bulanan. Karena prinsip ekonomis dan kapitalis, penggunaan bahan alami dieliminasi, karena bisa menyebabkan ongkos produksi lebih mahal bagi kapitalis modern.

Apakah ada dampak berbahaya bagi tubuh manusia terhadap penggunaan bahan sintetis tersebut? Seperti sudah dijelaskan bahwa telah terjadi pergeseran dari awalnya yang menggunakan bahan alami tapi kini lebih banyak menggunakan bahan sintetis. Bahan-bahan kimia sintetis dapat saja berdampak negatif terhadap kulit. Bahkan Sodium Lauryl Sulfate (SLS), yang walaupun tidak bersifat karsinogen, tetapi membuat kulit menjadi sangat mudah menyerap bahan kimia lain yang terkandung pada sabun ke dalam darah. Akibatnya zat-zat kimia yang seharusnya tidak masuk dalam tubuh akan masuk ke dalam organ-organ penting seperti hati dan ginjal. Diduga, banyaknya penyakit ginjal maupun hati saat ini, akibat dari penggunaan bahan kimia.

Atas dasar itulah, penulis pun berupaya menggunakan produk-produk alami, yang sama sekali atau sedikit menggunakan bahan sintetis/kimia. Apa saja produk yang mulai dipakai? Nantikan dalam tulisan selanjutnya.

Iklan

Penulis: Tengku Shahindra

Strategic Business Advisor, Implementer, Consultant & Trainer dealing with Business Management, Business Performance, Organization Development & Human Capital Management

One thought on “Ketika manusia tidak lagi menggunakan bahan alami

  1. Ping-balik: Bahan alami yang seharusnya dipakai manusia: produk fermentasi susu kefir | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s