ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials

Saat-saat menyatukan puzzle

Tinggalkan komentar

puzzle-business

Saya suka memandang bisnis itu sebagai ekosistem. Memberi perumpamaan bahwa bisnis merupakan representasi dari perilaku hidup organisme adalah pandangan yang wajar. Tak heran Marco Iansiti dan Lavien dengan pendekatan ekosistem menyebutkan bahwa kita terikat secara alami satu sama lain, baik itu berupa produk, teknologi, pasar, jaringan dan inovasi. Sehingga meningkatkan kinerja hubungan keterikatan jaringan tersebut, akan membantu produktifitas sesama pelaku untuk berinovasi, beradaptasi dan berubah.

Dalam kisah lain, ketika bertemu dengan para eksekutif, maupun top / high level management, pandangan serupa juga dikemukakan mereka. Bahkan bagi mereka yang memiliki kekuatan dan informasi jaringan kuat, bisa memanfaatkan dengan penuh para pelaku-pelaku tersebut, menjadi connecting rod dan mampu menyatukannya, bagaikan sebuah puzzle. Hanya saja tidak semua orang tidak memiliki pandangan dan kemampuan itu. Contoh nyata tampak bagi pelaku industri yang bisa  berperan dalam ekosistem digital.

Bagaimana para pelaku itu disatukan?. Sederhananya adalah menghubungkan berbagai potensi yang ada dan dimiliki oleh pelaku. Penyedia jasa transportasi online misalnya, lebih tampak berperan sebagai hub antara pemilik dan penyedia melalui platform jaringan dan aplikasi yang dimiliki. Di era IoTInternet of Things ini, kemampuan menjadi hub yang efektif dan efisien, adalah upaya meningkatkan kinerja hubungan jaringan tersebut secara cepat, massif dan akurat.

Dalam bisnis konvensional, peran ini sering dinamakan broker atau agensi. Bahasa kerennya McLaren alias makelar atau perantara. Sesuatu yang dahulu berbau negatif karena sering dianggap mengambil keuntungan besar dari para pihak, tapi kini perantara sudah merupakan kekuatan tersendiri. Keberadaannya dengan efisiensi infrastruktur, jaringan yang makin cepat, membuat para perantara ini mampu menghadirkan kesatuan utuh antara para pihak berkepentingan.

Misalkan ada pihak A punya modal tidak punya lahan, B punya keahlian tapi tidak punya modal dan lahan, pihak C tidak punya modal tapi punya lahan. Ketiga pihak ini tidak akan bisa menghasilkan kolaborasi baik, tanpa pihak D yang mengenal ke 4 pihak tersebut, dan menghubungkannya secara efektif. Jadilah D sebagai perantara, karena keinginan dari A, B, C bisa bersanding. Maka puzzle A,B,C akan menjadi kesatuan yang dirangkai indah oleh D.

Apakah pihak D tidak mendapatkan keuntungan? Dengan menggunakan kekuatan infrastruktur teknologi saat ini, sudah tidak bisa dipandang remeh lagi. Dalam pengamatan penulis, sebuah perusahaan marketplace yang menghubungkan antara penjual, pembeli dan pengantar, mereka tidaklah mengambil keuntungan besar, hanya sekitar 1-2% dari transaksi. Tapi hendaknya jangan diremehkan. Ada pelaku yang tiga tahun lalu hanya memiliki transaksi 5 milyar, sekarang sudah mencapai 50 milyar per hari. Dalam perhitungan kasar, maka pendapatan marketplace  tersebut telah mencapai setengah trilyun per tahun.

Kini siapkah bisnis anda menjadi penyatu-penghubung-perantara tersebut?

Note : Untuk solusi tentang perubahan organisasi dalam transformasi digital, silakan   klik ini.

Iklan

Penulis: Tengku Shahindra

Strategic Business Advisor, Implementer, Consultant & Trainer dealing with Business Management, Business Performance, Organization Development & Human Capital Management

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s