Masalah Perkembangan Koperasi Secara Umum

problem-analysis-solutionDalam tulisan terdahulu mengenai koperasi, sudah diungkapkan mengenai sejarah, akar historis dan tujuan dibentuknya Koperasi. Tujuan koperasi memang mulia, yaitu diharapkan sebagai pilar, soko guru, penyangga dan tulang punggung ekonomi Indonesia. Yang dari sejak  tahun 1960an sudah didengungkan oleh bung Hatta.

Tapi, fakta berbicara berbeda. Andil Koperasi masih dibawah 2% dari PDB Indonesia. Belum ada Koperasi yang memiliki ratusan ribu atau jutaan anggota. Koperasi terbesar di Indonesia pun hanya memiliki ribuan anggota. Jika dibandingkan dengan koperasi di negeri tetangga, sangat jauh. Apalagi jika perbandingannya dengan koperasi dari luar negeri semacam Credit Agricole, Nong Hyup, Kaisar Permanente dll. Secara fakta dan kebijakan pemerintah, belum kelihatan keberpihakan kepada pengembangan Koperasi.

Baca lebih lanjut

Antara Koperasi dan Korporasi

allianceBerbicara mengenai koperasi, maka kita biasanya teringat tentang salah satu Proklamator Indonesia, Drs. Muh. Hatta, yang sering dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia. Di dalam konstitusi negeri ini, juga disebutkan dalam Pasal 33 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.” Menurut para ahli ekonomi, lembaga atau badan perekonomian yang paling cocok dengan maksud Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 adalah koperasi.

Sebuah tujuan yang mulia, sehingga Koperasi dianggap sebagai soko guru perekonomian negeri. Artinya, Koperasi berperan sebagai pilar atau ”penyangga utama” atau ”tulang punggung” perekonomian. Diharapkan menjadi  sebagai pilar utama dalam sistem perekonomian nasional, semenjak diresmikan tanggal 12 Juli 1960. Tapi bagaimana 50 tahun sesudahnya? Benarkah koperasi telah menjadi pilar utama ekonomi bangsa? Apa hasilnya jika dibandingkan dengan Korporasi?

Baca lebih lanjut

Saat-saat menyatukan puzzle

puzzle-business

Saya suka memandang bisnis itu sebagai ekosistem. Memberi perumpamaan bahwa bisnis merupakan representasi dari perilaku hidup organisme adalah pandangan yang wajar. Tak heran Marco Iansiti dan Lavien dengan pendekatan ekosistem menyebutkan bahwa kita terikat secara alami satu sama lain, baik itu berupa produk, teknologi, pasar, jaringan dan inovasi. Sehingga meningkatkan kinerja hubungan keterikatan jaringan tersebut, akan membantu produktifitas sesama pelaku untuk berinovasi, beradaptasi dan berubah.

Dalam kisah lain, ketika bertemu dengan para eksekutif, maupun top / high level management, pandangan serupa juga dikemukakan mereka. Bahkan bagi mereka yang memiliki kekuatan dan informasi jaringan kuat, bisa memanfaatkan dengan penuh para pelaku-pelaku tersebut, menjadi connecting rod dan mampu menyatukannya, bagaikan sebuah puzzle. Hanya saja tidak semua orang tidak memiliki pandangan dan kemampuan itu. Contoh nyata tampak bagi pelaku industri yang bisa  berperan dalam ekosistem digital.

Baca lebih lanjut