Benarkah Boikot Efektif?

sari-roti-dijual-di-pinggir-jalanAkhir-akhir ini, tampaknya aksi boikot yang dilancarkan umat terhadap produk Sari Roti telah menunjukkan dampaknya. Paska klarifikasi yang tidak pas terhadap Aksi Bela Islam nan damai, dan isinya lebih banyak memberikan pandangan negatif. Akibatnya tentu berbalik kepada si pembuat klarifikasi, dimana berlangsung aksi boikot. Bayangkan, sebuah hal yang awalnya dicitrakan positif oleh masyarakat, ketika dihadapi produsen secara negatif, maka berbalik lagi menjadi negatif.

Menilik sejarah boikot, sebenarnya sudah cukup lama. Kata boikot sendiri berasal dari nama Charles Boycott Cunningham, purnawirawan kapten Angkatan Darat Inggris. Boycott pernah bekerja sebagai agen tanah pada  Lord Erne seorang tuan tanah di Lough Mask daerah County Mayo, Irlandia , dimana  Boycott dikucilkan oleh masyarakat Irlandia  sebagai bagian dari kampanye hak-hak penyewa tanah (waktu itu kedudukan penyewa tanah Irlandia sangat lemah dibandingkan tuan tanah). Kampanye hak-hak penyewa tanah tersebut (1880) dikenal sebagai kampanye menuntut adanya: “sewa yang adil, kepastian waktu sewa, dan penjualan hasil secara bebas“ atau : “Three Fs” (fair rent, fixity of tenure, and free sale).

Untuk mendukung kampanye “Three Fs” tersebut  Liga Tanah Irlandia –  yang dipimpin oleh Charles Stewart Parnell dan Michael Davitt –  menarik tenaga kerja lokal yang diperlukan untuk menyimpan hasil panenan  perkebunan Lord Erne, dan kemudian  melakukan pula  isolasi terhadap kegiatan Boycott;  toko-toko, binatu, dan petugas pos di Ballinrobe (wilayah di dekat kebun Lord Erne) menolak untuk melayani-nya. Akibat aksi tersebut, kerajaan Inggris terpaksa mengrim lima puluh orang lebih, satu resimen tentara dan 1000 orang royal irlandia untuk melindungi para pemanen, setelah mendapatkan surat keluhan dari Boycott tentang perlakuan penduduk Irlandia. Perkiraan biaya tersebut mencapai lebih dari 10 ribu pounds. Jadilah nama aksi tersebut sebagai boycott.

Di India juga pernah terjadi boikot, yang dipimpin tokoh legendaris Mahatma Gandhi. Dengan memunculkan gerakan Satyagraha sebagai gerakan perlawanan rakyat sipil yang melakukan protes terhadap monopoli garam yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Inggris di India tahun 1930 an. Meskipun Gandhi ditangkap termasuk sejumlah pengikutnya, tapi gerakan tersebut tetap berlangsung, hingga India diberikan hak untuk menentukan nasib bangsanya sendiri.

Bagaimana dengan boikot kepada perusahaan swasta? Tahun 90 an pernah terjadi boikot kepada perusahaan multinasional besar yaitu Nike. Boikot digerakkan oleh LSM Oxfam karena melihat praktek kerja di pabrik pembuatan sepatu , baju dan utilitas olahraga, yang mempekerjakan buruh anak berusia 10 tahun. Kejadian ini terjadi di negara seperti Pakistan dan Kambodja. Kampanye massif tersebut ternyata membuahkan hasil, dimana konsumen mulai menghentikan pembelian produk sepatu dan apparel olahraga Nike. Akibatnya penjualan menurun tajam, dan Nike harus segera mengambil tindakan.

Nike berusaha memperbaiki opini publik dengan mengakui kesalahan tersebut. Dari pernyataan resmi perusahaan, menyebutkan tentang issu standar tempat kerja, maka isu buruh anak yang paling sering muncul. Standar kerja menurut Nike cukup tinggi yaitu 18 tahun untuk manufaktur sepatu dan 16 tahun untuk apparel. Namun di beberapa negara seperti Bangladesh, Kambodja, Pakistan standar ini sangat sulit diterapkan, ketika catatan kelahiran tidak ada ataupun mudah dipalsukan. Inilah yang jadi permasalahan utama manufaktur Nike di negara tersebut.

Untuk meminimalkan dampak, Nike melakukan pengujian terhadap ribuan tenaga kerja manufaktur kontraktornya di negara-negara tersebut. Nike juga melakukan aturan jika ditemukan pekerja anak di manufaktur, maka harus dikeluarkan dari pabrik dengan membayar upahnya, memberikan pendidikan selanjutnya boleh mempekerjakan kembali setelah cukup umur.

Bisa dilihat, sekarang perusahan sekelas Nike sangat proaktif. Melalui rantai pasokan yang begitu luas, berusaha menjadikan sebagai perusahaan berkelanjutan yang bertanggungjawab (corporate brand responsbility and sustainability leader). Langkah ini dilakukan melalui :

  1. Komitmen manajemen terhadap keberlangsungan bisnis,
  2. Sensitifitas terhadap bahasa, budaya dan masyarakat setempat
  3. Inovasi pada lingkungan,
  4. Peningkatan kualitas melalui rantai pasokan yang hijau dan alamiah (greening supply chain),
  5. Responsif terhadap problema sosial melalui pengikatan stakeholder.

Tampaknya kasus Sari Roti kurang memberikan dalam hal aspek nomor 1 dan 2. Padahal rekomendasi aksi solusi sudah diberikan pada tulisan sebelumnya.

Referensi :

Commondreams. We Blew It. Dikutip dari laman http://www.commondreams.org/headlines01/1020-01.htm

Sustanability Brand. Dikutip dari laman http://www.sustainablebrands.com/news_and_views/supply_chain/swoosh-and-sustainability-nikes-emergence-global-sustainable-brand

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s