Pemimpin yang kehilangan legitimasinya

family-democracyDalam sesi konsultasi dan pelatihan mengenai pembentukan struktur organisasi pada anak perusahaan BUMN bidang pembiayaan beberapa waktu lalu, penulis memberikan analogi mengenai tipologi organisasi. Ada organisasi yang bersifat formal dan informal. Pemimpin formal lahir dari dalam bentuk struktur dan pengangkatan resmi. Sedangkan yang informal muncul karena interaksi sosial, psikologis dan kebutuhan yang bersifat emosional dan sosial. Dalam organisasi yang maju, baiknya pemimpin formal juga merupakan pemimpin informal. Inilah pemimpin yang dikagumi, baik di ‘dalam’ organisasi maupun di ‘luar’ organisasi.

Melihat kenyataan paska demo besar 411 (4 november 2016) lalu, penulis melihat ternyata tipologi ini tidak hanya muncul organisasi perusahaan tapi juga nampak pada organisasi pemerintahan atau negara. Kehadiran lebih dari 2 juta massa yang turun di jakarta, dari berbagai daerah telah menunjukkan siapa yang menjadi pemimpin informal negeri ini. Bahkan keinginan rakyat yang ingin menemui presiden, namun tidak bisa ditemui presiden karena beralasan akses sulit telah menjadi cibiran di dunia maya, dengan membandingkannya pada seleb/sosialita. Padahal sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan memiliki keistimewaan khusus jika ingin bepergian kemanapun.

hindari-macetKenyataan diatas tentu menyebabkan masyarakat bertanya. Mengapa presiden sendiri tidak mau menemui rakyatnya? Takutkah? Atau merasa tidak ada perlindungan? . Dalam kacamata persepsi publik,  ketidakhadiran presiden dengan dalih akses sulit malah menjadi olok-olokan, semakin tidak dipercaya. Sayang sekali, peristiwa diatas sebenarnya merupakan kesempatan besar untuk membuktikan bahwa pemimpin memiliki dukungan secara moril dari masyarakat yang ingin menemui, justru malah menjauh.

Sebaliknya tokoh pergerakan aksi massa tersebut, Habib Rizieq Shihab berhasil merebut simpati, hati dan dukungan masyarakat. Dengan berada di barisan depan massa, tidak mundur meskipun mendapat serangan gas air mata dari pasukan polisi ketika terjadi pembubaran paksa, membuatnya menjadi sosok pemimpin yang mendapat legitimasi dari masyarakat Beliaulah sebenarnya yang kini menjadi pemimpin informal bagi masyarakat negeri ini. Karena selain ucapannya, tindakannya diikuti oleh sekitar 2 juta massa yang sama sekali tidak berbuat anarkis, kegaduhan maupun hal merusak lainnya. Meskipun ada oknum-oknum kecil, tapi ternyata dari pantauan media sosial, mereka adalah penyusup atau provokator yang ingin merusak aksi damai tersebut.

Dengan kemampuannya merangkul berbagai tokoh masyarakat yang formal dan informal, maka Habib Rizieq mampu menjalankan kepemimpinannya secara efektif. Bahkan tidak hanya dari kalangan tokoh islam, turut serta tokoh Tionghoa dalam aksi demo tersebut. Sehingga boleh dibilang beliau telah mampu menyatukan antara suara hati masyarakat, aspirasi dengan langkah dan tindakannya.

Rasanya, buat beliau tampaknya mudah saja untuk mengajak atau menggerakkan masyarkat dalam jumlah lebih besar. Memang dalam iklim demokrasi, sulit mendapatkan yang pemimpin berkualitas. Dampaknya adalah pemimpin formal sekarang semakin kehilangan legitimasi dan dukungan dari masyarakat. Ciri-ciri dari kehilangan legitimasi adalah tidak takutnya rakyat / warga terhadap pemimpin tersebut, tidak patuh terhadap perintah, serta ucapannya semakin tidak dipercaya.

Kini kita bisa melihat, siapa pemimpin sebenarnya yang mampu merebut hati, semangat, dukungan, kepercayaan dan aspirasi rakyat.

Satu pemikiran pada “Pemimpin yang kehilangan legitimasinya

  1. Ping balik: Sepenggal kisah dan liputan Aksi Bela Islam III 2 12 | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s