Inovasi yang digagalkan politik+kekuasaan

lahirnya-pesawat-nasional-n-250-gatot-kacaKetika beberapa waktu lalu penulis akan memberikan pelatihan asset management untuk salah satu anak perusahaan BUMN, dimana akan diberangkatkan naik pesawat berikutnya setelah tiba di Balikpapan. Tentunya pesawat yang lebih kecil, karena hanya berjarak sekitar 250 km, yang kalau ditempuh via darat akan memerlukan waktu 5-6 jam, tergantung kondisi. Pesawat yang akan ditumpangi adalah bukan pesawat jet.

Pesawat tersebut adalah jenis turboprop, type ATR 42-500. Memiliki kapasitas penumpang sekitar 50. Melihat bentuk pesawat tersebut, mengingatkan pada pesawat disain asli IPTN (sekarang PT DI) yang bernama N-250, dimana N adalah singkatan dari Nusantara.

Pesawat buatan IPTN telah uji terbang perdana pada tahun 1995, dan sudah ada 2 prototype yang dibuat. Sayangnya karena krisis tahun 1998 maka alih-alih untuk segera memproduksi pesawat tersebut , malah dibatalkan karena Indonesia harus meminjam dari IMF, dimana program IMF hanya bisa diikuti jika subsidi terhadap IPTN dihapus. Inilah sejarah terburuk dari inovasi dan teknologi yang dikembangkan secara lokal oleh bangsa sendiri.

Penulis melihat bahwa cita-cita dan gagasan pembuatan N-250 sangat brilyan dan jenius. Tampaknya pendiri IPTN, BJ Habibie sudah memiliki visi bahwa nantinya jenis pesawat tersebut akan merajai pangsa pasar pesawat propeller/baling-baling di asia. Ketika N-250 diluncurkan, belum ada pesawat ATR yang mampu menyamai kemampuan tersebut. Spesifikasi pesawat N-250 adalah bermesin twin turboprop, 50 seat, fly by wire, paling lebar dan cepat di kelasnya, serta sederet keunggulan performa seperti hemat bahan bakar. N-250 ditargetkan untuk menjadi yang terbaik di kelasnya, mampu memenangkan persaingan pasar lokal maupun global.

Begitu N-250 sukses terbang perdana 10 Agustus 1995, ternyata memiliki pengaruh pada perusahaan pesaing. Saham salah satu pesaingnya Fokker mulai anjlok, dan perusahaan ini akhirnya tutup dengan menjual sahamnya 2 tahun kemudian. (Note: Fokker, didirikan Anthony Fokker pemuda Belanda kelahiran Blitar Jawa Timur, sebetulnya pembuat pesawat turboprop dan jet terkenal seperti Fokker-27, Fokker-28, Fokker-50, dan Fokker-100). Sukses penerbangan N-250, maka IPTN pun segera mau melakukan proyek prestisus berikutnya. Pesawat penumpang bermesin jet Jet N-2130

Ada kisah ketika pesawat N-250 melakukan manuver. Saat bermanuver di atas bandara Husein Bandung pesawat sering terbang rendah dan melakukan manuver tajam dengan sudut kemiringan membelok hampir 90 derajat. Kemampuan ini mendekati pesawat kelas militer, karena pesawat militer lebih fokus pada ketangguhannya, sedangkan pesawat sipil adalah keselamatan dan efisiensi bahan bakar. Luar biasa.

Setelah program N-250 berhenti, perusahaan manufaktur pesawat lain seperti ATR dan Xian Aircraft (China) dengan model MA-60 berupaya memperbaiki performa pesawatnya. ATR kini meluncurkan produk pesawat berpenumpang 50 seat, dengan perbaikan yang signifikan melalui  beberapa variannya (ATR42-400, ATR42-500, ATR42-600). Dari tipe tersebut saja,  mereka sudah menjual lebih dari 600 pesawat sejenis, dan 50% pesawat ATR ada di Asia, yang seharusnya menjadi ‘lahan’ dari N-250. ATR, pabrikan italia dan perancis ini kini sudah menjual lebih dari 1200 pesawat ke seluruh dunia sejak didirikan tahun 1981. PT DI (Dirgantara Indonesia, aka: IPTN) sampai berita ini ditulis, baru sekitar 134 pesawat telah dikirim. Padahal sudah berdiri sejak tahun 1976. Produktifitas ATR adalah 34 pesawat setahun, sedangkan PT DI hanya mampu menjual 3 pesawat per tahun. Sangat jauh sekali.

Apa penyebab kegagalan produksi N-250 yang berhasil terbang perdana di tahun 1995?. Pertama tentunya adalah politik dan kekuasaan dimana Indonesia saat itu ‘dibawah’ ketiak IMF yang harus menjalani pemotongan subsidi, sehingga program N-250 terpaksa diberangus. Tidak menutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan karena pihak luar tidak ingin pangsa pasar industri pesawat nya (negara barat/eropa) anjlok karena dikalahkan oleh inovasi dari IPTN. Inilah faktor politik dan kekuasaan yang menggagalkan produk inovatif. Seharusnya pemerintah tetap memberikan subsidi dan bantuan kepada IPTN, agar bisa merealisasikan produknya. Mirip seperti yang dilakukan pemerintah China kepada Huawei.  Kini lahan tersebut sudah diambil alih oleh ATR. Jika program lanjut, bisa dipastikan IPTN /PT DI sudah mendapatkan order minimal 200 unit pesawat sekelas N-250.

n219_roadmap_pustekbang_2_1024_768Faktor berikutnya adalah ketidakfokusan. Setelah meluncur dan terbang perdana di tahun 1995, seharusnya N-250 segera mendapatkan sertifikasi dari FAA agar 1-2 tahun berikutnya sudah bisa produksi. Sayangnya malah tidak fokus dan bernafsu ingin mengembangkan N-2130. Ketidakfokusan pada produksi N-250 dengan mesin turboprop mengakibatkan saat terjadi krisis, akhirnya program tersebut tidak jalan. Kedua-duanya boleh dibilang gagal. Apa jadinya jika IPTN fokus pada pengembangan, pemasaran dan produksi N-250 saja saat itu? Maka kemungkinan besar paling lambat di tahun 1997 sudah ada order pesawat N-250, sehingga ketika krisis pun proyek ini sudah mendapatkan pesanan. Tidak perlu lagi mendapatkan subsidi pemerintah untuk program tersebut.

Kita tentu tidak ingin mengulang kesalahan sama akibat ‘salah urus’ atau memang ‘gak bisa urus’ di negeri ini. Kasus korupsi yang tidak relevan dan inovator yang dibredel karena izin atau ketidaklengkapan aturan, seharusnya tidak menghambat. Sayangnya karena kejadian diatas, malah menyebabkan salah satu manufaktur CNC, mesin CAD-CAM asli indonesia yang didirikan oleh Dasep Ahmadi dan klinik kanker Dr Warsito akhirnya malah tidak beroperasi lagi alias tutup.

Kini PT DI tampaknya tidak mau mengulang kesalahan serupa. Program riset bersama Lapan setelah berhasil meluncurkan pesawat kecil N-219 semoga bisa berjalan lancar. Tidak apa mundur 2-3 langkah ke belakang, untuk bisa maju 5-10 langkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s