Pekerja informal dengan gaji diatas UMR

warung-mie-instan-2Sehabis bermain bulutangkis dengan rekan-rekan kantor terdahulu, penulis menyempatkan mampir ke warung mie instan pinggir jalan. Istilahnya lebih tepat warung serbaneka, karena selain menjual mie instan, juga menjual bubur ayam, kacang ijo, roti bakar juga minuman kopi, es teh, susu dan lainnya. Penulis lihat warung ini cukup banyak bertebaran baik di areal strategis atau pinggir jalan raya. Bahkan di beberapa tempat beroperasi 24 jam, tidak kalah dengan waralaba asing.

Yah, setelah bermain biasanya cukup lapar. Maka semangkuk mie instan atau bubur kacang ijo cukup memberi ekstra tambahan. Melihat banyaknya warung sejenis, pastilah keuntungan dari bisnis ini cukup baik. Hasil bincang-bincang dengan penjaga warung ini cukup mengagetkan perihal bisnis ini.

Ternyata beliau bukanlah pemilik sebenarnya. Yang punya warung menurut beliau adalah seorang haji, dan punya puluhan warung sejenis. Menurutnya ada sekitar 50 an warung mie instan yang dia miliki. Wah banyak juga ya?

Setiap warung, biasanya dijaga 2 sampai 3 orang karena beroperasi hampir 24 jam. Ada insentif tertentu selain pendapatan tetap, terutama dari penjualan. Sebagai contoh, ketika membeli mie instan, harga jualnya per porsi adalah IDR 9000 (harga oktober 2016). Harga pokok penjualan berdasarkan perhitungan penulis :

  • Mie instan                   : 1500
  • Sayur Sawi/saus     : 500
  • Gas/minyak                 : 500
  • Telur                                 : 2000

Total HPP adalah IDR 4500, maka GP nya adalah IDR 9000 – IDR 4500 = IDR 4500. Lumayan. Jika sehari menjual anggaplah 30 porsi saja, itu sudah mendapatkan keuntungan kotor dari mie instan sekitar 135 ribu per hari. Belum termasuk penjualan dari makanan lain seperti bubur ayam, bubur kacang ijo, roti bakar dan minuman kopi, teh, susu, jeruk yang bisa dijual seharga IDR 5000 sd/ 10.000 dengan HPP sekitar 1500 – s/d 3000 rupiah. Maka menurut perhitungan matematis kelayakan studi, bisnis ini adalah sangat feasible . Tampaknya bagi pemilik mendapatkan keuntungan bersih sekitar rata-rata 300 s/d 400 ribu rupiah adalah sangat memungkinkan. Omzet total rata-rata sekitar 500-700 ribu per hari.

Nah, dari perbincangan denga penjaga warung, ternyata menerapkan sistem bagi hasil untuk karyawannya. Pintar juga si pemilik, agar penjaga menjadi loyal dan betah. Mereka sebagai penjaga bisa mendapatkan insentif antara 50 ribu s/d 100 ribu rupiah per hari yang besarnya tergantung jumlah penjualan. Wah, cukup besar. Bila bekerja sebulan , maka bisa mendapatkan penghasilan sampai dengan 3 juta rupiah maksimal.  Belum termasuk upah tetapnya.

Hanya saja, mereka tidak hanya menjaga warung tapi juga menyiapkan masakan, menggoreng, memanaskan air dan pekerjaan lainnya. Namun, dengan hasil seperti itu, pekerja di warung tersebut sebenarnya sudah lebih tinggi daripada rata-rata UMR pekerja di pabrik.

Pantas saja, pak haji bisa memiliki 50 warung sejenis di jakarta, depok dan bekasi karena potensi bisnis yang menguntungkan. Bisa puluhan juta keuntungan bersih diraup dalam sebulan. Bahkan kini sudah ada waralaba/franchise nya. Tentu kalau yang sudah waralaba, harganya lebih mahal dibandingkan yang masih tradisional.

Manufaktur besar mie instan pun memberi insentif kepada pemilik / warung /waralaba tersebut baik berupa mudik gratis maupun insentif penjualan lainnya asalkan menjual produk mie instan mereka. Mereka sudah tahu bahwa pembelian besar/ end user ada di warung-warung tersebut.

Nah…siapa bilang pekerja informal dibawah UMR pendapatannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s