Menjemput keberkahan dalam mencari rezeki

berkah-rezekiDalam perjalanan pulang sehabis dari klien, seperti biasa penulis menggunakan transportasi online. Namun setelah tahu besaran biaya yang dikeluarkan dari beberapa provider, ternyata tidak selalu lebih murah. Karena sudah tahu kisaran biaya dari bandara ke rumah, maka menyetop taksi konvensional menjadi pilihan.

Entah mengapa seringkali ketika menjadi penumpang taksi, sang pengemudi taksi adalah orang yang berumur. Dan rasanya tidak enak jika jadi penumpang tidak mengobrol-obrol. Biasanya, orang yang lebih tua punya pengalaman dibandingkan yang masih muda seperti penulis ini..ehem..:-).

Singkat cerita, terjadi obrolan dengan pengemudi, katakanlah bapak R. Tentunya dengan sedikit modifikasi tanpa mengubah tujuan dan maknanya.

“ Sudah lama mengemudikan taksi ini pak?” kata penulis membuka pembicaraan.

“ Iya mas..sejak bandara ini dibuka untuk umum..”katanya menjawab.” Dulu sewaktu masih sedikit, wah penghasilannya besar sekali mas. Tapi sekarang sudah banyak dibuka kendaraan baru dan juga lowongan pengemudi baru, maka tidak lagi seperti dulu…”

“Oh begitu ya pak.., berarti sebelumnya pernah bekerja di tempat lain?”

“Betul mas..wah kalau cerita masa dulu..mas mungkin heran. Saya sempat bekerja di bagian logistik, forwarder yang biasa mengurus ijin impor barang..jadi main-main di pelabuhan mas..”

Menarik juga pembicaraan ini. Karena ingin tahu lebih lanjut, apalagi sepertinya bapak R ini suka bercerita maka tentu layak dilanjutkan obrolannya.

“Dulu mas..saya memiliki banyak rumah dan mobil..” katanya menyambung cerita. “ Tapi itu semua sekarang sudah banyak tidak bersisa..karena pekerjaan saya seringkali melabrak aturan-aturan dan norma etika pekerjaan…istilah sekarang, banyak suap-menyuap lah..” lanjutnya.

“Oh ya? Berarti besar sekali penghasilan bapak waktu itu?”

Dia hanya tersenyum.” Ya begitulah..saya banyak dapat duit, karena paham sekali bagaimana aturan ijin keluar barang di pelabuhan waktu itu. Saya kenal banyak orang di Bea Cukai, Pabean, Petugas pelabuhan..semuanya mesti dilayani dan diberi karena memang waktu itu perijinan masih bersifat manual dan hubungan antar orang sangat intens”.

“Bagaimana caranya bermain pak?” penulis jadi tertarik bertanya, karena setahu penulis untuk saat ini agak sulit, karena sudah pemberlakuan data digital / EDI (Electronic Data Interchange).

“Iya mas…kami biasa bermain dengan mengubah atau mengganti nilai dokumen seperti Invoice dan lainnya. Jadi tidak sesuai antara aktual dan dokumen. Namun kami juga memberi kepada pihak-pihak yang terlibat sehingga ya semua kebagian.. toh yang importir sudah mengkalkulasi nilai tersebut, sehingga masih untung..”

“Tapi akibatnya bagi saya gak baik mas..Keluarga saya jadi hancur, saya cerai dengan istri pertama gara-gara hal ini. Saya biasa keluar masuk klub malam, diskotek dan lain-lain. Tampaknya memang benar pepatah dulu. Uang setan dimakan hantu..” demikian si bapak menjelaskan kisahnya.

“Dan sekarang..semua teman-teman saya yang dulu ikut bermain, sudah sakit-sakitan. Memang mereka mendapat harta melimpah. Tapi karena diperoleh melalui jalan yang gak benar, ya pas sudah tua ini mereka mendapatkan sakitnya. Ada yang cuci darah terus, ada yang kena stroke dan lain-lainnya…”

Wow..ternyata dari kisah si bapak, terlihat bahwa beliau dulu pernah menikmati hidup yang berkecukupan. Tapi karena melalui jalan yang salah sepertinya tidak membawa berkah bagi hidupnya. Mulai dari keluarga yang banyak sakit, bercerai bahkan sampai sakit-sakitan.

“Sudah tak terhitung mas uang yang keluar untuk biaya pengobatan saya. Harta saya habis begitu saja..sampai akhirnya saya tobat dari pekerjaan tersebut, mencari pekerjaan yang halal dengan mengemudikan taksi ini..” si bapak menjelaskan lagi, ” Akhirnya saya menikah lagi..dan istri saya sekarang tidak seperti dulu, lebih bisa menerima saya dengan keadaan ini..”

Mirip dengan kisah sebelumnya tentang yang sedikit belum tentu kurang,  yang besar belum tentu cukup. Cerita dari si sopir taksi telah memberikan ilustrasi, bahwa tidak selamanya penghasilan yang besar memberikan keberkahan. Bahkan malah membawa malapetaka. Yang terpenting adalah penghasilan bersih dan halal. Karena disitulah letak barakah dalam mencari rezeki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s