Ada orang yang selalu beruntung dan selalu sial, kenapa?

Gladstone GanderAda iklan sebuah produk makanan yang cukup menggelitik, tertulis : “ Orang bejo lebih beruntung daripada orang pintar”. Jadi menarik, karena kata ‘bejo’ dalam bahasa jawa memang artinya untung. Seolah-olah menggabarkan, bagaimanapun pintar atau cerdasnya seseorang, tetap saja orang bejo (“beruntung”) akan lebih sukses dan mendapatkan manfaat / benefit lebih besar daripada orang pintar. Bahkan pada cerita fiksi walt disney dikisahkan tentang tokoh yang selalu beruntung hidupnya.

Karena itu, dalam beberapa sesi pelatihan motivasi, sering penulis memberikan serangkaian tes sederhana, mengenai mengapa ada orang yang tetap beruntung atau malah jadi apes setelah mengalami serangkaian hal. Kebanyakan, sedikit yang berhasil melewati tes. Dari seratus orang, tidak sampai 5% yang berhasil melewati test.

Dari beberapa orang atau teman, mereka juga sering meneritakan pengalaman bahwa ada orang-orang tertentu yang sering mendapatkan hadiah ketika diberikan doorprize atau undian berhadiah, baik pada acara kantor atau acara lainnya. Apakah ini karena faktor keberuntungan semata atau apakah ada faktor lainnya. Ternyata fenomena ini telah membawa sebuah riset tentang faktor keberuntungan oleh Dr Richard Wiseman.

Menurut Wiseman, keberuntungan bukanlah semata-mata faktor genetik/bawaan/bakat beruntung, seperti yang diduga kebanyakan orang. Tapi lebih dikarenakan karena faktor perilaku atau sikap kita saat melihat sesuatu. Dari studi terhadap sekitar 700 orang yang merasa dirinya beruntung atau apes/sial, ternyata ada temuan menarik dari kajian dan wawancara terhadap orang tersebut. Ini contoh dua kisahnya :

Kisah Sial. Sebut saja namanya Susan, pernah mengalami jatuh dan patah lengannya. Segera setelah dia patah kaki, dia kembali kecelakaan menabrak pada tes mengemudi dan selanjutnya mendapat delapan kecelakaan mobil dalam perjalanan sejauh 80 km.

Kisah Beruntung. Lee selamat dari kejatuhan paku bajak yang mematikan ketika tautan stainless steel antara traktor dan bajak pecah, sehingga dia tidak tertusuk sampai luka parah.

Dari studi  Wiseman, ditemukan faktor yang membedakan antara yang beruntung dan sial atau apes tersebut. Faktor pertama adalah orang yang beruntung/selamat adalah lebih terbuka terhadap peluang, pandai menciptakan peluang dan juga bertindak ketika ada peluang datang. Faktor berikutnya adalah orang beruntung biasa membuat keputusan yang baik tanpa mengetahui kenapa. Mereka juga selalu mengharapkan keberuntungan, dan terakhir bisa mengubah sesuatu kejadian yang mungkin dianggap sebagai kerugian tapi oleh mereka bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat..

Ada benang merah yang menarik dari penelitian Wiseman dengan Rosenthal Effect yang biasa disebut Pygmalion. Keduanya bersumber dari keyakinan akan sukses atau cara pandang positif. Bahkan kisah penulis saat minta jemputan taksi merupakan bukti empirik mengapa sikap dan pandangan positif kita bisa mempengaruhi rezeki yang diterima..

So, mulailah berpikir positif. Sesungguhnya sang Maha Pencipta itu mengikuti persangkaan dari manusia atau hambaNya. Serupa dengan tagline iklan di awal paragraph tulisan ini.

Note : ingin tahu lebih lanjut tenng motivasi positive thinking ? klik ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s