Paradoks kepemilikan, mengapa memiliki sesuatu tidak selalu membuat bahagia?

Stairs to wealth

Apakah dengan memiliki sesuatu, entah itu berupa rumah, mobil, apartemen, villa, gadget elektronik akan memberikan kepuasan atau kebahagiaan?. Bicara mengenai kepemilikan atau memperoleh suatu benda/material fisik ternyata tidak serta merta membuat orang menjadi puas, senang atau bahagia. Seperti paradoks, karena kesenangan memiliki benda tersebut menjadi sesuatu yang lumrah dikejar manusia.

Thomas Gilovich, profesor psikolog dari Cornell University berdasarkan riset selama 20 tahun memberikan saran yang ekstrim. Jangan buang uang anda untuk membeli sesuatu benda ! Beliau menemukan dengan memiliki benda atau sesuatu, ternyata kesenangan atau rasa bahagia itu dengan cepat menghilang. Wah koq bisa?

Dari riset yang dilakukan Gilovich, terhadap 96 partisipan ,memberikan data bahwa ketika orang membeli barang/benda atau sesuatu, ternyata dengan cepat beradaptasi dan terbiasa. Kesenangan di awal kepemilikan segera sirna karena sudah tidak baru lagi. Artinya tidak ada pengalaman baru setelah memiliki barang/benda itu. Partisipan yang diriset juga memberikan informasi bahwa setelah membeli benda tersebut, ada keinginan untuk membeli yang lebih baik lagi, sehingga menjadi lingkaran terus-menerus untuk membeli benda. Namun secepat itu pula sirna kesenangan atau rasa bahagia setelah memiliki benda tersebut. Kepemilikan, alaminya selalu mendorong perbandingan. Ketika anda membeli mobil baru, katakanlah, anda akan senang dengan mobil tersebut – sampai teman/rekan/tetangga anda membeli mobil jenis lain yang lebih baik dari yang anda punya.  Sejak itulah, rasa senang atau bahagia segera memudar.

Lantas bagaimana saran Gilovich? Menurut beliau musuh dari kebahagiaan adalah adaptasi. Ketika membeli sesuatu, kita merasa senang. Tapi hanya sementara, karena sesuatu yang baru itu akan membuat kita segera beradaptasi dalam rentang waktu singkat. Tidak ada hal baru dari benda tersebut.

Inilah yang disebut sebagai paradoks harta atau kepemilikan. Kita sering menganggap bahwa kebahagiaan kita dapatkan dari membeli sesuatu tersebut akan berlangsung selama sesuatu itu ada. Tampaknya perasaan untuk berinvestasi dalam benda/barang dimana kita bisa melihat, mendengar, dan menyentuh secara permanen  akan memberikan nilai terbaik. Tapi itu salah, menurut Gilovich.

Gilovich menemukan bahwa pengalaman mengalami sesuatu memberikan efek kebahagiaan lebih panjang daripada kepemilikan barang/benda. Karena itu bercerita mengenai pengalaman akan mendapatkan rasa senang/puas lebih panjang daripada memiliki benda atau harta.

Mengapa pengalaman bisa lebih penting dari kepemilikan? Karena pengalaman merupakan bagian dari hidup anda. Sebagai contoh, saat anda memiliki barang atau benda, maka kita bisa berpikir bahwa benda tersebut adalah bagian dari identitas kita. Namun karena cepatnya kita beradaptasi, rasa senang  itu segera hilang. Dan sebenarnya benda tersebut tetaplah terpisah dari diri anda. Berbeda dengan pengalaman ketika anda mengunjungi suatu tempat, menjelajahi area/tempat baru atau berkunjung bersama-sama teman, maka pengalaman tersebut benar-benar merupakan bagian dari diri anda. Itulah sebabnya jika bercerita  pengalaman sendiri secara story telling maka orang lain juga senang mendengar cerita tersebut karena adanya unsur berbagi pengalaman. Berbeda halnya jika anda bercerita tentang pembelian sesuatu, umumnya tidak semua orang akan suka.

Jadi, mulai sekarang anda sebaiknya membeli pengalaman. Bukan membeli barang lagi, agar bisa medapatkan rasa bahagia lebih lama. Itulah sebabnya, bercerita tentang pengalaman seperti pada kisah story telling di tulisan ini, merupakan bagian yang paling menarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s