Anak SD berkemampuan SMU/Sarjana..mengapa tidak?

Jpeg

Melihat foto diatas, jika dibilang bahwa dalam kompetisi Autonomous Race Robot ada anak SD bisa bersaing dengan anak SMU mungkin tidak percaya. Di foto tersebut, dari tinggi dan besarnya badan sudah terlihat bahwa ada anak setingkat SD yang bisa bersaing dengan anak SMU untuk pemrograman Robot. Ya memang, sebenarnya  perlombaan itu diperuntukkan bagi SMP dan SMU, namun karena sudah dibekali belajar programming maka tim anak SD bisa diikutsertakan.

Dalam perjalanan mengamati dunia pendidikan, penulis melihat ada beberapa orang yang mau ‘mendobrak’ sistem pendidikan yang ada. Daripada berkutat atau tetap memaksakan mengikuti kurikulum pendidikan yang sudah ditetapkan pemerintah  atau institusi tertentu, mereka bahkan mengambil aliran yang lebih ekstrim. Yaitu membuat sekolah atau pengajaran sendiri sesuai dengan visi misi mereka.

Ada seorang mantan Professor teknis di Universitas ternama, yang mencabut dan mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah formal. Beliau mendidik sendiri anak-anaknya karena merasa pendidikan yang diberikan sekolah formal tidak akan mampu memberikan bekal memadai menjadi ilmuwan handal. Jadilah anak-anaknya  dalam usia muda menjadi ilmuwan non-formal, tapi memiliki kemampuan tidak kalah bahkan menghasilkan karya melebihi lulusan S3 sekalipun. Ada Doktor yang mendirikan sekolah rumah (home schooling) berbasis teknologi sehingga siswanya mampu berpikir dan membuat project setingkat lulusan sarjana.

Model pendidikan di masa depan, menurut penulis sudah tidak bisa lagi menggantungkan diri pada kurikulum atau sekolah formal. Pendidikan masa depan haruslah secara cepat berkompetisi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, bisnis, organisasi di masa depan. Artinya pendidikan harus bisa mengisi kompetensi masa depan. Seperti halnya karyawan atau pekerja di masa depan, karena kebanyakan pekerja sekarang berupaya mempelajari keahlian untuk  pemenuhan sasaran dan proses bisnis organisasi masa lalu daripada kebutuhan sasaran dan model bisnis organisasi masa depan. Sehingga terjadi gap cukup besar.

Inilah yang mendorong penulis mengapa tidak mendirikan sarana pendidikan yang bisa membuat anak-anak sekarang lebih kreatif di masa depan, seperti realisasi ide dalam tulisan . Ketika dalam sesi perlombaan untuk programming autonomous robot, dimana para anak-anak yang nota bene masih SD antara kelas 4-5 SD, berkompetisi dengan anak SMP dan SMU saat membuat program dari scratch untuk bisa mengikuti tantangan mengikuti jalan /line follow dan memindahkan object ke tempat yang dituju.

Jpeg

Line follower Programming Autonomous Robot

Ternyata dengan pendidikan algoritma serta  pengajaran logika programming yang tepat, mereka bisa bersaing dengan anak-anak SMP dan SMU . Untuk juara 1 s/d 3 dipegang anak SMP dan SMU sedangkan juara harapan 1 sd harapan 3 diraih oleh tim sekolah robotika kami yang masih kelas 4 dan 5 SD, namun tim robotika kami merupakan satu-satunya tim yang tampil di kategori paling bergengsi dengan anggota masih anak-anak kelas SD, sedangkan tim  lainnya datang dengan remaja dan pelajar yang sudah duduk tingkat SMP dan SMU.

Dengan memberikan logika programming yang biasa diberikan untuk anak SMU atau perguruan tinggi, ternyata bisa diterima oleh anak-anak remaja. Artinya ilmu-ilmu sekelas Perguruan tinggi,  tidaklah menjadi tabu menjadi bahan ajaran bagi anak-anak remaja, agar mereka bisa menyalurkan kreatifitas dan bakatnya sehingga sanggup berkompetisi pada kebutuhan organisasi dan dunia masa depan.

Nantinya, dalam waktu tidak lama, mungkin kita akan melihat anak SD berkemampuan SMU atau Sarjana yang biasa programming robot atau pelajar SMU yang sudah bisa merancang dan mendisain Microchip atau Microprocessor sendiri, setingkat S2 dan S3.

Tapi bisakah itu berjalan dengan konsep kurikulum sekarang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s