Inovasi yang membuat kisruh : online apps transport vs conventional transport

The Uber Technologies Inc. logo is seen on the ground at Ronald Reagan National Airport (DCA) in Washington, D.C., U.S., on Wednesday, Nov. 26, 2014. Uber Technologies Inc. investors are betting the five-year-old car-booking app is more valuable than Twitter Inc. and Hertz Global Holdings Inc. Photographer: Andrew Harrer/Bloomberg via Getty Images

Entah, berapa lama lagi kisruh antara jasa transportasi aplikasi online dengan jasa transportasi konvensional akan berakhir. Setelah demo besar-besaran kemarin oleh pengemudi taksi konvensional, tampaknya masih menyisakan PR besar bagi pemerintah karena ini menyangkut hajat hidup dan urusan perut. Sayang, pemerintah tidak tanggap terhadap hal ini, ataukah sengaja membiarkan?

Ketika penulis menggunakan taksi konvensional, mereka sebenarnya sudah memahami akan adanya persaingan dan kompetisi antara jasa transportasi dengan apps maupun yang konvensional. Taksi umumnya dibagi dua model , ada sistem setoran dan kedua sistem bagi hasil, dengan opsi kepemilikan kendaraan. Nah, bagi pengemudi dengan sistem setoran memiliki keleluasaan, karena biasanya pengelola tidak mempermasalahkan jika mau menggunakan apps online, hanya saja jangan terlalu terbuka. Toh yang penting setoran tetap. Tapi bagi pengemudi dengan sistem bagi hasil, inilah yang membuat mereka ‘gigit jari’ karena penghasilannya terus tergerus dengan keberadaan transportasi  apps online. Puncaknya adalah demo di Jakarta tanggal 22 maret lalu.

Keberadaan jasa transportasi online bukanlah ide baru. Google bahkan pernah mempublikasikan dan membuat aplikasi tersebut, jauh sebelum Uber ada. Bisa dilihat pada tulisan ini mengenai program ride finder, pada tahun 2005. Program tersebut dihentikan  tahun 2009 karena belum adanya kesiapan infrastruktur maupun sebaran smartphone yang belum meluas seperti sekarang. Kini, Google justru berinvestasi pada Uber melalui sayap venture capitalnya yaitu Google Ventures. Sekarang, sudah banyak layanan serupa seperti Lyft, Grabcar/Grabbike dan pemain lokal seperti Go Jek, Lady Jek .

Memang di negara-negara lain pun, kisruh antara pengemudi taksi konvensional dan apps online juga berlangsung. Uber yang beroperasi atau lebih tepatnya dapat diakses di 56 negara di dunia tak luput dari kontroversi dan larangan. Bahkan di amerika sendiri juga mendapatkan protes keras. Beberapa negara seperti Brazil, Perancis, Jerman,India, Korea Selatan ,  Jepang, dan Spanyol telah melarang Uber beroperasi di negara  atau kota-kota tertentu.

Mendapati gejala seperti itu, sayangnya pemerintah kita seperti tidak segera memberikan regulasi jelas mengenai keberadaan layanan OTT maupun apps online seperti diatas. Pengelola lokal apps online menurut penulis lebih bijak, karena mereka mendirikan badan usaha di sini dengan mengikuti aturan regulasi perdagangan bisnis atau jasa.  Bahkan pendekatan yang dilakukan oleh pengelola lokal dengan mendekati komunitas ojek pangkalan menurut penulis sangat baik, sehingga bisa meredam kisruh antar ojek online maupun ojek pangkalan. Keduanya bisa bersinergi dan tentunya memberi manfaat bagi pengguna jasa ojek. Ojek sendiri agak sulit didefinisikan karena memang tidak termasuk moda transportasi resmi, meski keberadaannya dibutuhkan pengguna dan juga bisa memberi nafkah bagi pengendara ojek.

Disinilah letak perlunya kecepatan dan respons tanggap dari pemerintahan, entah itu berupa regulasi – aturan – maupun kebijakan yang bisa memberi manfaat bagi para stakeholder.  Bentuk perumusan kebijakan yang tepat, akan bisa memberikan manfaat bagi pengguna jasa, penyedia jasa,  jasa keuangan, regulator dan pemerintah. Jangan dibiarkan masyarakat saling bertempur sendiri, karena itu berarti ketidaksanggupan pemerintah mengatasi fenomena perubahan yang ada akibat teknologi dan inovasi yang sedemikian cepat. Jangan sampai kasus penutupan inovasi pengobatan kanker terulang kembali, terutama bagi pengembang inovasi lokal.

Sudah saatnya teknologi dan inovasi yang ada mampu membuat hidup, pekerjaan dan lingkungan menjadi lebih baik. Tentu ini dibutuhkan rambu-rambu, aturan yang jelas dengan kecepatan pemahaman terhadap fenomena tersebut secara lebih arif dan adil.

3 pemikiran pada “Inovasi yang membuat kisruh : online apps transport vs conventional transport

  1. Bluebird meningkat karena mengambil pasar taksi konvensional lain, jadi pertumbuhannya karena pertumbuhan organik. Namun dengan makin berkembangnya online apps transportasi, maka penghasilan blue bird di tahun 2016 diprediksi akan tergerus, termasuk taksi lainnya.

  2. Ping balik: Menjemput keberkahan dalam mencari rezeki | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s