Menggapai lompatan kuantum bisnis dan teknologi

Light spectrum

Dahulu, ketika penulis menjadi karyawan Management Trainee, salah satu manajemen puncak pernah mengatakan dalam sesi pelatihan MT tersebut. “ Kita tidak bisa menjadi terdepan, jika hanya mengikuti / follower apa yang sukses dilakukan perusahaan lain..” Dalam beberapa tahun berikutnya, perusahaan tersebut berani mengambil resiko tinggi dengan mengaplikasikan suatu Aplikasi sistem  IT terintegrasi yang masih jarang dilakukan pesaing. Selanjutnya juga berani terjun ke dalam E-Business.

Memang dalam kenyataan, jika mau menjadi terdepan dalam hal bisnis, tampaknya akan berat jika hanya mengikuti pesaing, kompetitor atau apa yang sudah dilakukan organisasi lain. Perusahaan memang bisa mendapatkan manfaat dengan mengikuti success story perusahaan lain, tapi tetap akan dibawah perusahaan yang sudah dulu menjalankan suatu sistem, aplikasi, teknologi atau infrastruktur baru itu.

Kejadian serupa ketika penulis menggunakan teknologi 4G pada modem untuk tether karena biasa bekerja secara mobile. Berawal dari promosi iklan dimana 4G-LTE bisa mencapai 200 Mbps, ternyata pada kenyataan semakin lama semakin ‘lemot’. Apalagi jika berada di tempat yang trafficnya tinggi. Bahkan dibandingkan modem dengan teknologi 3G atau 3.5 G yang ada (HSUPA, HSDPA dll) bisa lebih cepat daripada 4G tersebut. Walhasil, hanya dalam waktu 6 bulan, modem 4 G tersebut tidak diperpanjang lagi. Kembali beralih ke 3G jika berada di remote area.

Lantas bagaimana agar bisa mencapai era kepemimpinan dalam bisnis atau teknologi. Ya, seperti pernyataan CEO diatas, jangan menggunakan apa yang biasa dipakai orang. Harus berani mengambil langkah – tentunya dengan memperhitungkan resiko sepadan- dengan manfaat yang lebih besar. Saat ini penulis merasa pemanfaatan teknologi frekuensi 4G-LTE  tidak terlalu memberi manfaat besar. Lebih penting menguatkan jaringan  terrestrial FO (fiberoptic) yang bisa mentransfer data sampai sekian puluh Gbps , ditambah teknologi  next generation network Wifi.  Selain terlambat implementasi 4G, penetrasinya dan penyebarannya juga rendah di Indonesia. Di negara –negara lain seperti Korea, Jepang, negara-negara Eropa sendiri, riset untuk 5 G sudah berjalan kuat, selain sudah tersebarnya 4G maupun FO secara merata. Huawei bahkan sudah ujicoba teknologi 5G nya bersama Docomo NTT tahun 2015 lalu. Karena terlambat implementasi dan juga nanggung, menurut penulis penggunaan 4G di Indonesia tidak akan optimal. Penulis sendiri lebih suka menggunakan jaringan FO via FTH (fiber to home) yang bisa mencapai puluhan Mbps, dengan kestabilan dl/ul (download/upload).

Langkah lebih cerdas justru dilakukan oleh Turki. Awal tahun 2015, Turki bermaksud melelang frekuensi spectrum 4G,  tetapi Presiden Erdogan melihat tidak adanya manfaat besar dengan implementasi 4G, karena dengan perkembangan teknologi sekarang dimana riset dan uji coba 5G sudah sedemikian luas, diperkirakan 2-3 tahun lagi sudah siap.  Apa keputusan Turki selanjutnya? Inilah yang penulis sebutkan sebagai Lompatan Kuantum bisnis dan teknologi. President Turki Erdogan mengabaikan 4G, tapi minta agar Turki langsung beralih ke 5G. Ya bukan  4G lagi, tapi langsung ke 5G. Diperkirakan tahun 2018 teknologi ini sudah siap untuk dikomersialisasikan.

Ujicoba 5 G saat ini mampu memberi bandwidth kecepatan minimal 2 Gbps , dibandingkan  4G yang kecepatan puncaknya mencapai 300 Mbps atau 3,5G sekitar 40 Mbps. Banyak manfaat yang diperoleh dari penundaan ini antara lain : Tidak menyia-nyiakan investasi mahal infrastruktur 4G  bagi operator yang tentunya berbeda dengan 5G, penghematan anggaran, serta pengurangan pemborosan seperti perangkat gadget, mobile, tablet yang sekarang masih layak pakai hingga 3-4 tahun lagi.

So, itu langkah cerdas yang dilakukan oleh Pemerintah Turki.  Untuk pemerintahan Indonesia tampaknya sulit, karena inovasi yang ada malah diberangus .Apakah organisasi anda berani melakukannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s