Hukum yang tidak sesuai dengan keadilan

no-justice-no-peace-2014

Apa yang terjadi jika memakai hukum buatan manusia? Kasus yang diulas oleh TribunNews 22 Desember kemarin, mengenai tuntutan  jaksa di pengadilan terhadap kasus pembunuhan PDE (15) , siswi 3 SMP oleh pelaku yang masih remaja SF (13) bisa menjadi contoh. Jaksa yang hanya menuntut terdakwa SF (13) untuk dirawat di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) selama 1 tahun, jelas sangat menggoyahkan rasa keadilan.

Bagaimana tuntutan jaksa itu bisa terjadi?. Faktanya SF memukuli PDE dengan palu yang telah dibawa oleh SF hingga tewas. Artinya ada unsur kesengajaan atau perencanaan pembunuhan. Menurut UU KUHP pasal 340, ancaman terhadap pelaku tindakan pembunuhan dengan perencanaan adalah hukuman mati atau seumur hidup atau bisa juga paling lama 20 tahun. Tapi kenapa jaksa hanya menuntut 1 tahun, dan itu juga bukan dipenjara, tapi lembaga perawatan sosial? Hal inilah yang diprotes keras orang tua PDE, karena merasa tuntutan hukuman tidak setimpal dengan perbuatan SF.

Kembali lagi. Ada aturan hukum mengenai usia pelaku, apakah masih dewasa atau anak-anak. KUHP pasal 340 hanya bisa diterapkan bagi pelaku dewasa atau usia sudah diatas 18 tahun. Dalam hal ini SF masih berusia 13 tahun, sehingga tidak bisa dijerat oleh KUHP pasal 340, tapi dianggap sebagai anak-anak dengan perlakuan UU Peradilan Anak No 11 tahun 2012, dimana anak tidak bisa dijatuhi hukuman mati, tidak bisa dipidana seumur hidup dan hak-hak lainnya yang tampaknya lebih melindungi pelaku kejahatan (istilah dalam UU adalah “Anak yang berkonflik hukum”) daripada si korban sendiri. Bahkan  UU ini mengupayahkan diversi atau keadilan restorative, yaitu mediasi antara pelaku dengan korban/pihak mewakili korban/ahli waris korban terbunuh agar keberlangsungan hak-hak anak tetap berjalan.  Jadi berkacamata dengan hukum KUHP maupun UU peradilan anak, tuntutan jaksa sudah sangat sesuai. Namun menilik rasa keadilan, tidak diperoleh bagi ayah korban yang merasa pelaku dituntut sangat ringan atas tindakan ‘berkonflik hukum ‘ tersebut.

Karena itulah, ada baiknya menggali hukum-hukum yang sudah Allah turunkan dalam Quran sebagai petunjuk dan rahmat bagi manusia. Islam memandang kedewasaan bukan dari umur tapi dari baligh yang ditandai oleh mimpi basah bagi laki-laki dan menstruasi bagi perempuan. Jika sudah mengalami hal tersebut, maka status nya berubah bukanlah anak-anak lagi tapi sudah baligh, sudah terkena hukum-hukum syariat islam. Jika SF sudah mengalami mimpi basah, maka tentunya bukan anak-anak lagi, alias sudah dewasa/baligh.

Apa saja aturan dari Allah Sang Maha Pencipta bagi pembunuhan disengaja, inilah aturannya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”. (QS. 2 : 178 – 179).

Sungguh indah dan sangat adil tuntunan dari Sang Maha Pencipta Allah SWT. Dalam hal ini, Islam memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada ahli waris terbunuh atau pihak keluarga/wakil korban yang terbunuh. Ahli waris tersebut boleh meminta kepada hakim untuk membunuh pelaku (qishas) sebagai balasan, atau memaafkan dengan membayar diat / ganti rugi dari pihak pembunuh terhadap ahli waris terbunuh sebagai ganti rugi terhadap pembunuhan . Peranan hakim di sini hanya sebagai pelaksana ahli waris terbunuh. Apabila ahli waris meminta agar pembunuh dihukum sebagai hukum yang setimpal, maka hal itu merupakan hak mereka. Dan apabila ahli waris memberi maaf dengan mengambil diat sebagai penggantinya, maka hal itu adalah belas kasihan dari pihak ahli waris terbunuh kepada pihak pembunuh. Disinilah letak keadilan Islam. Pihak keluarga korban/ahli waris diberikan kesempatan apakah mereka mau menuntut balas (qishas), atau minta ganti rugi (diat). Dalam pelaksanaan qishas atau balas membunuh, ada pelajaran maupun jaminan keberlangsungan hidup bagi orang-orang sehingga tidak sembarangan mengambil nyawa orang lain secara sengaja.

Islam bertujuan memusnahkan segala bentuk kejahatan sampai ke akar-akarnya ketika menjadikan balasan pembunuh di tangan ahli waris terbunuh. Qishash hanya boleh dilaksanakan atas permintaan ahli waris terbunuh. Hal ini pada hakekatnya merupakan jaminan kelangsungan hidup bagi manusia. Karena setelah seseorang melihat akibat yang akan diterimanya jika melakukan pembunuhan, orang akan jera, dan khawatir mendapat balasan dari pihak ahli waris yang terbunuh. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”. (QS. 2 : 179).

Tentu hukuman qishash hanya berlaku bagi pembunuhan disengaja. Bagi pembunuhan yang tidak disengaja, seperti misalnya ada orang menebang batang pohon dengan gergaji, tapi jatuhnya pohon menimpa orang yang berjalan hingga tewas. Maka pelaku yang tidak sengaja membunuh itu hanya membayar diyat (ganti rugi) terhadap ahli waris korban terbunuh.

Dari kasus pembunuhan PDE (15) oleh SF (13) maka solusinya menurut petunjuk Allah sangat sederhana. Jika SF sudah baligh atau dewasa, maka ahli waris korban bisa meminta qishas atau minta ganti rugi (diyat) kepada pelaku/keluarga pelaku. Jika SF masih anak-anak, maka hukuman jatuh menjadi tanggungjawab orang tuanya. Ahli waris bisa menuntut qishas atau ganti rugi (diyat).  Hukum ini sangat memberikan keadilan kepada korban/ahliwaris terbunuh dibandingkan KUHP atau hukum buatan manusia yang terlalu melindungi pelaku kejahatan/kriminal.

Jika hukum dilaksanakan menurut petunjuk Allah, maka tugas polisi dan hakim akan ringan, penjara akan sedikit diisi pelaku dan keamanan semakin terjamin.

Sumber :

Tribunnews. http://jabar.tribunnews.com/2015/12/22/anak-saya-mati-dipukul-pakai-palu-kenapa-terdakwanya-tidak-dipenjara

UU Peradilan Anak no 11 Tahun 2012

KUHP

Satu pemikiran pada “Hukum yang tidak sesuai dengan keadilan

  1. Ping balik: Bystander Effect di dalam lingkungan dan organisasi | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s