Mengapa perusahaan bisa gagal dalam bisnis?

Business Failure

Ketika penulis memberikan pelatihan Finance for non Finance/Accountant kepada jajaran pimpinan cabang/manager BUMN di sebuah Hotel beberapa waktu lalu, ada pertanyaan menarik keluar dari peserta. Yaitu pertanyaan di atas, mengapa perusahaan bisa mengalami kegagalan? Sebuah pertanyaan menarik karena memang tidak cukup dijelaskan melalui aspek finance semata.

Dalam aspek financial management, terutama terkait pelatihan yang diberikan tentu diajarkanprinsip-prinsip dasar finansial seperti  : bagaimana membaca laporan neraca keuangan (balance sheet report), laporan perubahan kas (cashflow statement) dan laporan pendapatan (Income/profilt loss statement). Juga diinformasikan bagaimana melakukan penjurnalan pada setiap akun, penggabungan dalam buku besar (general ledger) serta pemahaman dalam setiap posting akun transaksi yang terjadi yaitu double entry posting, minimal pada setiap transaksi akan ada dua akun terpengaruh seperti pembelian barang tunai akan mempengaruhi penambahan persediaan/aset sekaligus mengurangi kas atau bisa saja terjadi pembelian barang akan menambah persediaan/aset sekaligus menambah hutang dagang jika pembelian tersebut dilakukan secara kredit.

Ketika perusahaan mengalami rugi, dapat ditinjau dari laporan laba/rugi perusahaan pada setiap akhir periode. Melalui analisis finansial rasio, baik analisis secara vertikal atau horizontal maka akan diketahui kecenderungan rugi perusahaan , makin membaik atau memburuk. Indikator rasio finansial yang hasilnya tidak baik seperti tercermin dalam Gross Profit Ratio, Net Operating Income Ratio, Return on sales Ratio dan lainnya , menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian atau terancam gagal dalam berbisnis. Sekali lagi, laporan hanya mencerminkan hasil akhir, tentu ada sebab-sebab mengapa perusahaan bisa gagal.

Disinilah perlu letaknya fungsi lain dimana laporan-laporan keuangan memberikan indikator kepada jajaran manajer.  Perlu analisis strategis mendalam mengenai bisnis perusahaan ketika mengalami kerugian/kegagalan bisnis. Apakah selama ini perusahaan sudah produktif dalam menjalankan roda usahanya? Apakah perusahaan sudah mampu menurunkan biaya operationalnya dibandingkan pesaing? Bagaimana struktur pendapatan dari perusahaan? Bagaimana strategi pemasaran perusahaan ? Apakah harga yang diberikan lebih kompetitif dibandingkan kompetitor? Serta pertanyaan lainnya. Dari beberapa pertanyaan diatas ternyata memang ada indikasi belum efisien operasional bisnis. Terbukti ada perusahaan sejenis yang lebih efisien menawarkan jasa serupa tapi bisa memberikan harga lebih rendah. Sehingga jika ingin memperbaiki perusahaan, maka pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah memiliki jawaban serta solusinya.

So, perusahaan memerlukan langkah strategis, action plan agar bisa keluar dari kegagalan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Seperti menjalankan business turnaround, business transformation atau business rescue. Mungkin diperlukan program cost reduction atau productivity Improvement. Bisa saja dijalankan Business turnaround seperti pada kasus ini. Semuanya sangat tergantung pada tingkat distress/kesulitan finansial perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s