Saat peluang tidak digarap dengan optimal

Taman Belajar KampusSehabis mengikuti seminar penelitian di kampus, sebagai prasyarat studi maka penulis berkeliling sekitar kampus. Melihat dan menengok jajanan yang ada sekitar kampus cukup menggiurkan, karena dengan harga miring dan kualitas cukup baik. Sudah dikenal lama, bahwa  daerah sekitar kampus menjadi ladang bisnis industri kecil, kegiatan mahasiswa, usaha kost2an dan beragam lainnya. Jika ingin menumbuhkan jiwa entrepreneur atau kewirausahaan, mungkin bisa dimulai dari sini.

Saat berjalan dan menengok sekeliling, wah ternyata ada penjual pisang goreng dan tahu sumedang. Memang tahu sumedang sudah melancong kemana-mana. Kebetulan ingin mengisi perut dengan jajanan, akhirnya mampir juga ke warung kecil sang penjual.

“ Bang tahu sumedangnya berapaan? “
“ lima ratusan Mas”

Murah sekali, pikir penulis. Kadang kalau melihat harga makanan sekitar kampus, memang sangat jauh dari harga di perkotaan besar seperti Jakarta. Bayangkan, satu porsi nasi goreng dengan telur harganya cukup 8000 perak !, harganya lebih murah 40% daripada di Jakarta, kota kapitalis yang tidak ramah bagi pedagang kaki lima maupun rakyat kecil. Tampaknya disini supply bahan baku sangat dekat, dan itu bisa memotong harga pokok produksi.

Sambil menikmati tahu sumedang, beberapa pembeli datang berkunjung. Selain menjual tahu sumedang, si pedagang juga menjual pisang goreng. Bentuknya unik seperti kipas, dan menariknya ketika ada pembeli yang datang, mereka bersedia menunggu pisang goreng yang belum jadi.

“ Wah, kayaknya jualan pisangnya laku ya Bang?”

“Iya lumayan, kalau pisang goreng harganya seribuan”

Karena banyaknya pembeli yang datang untuk pisang goreng, dan si abang memang terus menggoreng pisang g tersebut, yang memang enak dinikmati saat panas atau hangat. Beberapa pembeli umumnya bermotor  bahkan bersedia menunggu sekitar 15 menitan, sampai pisang goreng siap disajikan.  Melihat fenomena ini, penulis jadi tertarik untuk bincang2 lebih lanjut.

“Bang, kalau ada pembeli bersedia menunggu, berarti potensi abang lebih besar dari sekarang nih, mau gak dikasih tahu cara agar lebih besar jualannya?”

“Kalau disini kayaknya sudah maksimal mas, banyak yang jualan. Kecuali pindah jualan. Itu teman saya di daerah X, sudah bisa menjual sampai 12 bak, padahal saya Cuma 4 bak saja” sambil menunjuk bak tempat jualannya.

Melihat keadaan sekitar , fasilitas dan situasi tempat jualan, masih banyak peluang untuk perbaikan agar lebih oke. Sama halnya seperti pada UKM ini. Dengan pendekatan 4 P marketing klasik pun, pasti bisa ditingkatkan penjualan.

“Insya Allah pasti bisa Bang, yang penting abang punya komitmen untuk perbaikan, tidak ada biaya sama sekali kalau mau ikuti arahan dan petunjuk, buktinya teman Abang itu sudah sukses, padahal dia kan cuma ngikutin jualan abang”  Kata penulis berusaha meyakinkan.

“begitu ya Mas, iya saya mau jika memang bisa..”

Sipp..Tinggal pas waktu ketemuan lagi, akan diberikan program perbaikan untuk UKM penjual pisang goreng dan tahu sumedang ini. Memang sangat sayang sekali jika ada UKM yang potensial, dengan jualan gorengan yang unik, rasa mantap, demand yang cukup tinggi tapi terhambat karena ketiadaan manajemen yang baik dan sistematis.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s