Ketika urusan tidak dipegang yang ahlinya..

pemimpin adilIni adalah pengalaman nyata penulis. Ketika mengalami masalah pada HP, dimana tidak ada tanda-tanda ‘kehidupan’ jadinya membuat panik, karena berbagai email, messages, kontak, dan lainnya ada disitu. Tentunya segera membawa ke tempat service HP di mal terdekat.

Tempat service pertama, sepi dan petugasnya menyanggupi membereskan HP tersebut. HP yang masih orisinal tersebut, telah berumur lebih dari 4 tahun, terpaksa direlakan diotak-atik untuk diperbaiki. Sejam lebih berlalu, akhirnya di petugas toko menyatakan tidak sanggup memperbaiki dengan alasan ‘kaki’ IC nya berbeda. Yaah..akhirnya setelah menunggu sekian lama,  hanya menerima pesan kegagalan. Kenapa tidak dari awal saja infonya?.

Tetap berusaha dan tidak putus asa,  kembali mencari tempat service lainnya, yang cukup ramai dengan antrian pengunjung. Oleh petugas diperiksa dulu sekitar 30 menit, dan akhirnya kembali seperti tempat service pertama. Tidak mampu memperbaiki HP tersebut. Untuk kedua kalinya, sudah dibongkar habis tetap tidak bisa. Ke dua peristiwa ini akhirnya membuat penulis merenung. Tentu ke dua service HP ini tidak kompeten dan ahli dalam service HP.

Akhirnya berusaha mencari lagi tempat service HP yang benar-benar ok, dan kompeten. Ketika masuk ke tempat service ke tiga, setelah diperiksa sebentar dia menyarankan untuk perbaikan di tempat service sebelahnya, karena secara jujur dia tidak mampu untuk perbaikan kerusakan IC di HP tersebut.  Wah, berarti tukang servicenya mengakui ada orang yang lebih ahli dalam perbaikan HP dibandingkan dia. Jadilah menuju tempat service terakhir yang ke empat. Di tempat service tersebut, ternyata tempat perbaikannya sangat transparan dimana kita bisa melihat peralatan solder, multitester, BGA, power supply, solder uap, blower dan perangkat lainnya secara live !. Sehingga pengunjung bisa melihat jelas satu demi satu bagian yang dibuka dan diganti. Akhirnya setelah 2 jam perbaikan, HP pun kembali bisa berfungsi. Alhamdulilah.

Usut punya usut, ternyata tempat service tersebut sering jadi referensi bagi tukang service HP lainnya yang mengalami kesulitan perbaikan. Jadinya kerusakan berat HP akan dibawa di sana. Berbeda dengan tempat service pertama dan kedua, dimana letak servicenya di belakang meja sehingga pengungjung tidak tahu apa yang dibongkar, bagaimana pemasangan dan lainnya. Tempat service ke empat itu, sangat mirip dengan trend kuliner saat ini, dimana pengunjung bisa melihat dapur langsung untuk menyaksikan pembuatan kue, makanan serta lainnya.

Apa akibat dari pembongkaran pertama dan kedua? Tentunya ada efek terhadap HP dimana kualitas pemasangannya tidak rapih,  karena kurang ahlinya tukang service yang gagal mencari penyakit dan menyembuhkan HP tersebut. Konsumen lah yang menderita karena ketidakcakapan dalam melakukan perbaikan. Ini adalah contoh kecil dalam problem perbaikan HP jika ditangani oleh yang kurang ahli.

Bagaimana jika terjadi masalah atau problem pada tingkat lebih besar? Di tingkat organisasi baik untuk level departemen, divisi atau bahkan perusahaan?. Bagaimana jika terjadi pada tingkat wilayah lebih luas? Tingkat propinsi atau negara. Sepertinya inilah yang dialami negara ini. Kemampuan, kapasitas ,kompetensi atau ‘keahlian’ untuk mengurusi suatu negara tentu berbeda jika hanya mengurusi tingkat kabupaten, walikota atau tingkat RW misalnya. Tentu saja urusan tersebut tidak akan selesai sesuai dengan apa yang diharapkan, atau bisa jadi urusan tersebut tidak akan selesai sama sekali. Persis kasus kerusakan HP yang penulis alami. Tidak beres, bahkan sampai ke tiga kalinya. Akan berbeda jauh hasilnya jika langsung ke tempat service ke empat. Beres dan tuntas, meskipun harga yang dibayar lebih mahal.

Saat ini rakyat mengalami kesulitan dengan berbagai kenaikan harga barang. Pengusaha pun mengalami sulitnya berbisnis karena nilai tukar yang tidak menentu. Indeks Gini yang menyatakan koefisien kesenjangan antar kaya dan miskin semakin melebar. Tahun 2000 masih 0.3, tahun 2013 melebar menjadi 0.413 dan di tahun 2014 sudah menjadi 0.42.

Apa yang dialami negara ini persis seperti sabda Nabi. Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi penyerahan amanat yang bukan kepada ahlinya. Orang-orang bodoh yang tidak mampu dalam bidangnya ditunjuk untuk mengurus persoalan umat. Mereka tak mampu mengendalikan jabatannya sebagai seorang pemimpin atau dengan kata lain, jabatan itu dipegang bukan oleh ahlinya. Dan jadilah kita mendapatkan pemimpin seperti ini.

Tampaknya, kerusakan  dan kehancuran tinggal menunggu di depan mata, kecuali kita mau mengikuti anjuran serta tuntunan yang benar dalam memilih, menempatkan, dan mencari orang sebagai pemimpin atau untuk menangani suatu urusan. Seperti tertulis dalam tulisan ini.

Karakter pemimpin yang adil dan bijaksana sebenarnya sudah ada, sayangnya letaknya jauh di negeri seberang.

2 pemikiran pada “Ketika urusan tidak dipegang yang ahlinya..

  1. Ping balik: Cara memilih gadget yang Value Added : menggunakan produktifitas rasio | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s