Akankah Amerika tetap teratas dalam hal militer jika kualitas fisik penduduk serta tentaranya terus melorot?

Fat SoldierAmerika, meskipun masih dianggap negara dengan belanja pertahanan terbesar di seluruh dunia, dan menempati posisi nomor satu terkuat secara militer ternyata memiliki masalah krusial dalam hal kesehatan penduduk dan tentaranya. Laporan studi Department Pertahanan Amerika pada tahun 2010 menyebutkan bahwa hampir sepertiga penduduk usia 17 sampai 24 tahun, yaitu mereka yang berada tingkatan pelajar dan mahasiswa, dinilai terlalu gendut  jika memasuki militer. Studi dari Gallup ikut memperkuat menunjukkan tingkat obesitas (BMI Body Mass Index : 30) meningkat menjadi 27.2% pada tahun 2013. Jika diukur berdasarkan BMI (normal BMI berada diantara 18.25 – 25), dimana jika BMI diatas 25, dianggap sudah berlebihan berat badan, maka ada 62.7% penduduk Amerika memiliki berat diatas normal atau hampir 2/3 penduduknya kegemukan !.

Memang masalah nutrisi dan makanan telah melanda negara Amerika. Jika dua ratus tahun lalu penduduk Amerika secara rata-rata masih lebih tinggi badannya dibandingkan saudara jauh di Eropa. Kini Amerika tertinggal dengan negara Eropa terutama Skandinavia, Nordik dan Belanda karena faktor asumsi nutrisi semakin memburuk, dengan lebih banyak konsumsi lemak jenuh. Bahkan masalah obesitas menjadi masalah besar bagi Amerika sekarang.

Secara keseluruhan, profil militer Amerika di Angkatan Laut, Angkatan Darat maupun Angkatan Udara memiliki ‘gigi’ dan ‘kuku’ seperti kemampuan infrastruktur Ground Combat Vehicle yang canggih, armada Kapal Perang Littoral Combat Ship , pesawat siluman generasi ke 5 (Stealth Fighter) F-35, F-22 maupun puluhan ribu Misil, justru laporan dan riset terbaru tampaknya telah mengindikasikan bahwa pemimpin militer amerika telah mengabaikan apa yang disebut sebagai kekuatan militer terkuat, yaitu : kesiapan dan kelayakan penduduk maupun tentaranya di medan tempur. Profil Amerika lebih tepat disebut kuat di mesin perang namun lemah pada sisi kualitas personil tempurnya.

Bukti adanya masalah kesehatan paling akurat berasal dari Rumah Sakit Urusan Veteran Amerika. Saking banyaknya Veteran tentara perang, Amerika membentuk khusus kementerian urusan ini yaitu US Veterans Affairs (VA) akibat kebijakan perang pemerintahannya sendiri. Data VA, menunjukkan bahwa ada 50.000 anggota militer yang terluka dalam perang sejak tahun 2001 di Afganistan dan Iraq.  Perlu diingat, luka/penyakit militer tidak hanya terjadi dalam perang namun juga ada penyakit/luka ketika tidak berperang. Studi dari Watson Institute menyebutkan ada 30.000 personel militer berseragam yang harus dievakuasi, karena penyakit atau terluka bukan karena pertempuran. Studi Angkatan Darat memberikan angka lebih mengerikan yaitu ada 743.547 cedera otot dan tulang (musculoskeletal)  diantara  tentara yang tidak aktif pada tahun 2006 !. Studi itu mengutip wilayah dominan cedera berada di tulang punggung bagian bawah , sendi kaki dan pergelangan kaki. Angkatan Darat dan Marinir telah melakukan kesimpulan penelitian yang signifikan bahwa ada korelasi yang kuat antara berjalan dan cedera tersebut. Asosiasi Terapi Amerika juga telah mempresentasikan data yang menunjukkan bahwa jumlah anggota militer pensiun yang menerima  cedera otot dan tulang telah meningkat sepuluh kali lipat antara tahun 2003 dan 2009, dimana VA harus membayar USD 500 juta per tahun, atau sekitar 6 trilyun per tahun.

US Soldier time to timeVA masih juga harus mengeluarkan lagi USD 5.5 milyar  (sekitar 66  trilyun rupiah) setiap tahun dalam pembayaran langsung kepada para veteran yang cacat secara khusus sebagai akibat dari cedera muskuloskeletal. Hal ini tidak memperhitungkan kerugian produktivitas. Cedera muskuloskeletal menghasilkan 400.000 profil medis yang mesti dikeluarkan setiap tahun. Satu unit infanteri ringan dengan cedera setara dengan rata-rata 7.1  hari tugas militer hilang atau hari tugas terbatas per orang per tahun. Jumlah nilai dolar riil hari-hari tugas militer yang hilang, nilai pembayaran,  biaya sinar-x, ongkos observasi MRI, dokter dan obat-obatan, maka nilainya cukup untuk program pemeliharaan seluruh mesin perang Ground Combat Vehicles , kapal perang Littoral Combat Ship, atau setidaknya bisa membeli tambahan beberapa buah pesawat siluman canggih F-35.

Luka dan cedera non-tempur seperti cendera otot dan tulang, lebih disebabkan karena aktifitas fisik militer. Namun kemampuan kebugaran fisik tentara militer amerika telah menurun drastis. Laporan Survey Perilaku Department Pertahanan Amerika terhadap personel militer aktif,  menyebutkan hanya 35.7 % personil memiliki klasifikasi sehat berat badan, 51.2% kelebihan berat, dan 12.4% obesitas. Tanggapan terhadap hasil survey malah memberikan masalah lebih lanjut di masa depan. Hanya 10% dari anggota militer yang mengatakan bahwa mereka harus mengurangi antara 2- 10 kg berat hanya untuk memenuhi syarat tetap bisa bergabung dengan militer. Namun hanya 3,2 persen dari anggota layanan melaporkan bahwa mereka terdaftar dalam program pengendalian berat badan wajib dan 90 persen dari anggota militer  lulus tes kebugaran fisik terbaru mereka.

Dengan segala permasalahan fisik dan kebugaran penduduk serta tentara Amerika, agaknya sulit bagi Amerika untuk terus bertahan pada peringkat no 1 miiter jika terlibat perang skala global. Perang dalam berbagai bentuk melibatkan banyak faktor tidak hanya fasilitas mesin dan infrastruktur, tapi juga kualitas tentara seperti halnya perang asimetri.  Dalam jangka pendek Amerika boleh jadi unggul sementara karena kecanggihan mesin perangnya terbukti dalam peringkat militer negara, namun ‘the man behind’ mesin perangnya akan menjadi faktor penentu keunggulan tempur dan perang dalam jangka panjang. Kini dengan problem cidera, kebugaran fisik tentaranya, serta faktor obesitas warga agaknya Amerika mesti siap menghadapi skenario terburuk di masa depan jika terlibat perang global, yaitu faktor ketidaklayakan senjata militer terkuat :  ketidaksiapan militer penduduk dan tentaranya.

Sumber :

National Security Organization. 2010. Too Fat to Fight, Dikutip dari laman http://www.missionreadiness.org/2010/too-fat-to-fight/.

Gallup Pool. 2013. US Obesity Rate Climbing. Dikutip dari laman http://www.gallup.com/poll/165671/obesity-rate-climbing-2013.aspx.

Foregn Policy. 2014. Dikutip dari laman http://ricks.foreignpolicy.com/posts/2014/10/24/unfit_for_battle_americas_military_is_growing_tired_injured_and_overweight.

Satu pemikiran pada “Akankah Amerika tetap teratas dalam hal militer jika kualitas fisik penduduk serta tentaranya terus melorot?

  1. Ping balik: Inikah bakal calon negara adidaya berikutnya? (2) | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s