Benarkah standar ISO memberikan kinerja pada bisnis perusahaan atau sebaliknya?

paperworkKetika berdiskusi dengan peserta pelatihan, ada cerita menarik dari peserta. Dikisahkan bahwa ada perusahaan yang selalu berupaya memenuhi target kesesuaian dengan standarisasi ISO, dengan mengikuti, mematuhi ketentuan, persyaratan maupun kebutuhan pada standar ISO tersebut. Ratusan dokumentasi, SOP, formulir serta berbagai ketentuan dicetak sebagai pemenuhan.

Secara skala bisnis, perusahaan tersebut memang belum besar-besar amat, namun biaya untuk konsultansi dan sertifikasi termasuk cukup tinggi dibandingkan revenue yang diperoleh. Pada akhirnya, karena tidak kuat dalam biaya-biaya, entah apakah itu dalam pemenuhan standar ISO atau ada hal lain, akhirnya perusahaan itu tutup.

Pengalaman penulis saat berinteraksi dengan auditor ISO atau standar lainnya untuk sertifikasi, re-sertifikasi dan lainnya, dengan hanya waktu relatif singkat tapi ketat untuk keseluruhan fungsi organisasi sepertinya memberikan pembenaran terhadap kasus di atas. Hampir jargon “ tulis yang anda kerjakan, kerjakan yang anda tulis” menjadi  inti sehingga adanya temuan, finding, mayor seolah-olah adalah kinerja utama. Lha, setelah ada finding, temuan, so what?? . Perusahaan atau organisasi dipaksa untuk memenuhi persyaratan ketentuan, ada dokumentasi tertulis, ada verifikasi persetujuan, memenuhi standar form yang ada dan masih banyak hal lainnya. Pada salah satu klien konsultansi bisnis, bahkan user pernah bertengkar dengan auditor ISO karena berkutat pada hal tersebut.

Memang, jika kita tidak paham akan kerangka filosofis mengapa ISO itu dibuat maka akan terjadi hal seperti ini. Pemahaman secara parsial, hanya tahu kulitnya saja mengakibatkan biaya yang tidak perlu bagi organisasi dalam hal dokumentasi, struktur, waktu audit serta pengurusan lainnya. Penekanan pada aspek inspeksi dan audit menjadi titik utama organisasi.

Apakah ini ada kaitannya dengan standar ISO sendiri? Ada perseteruan dan perdebatan secara kualitatif dan ilmiah tentang hal tersebut.  ASQ bahkan pernah mempertemukan ke dua pihak antara pendukung ISO dan penentang ISO. Chua (2003) menyatakan bahwa pada 146 perusahaan yang berpartisipasi pada sertifikasi ISO mendapatkan beberapa manfaat, tapi juga memperoleh masalah inefisiensi karena sertifikasi , antara lain standarisasi kesesuaian yang ketat, kegagalan program monitoring dan juga keharusan review regular sistem manajemen yang. Sertifikasi ISO seringkali menyita waktu manajemen, melelahkan, terlalu menuntut dan kompleks (Dale, 2002). Sepertinya, apa yang disampaikan diatas, ternyata menjadi kenyataan pada saat organisasi melakukan konsultansi, sertifikasi atau re-sertifikasi ISO.

Pada akhirnya, tidaklah bisa serta merta ISO dijadikan kambing hitam. Namun kenyataan lebih ke pada pelaksanaan, implementasi maupun ketidakpahaman baik itu para auditor, pelaksana, pengguna terhadap kerangka filosofis standarisasi ISO. Sehingga terjadilah seperti kisah diatas, maupun pengalaman para user/pengguna saat harus menghadapi sertifikasi ISO. Penekanan pada aspek konformansi, inspeksi, atau audit seringkali jadi fokus utama sehingga manfaat ISO bagi organisasi menjadi tidak signifikan bahkan malah membuat kepala pusing. Akhirnya ISO menjadi sebuah paperwork semata.

 

Sumber :

Chow-Chua, C., Goh, M., & Wan, T. (2003). Does ISO 9000 certification improve business performance?. The International Journal of Quality and Reliability Management, 20(8/9), 936.

Dale, K. G. (2002). Quality management system versus Quality improvement. Quality Progress, 35(11), 86.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s