Ketika Sony bukan lagi perusahaan Elektronik terkemuka di dunia

Sony profit and lossSony, nama terkemuka untuk barang elektronik berkualitas terutama terkait dengan home electronic, audio, video, consumer electronic dan dikenal dengan sebutan “One Sony” , Satu Sony untuk semua kebutuhan perangkat elektronik anda, kini tampaknya harus berubah. Ketika CEO Sony Kazuo Hirai berencana melepaskan divisi Audio dan Videonya pada 18 Feb 2015 lalu, menjadi pertanda fokus Sony sudah berubah.

Setelah menjual divisi komputer VAIO termasuk spin off divisi TV nya tahun lalu memperlihatkan arah perubahan bisnis Sony. Kini menurut CEO Kaz Hirai, Sony akan memiliki tiga inti bisnis yaitu :

  • Sony Pictures Entertainment
  • Play Station Division. Ini flagship Sony yang masih menguntungkan, berada di posisi pertama dalam era console games generasi delapan, mengalahkan rivalnya Xbox one Microsoft dan Wii U dari Nintendo.
  • Image Sensor untuk Apple iPhone.

Mari lihat pernyataan terakhir. Sony menjual image sensor untuk iPhone, karena memang Sony adalah pemasok image sensor premium untuk produsen smartphone high-end. Apa jadinya jika Apple memutuskan untuk mengganti pemasok? Atau mendisain sendiri – tentunya dengan pihak ke tiga- bagi produk Apple (iPhone, iPad dst). Tentu sudah bisa diprediksi nasib divisi Image Sensor Sony.

Kabar menarik justru dari penggemar console games. Kaz Hirai, yang sebelumnya mengepalai divisi Playstation, namun divisi ini sering di’anaktirikan’ oleh Sony Corporation, akan menjadikannya sebagai fokus strategi pertumbuhan pendapatan. Disini Sony memang bermaksud membenamkan teknologi 3D virtual reality, Augmented Reality dalam Project Morpheus ke perangkat consolenya.

Mengapa Sony menjadi demikian? Apa yang terjadi dengan produk-produk inovatifnya di masa lalu seperti Walkman, Betamax, yang menjadi raja pada era nya tapi kini justru seperti tidak bergaung lagi?

Era keemasan Sony di elektronik memang sudah memudar. Sony memperoleh era keemasan masa tahun 70 sampai dengan 90 an. Namun semenjak itu mengalami kemunduran, baik itu era Nobuyuki Idei (1999-2005), Howard Stinger (2005-2013) dan sekarang era Kazuo Hirai (2013- sekarang). Penggantian CEO Sony di era tiga masa tersebut tentunya bermaksud untuk mengembalikan kejayaan Sony, namun ternyata belum mampu membawa perubahan signifikan ke era masa kejayaaan Sony ketika dibawah Akio Morita.

Selama kepemimpinan Morita, para karyawan dan insinyur Sony didorong untuk bereksperimen,  fokus pada pengembangan teknologi dan produk yang pasar mungkin tidak menyadari produk itu belum diperlukan. Apakah hal itu terdengar familiar? Itulah warisan dari Steve Jobs kepada Apple, dan tampaknya penerusnya Tim Cook mampu membaca hal tersebut dengan peluncuran produk iPhone 6 dengan ukuran display berbeda.

Di bawah mantra karisma Morita, budaya perusahaan Sony dilaporkan sebagai “bebas dan berpikiran terbuka.” Sayang mantra itu tidak terlihat pada masa sekarang.

Dalam dunia elektronik yang cepat dan masa kematangan suatu produk sangat singkat,  kemampuan untuk memperkenalkan inovasi terus-menerus dan cepat ke dalam roadmap produk atau menggeser strategi produk untuk membuat ekosistem yang sama sekali baru – akan menjadi kompetensi inti perusahaan elektronik. Seperti yang dilakukan oleh Apple, dan kini ditiru habis-habisan oleh Xiaomi.

Dalam sebuah ekosistem Apple, MacBook dapat sinkron dengan iPad, yang dapat melakukan sinkronisasi dengan iTunes, yang juga dapat sinkron dengan iPhone, iPod dan Apple TV. Semuanya dirancang untuk menjadi pengalaman yang terintegrasi. Dan meskipun Apple tidak berada dalam bisnis TV tradisional, setidaknya belum saat ini, Apple bereksperimen dengan memasukkan TV ke dalam Apple cloud melalui AppleTV untuk menciptakan gaya hidup digital yang mulus dan terhubung. Sony, sayangnya belum berhasil melakukan itu semua.

Tampaknya, di masa depan kepemimpinan Sony memerlukan gaya seperti Akio Morita atau Steve Jobs untuk mengembalikan era keemasan Sony. Langkah Kaz Hirai mungkin bisa mengembalikan Sony dari kerugian menjadi profit kembali. Namun, mengembalikan ke era keemasan seperti dulu masih menjadi tanda tanya.

Sony nantinya lebih dikenal sebagai industri media, hiburan dan pemasok komponen teknologi tinggi.

Sumber :

Sony Corporation Strategic 2015-2017. 18 Feb 2015. http://www.sony.net

6 pemikiran pada “Ketika Sony bukan lagi perusahaan Elektronik terkemuka di dunia

  1. Salam kenal. Kejatuhan Sony dalam sejumlah lini usaha, seringkali di kaitkan dengan teori creative destruction, dimana Sony dan juga sejumlah perusahaan terkemuka lainnya terlalu “cinta” dan terlalu jumawa dengan produk-produk andalannya sehingga tidak menyadari ada pesaing-pesaingan yang mengincar dari balik tikungan. Pada akhirnya, disejumlah lini usaha yang sudah dibangun, Sony benar-benar dihancurkan oleh para pesaingnya.

    Creative Destruction. Kapan Harus Melakukannya
    https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2014/02/06/creative-destruction-kapan-harus-melakukannya/

  2. Ping balik: Inilah pemenang ajang kontes robot paling bergengsi di dunia tahun 2015 | ilmu SDM

  3. Ping balik: Apa dampak Xiaomi dan Huawei bagi Samsung? | ilmu SDM

  4. Ping balik: Samsung tiru langkah Apple di otomotif? | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s