Saat-saat menuai kebahagiaan bagi keluarga..

GrainAda kisah menarik saat kuliah S3. Seorang dosen menceritakan mengenai bagaimana anak-anaknya sekarang hampir semuanya telah menjadi ‘orang’.  Beberapa  sudah bertitel doktor,  ada menjadi professional di perusahaan asing, rata-rata sudah menempuh S2, ada yang mengambil pendidikan lanjutan di luar negeri dengan beasiswa dan yang paling kecil masih SD. Kisah keberhasilannya dengan anak banyak, sering jadi referensi bagi dosen lainnya, ketika seminar.

Tahukah berapa jumlah anak dosen tersebut? Ada 10. Ya betul, bukan tiga atau empat seperti kebanyakan orang tua sekarang. Wah..koq bisa? Biasanya hanya cerita tentang kakek nenek atau orang dulu yang memiliki jumlah anak besar lebih dari tujuh. Itupun kadang karena beristri lebih dari satu. Terus terang, semua anak dosen tersebut berasal dari satu istri. Benar-benar melawan prinsip KB (keluarga berencana) yang dicanangkan pemerintah.

Bagaimana bisa mendidik semua anak tersebut, padahal jika dipikir-pikir dengan pendapatan dari dosen perguruan tinggi negeri saja sebenarnya secara rasional tentu tidak cukup. Inilah kunci-kunci yang dibeberkan dari sang dosen, mengapa dia bisa mendidik semua anaknya hingga mencapai sukses sekarang. Hebatnya, hampir semua anaknya kuliah di tempat universitas negeri dimana dia mengajar.

Inilah tips-tips yang diberikan, bisa jadi inspirasi hidup bagi kita semua.

  • Semua anak haruslah diberikan makanan dari pendapatan yang bersih dan halal. Tidak boleh dan jangan sekali-kali memberi nafkah keluarga dari penghasilan yang sifatnya syubhat, hasil korupsi, atau kolusi.
  • Selalu mendoakan kebaikan kepada anak tiap hari, terutama intensitas meningkat tiap kali sang anak harus ujian, baik itu saat sekolah atau perguruan tinggi.
  • Tidak pernah berkata buruk,atau kasar pada anak.  Ada pengalaman menarik, dimana sang dosen waktu itu pernah sedang kesal-kesalnya, bilang kepada anak “Tabrakan kamu” , ternyata dalam tempo tidak lama, si anaknya jadi korban tabrakan. Meskipun tidak luka parah, tapi itu jadi pelajaran penting bagi dirinya untuk tidak lagi berkata kasar, buruk kepada semua anaknya. Sebuah aplikasi Rosenthal effect dalam kehidupan.
  • Khatam alquran terus menerus, terutama bagi orangtua.

Hal terpenting menurut penulis adalah yang pertama. Yaitu nafkah bagi keluarga dari pendapatan yang bersih dan halal. Meskipun jumlahnya sedikit, kadang tidak cukup untuk sekeluarga, tapi mereka tumbuh dari input yang bersih, sehingga output hasilnya pun baik. Pernah suatu kali sang dosen bercerita, tentang kekurangan beras untuk makan, lalu ada anak yang berinisiatif untuk bekerja dan berupaya hari itu agar mendapat sekarung beras. Akhirnya mereka pun bisa mendapatkan beras untuk keluarga.

Dari kisah lain tentang sopir taksi juga telah dijelaskan, dimana ketika hidup bergelimang harta tidak jelas, justru tidak mendapatkan berkah. Saat mendapatkan penghasilan lebih kecil namun bersih dan halal, malah mencukupi keluarga. Ada rejeki yang datang dan menaungi sang keluarga, karena telah berikhtiar hanya mencari sumber pendapatan bersih.

Kini sang dosen telah menikmati buah dari benih-benih yang dipupuk sekian lama. Meski beliau tidak mau menerima ‘sumbangan’ dari anak-anaknya yang telah berhasil, ternyata mereka tetap mengirimkan kepada ibunya. Ada prinsip menarik dipegang dosen, bahwa mereka hanya boleh mengirim sumbangan ke orang tua jika sudah memiliki rumah sendiri dan kendaraan.

Sayangnya sedikit sekali tips dosen itu dipraktekkan oleh para pejabat publik di negeri ini. Hampir semua pejabat publik baik itu gubernur, partai politik, menteri, DPR/MPR, bupati , Camat, atau pegawai PNS ada saja yang terlibat kasus. Bayangkan jika semua itu dipraktekkan bagi setiap keluarga di negeri ini. Maka tidak akan lama negeri ini menjadi sejahtera, makmur, dan bahagia.

Sebuah inspirasi pelajaran berharga dan bermakna bagi kehidupan kita, tentang kehidupan bersih, halal dan kebahagiaan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s