Saat Pilihan Menentukan Nasib dan Kehidupan

Tukang Bakso 2Dalam perjalanan pulang ke rumah beberapa waktu lalu, penulis mampir ke gerobak tukang bakso di pinggir jala raya.  Beberapa motor tampak berada di samping gerobak bakso yang hanya menyediakan bangku panjang kecil untuk 4 orang. Kebanyakan pembeli membungkus bakso untuk dibawa pulang, sebagian makan di tempat, termasuk penulis.

Sang penjual bakso, bukanlah tukang bakso baru. Sekitar 10 tahun lalu, si tukang bakso menjual di lain tempat, berjarak sekitar 2 km dari tempat sekarang. Tidak ada yang berubah, masih menggunakan gerobak dorong, dengan pembeli umumnya bermotor. Suatu pertanda jika anda menginginkan jajanan pinggir jalan yang enak dengan harga kompetitif, adalah banyaknya pemotor berkumpul disitu.

Jika ditilik dari rasa, bakso ini tidak kalah dengan yang dijual di mall, bahkan dalam beberapa aspek unggul. Cuma kenapa tidak ada perubahan berarti si tukang bakso dalam perbaikan taraf hidup? Karena itulah si tukang bakso pun diajak ngobrol..

“Bang, ga coba mangkal atau buat tenda warung bakso?” mencoba membuka percakapan sambil menikmati semangkok bakso.

Disini saja cukup, mas” jawab tukang bakso

“Kalau hanya satu gerobak, tentu penjualan terbatas, anggaplah sesuai jumlah bakso yang dibawa. Tapi jika mangkal atau punya kedai bakso, akan bisa maksimal bang..padahal bakso yang abang jual, rasanya enak looh..”

“Ah..nanti kalau mangkal, banyak bayar sana-sini, belum lagi nambah orang dan lain-lain..”

Hmm..ada penolakan terhadap perubahan..apakah ini penyebab utama?. Perlu obrolan lebih dalam untuk memancing.

Baksonya buat sendiri ya bang?” Tanya lagi

Iya buat sendiri..”. Bakso tersebut memang berukuran besar, sejenis bakso urat, namun di dalamnya ada daging-daging kecil yang tidak digiling. Itulah kekuatan bakso yang dijual.

“Apakah abang mau, misalnya bagi hasil dengan saya..tidak ada resiko bayar sana sini, saya memiliki tempat untuk berjualan..tinggal membagi hasil yang diperoleh..”

“Dulu pernah begitu mas..tapi ga berhasil..ribet jika banyak orang kalo berjualan bakso.., harga jual juga akan naik”

Dalam perjalanan bisnis, tentunya perlu menghadapi berbagai rintangan dan terpaan. Si tukang bakso memilih ‘trauma’ dan tidak lagi mau menghadapi resiko yang dulu pernah dijalani. Padahal tawaran yang diberikan sangat menarik. Cukup berdasarkan bagi hasil keuntungan terhadap perolehan. Bisa saja suatu waktu mengalami rugi.

Sayang, tidak semua pelaku bisnis UKM mau menghadapi resiko itu. Mereka tetap memilih jalan ‘standar’ atau merasa sudah garis hidup tidak akan berubah banyak. Jarang diantara tukang bakso yang misalnya memiliki cita-cita atau visi “memiliki kedai bakso terbesar di kabupaten”, atau “memiliki jaringan warung bakso di seluruh tanah air”. Mereka sendiri cukup puas dengan keadaan penjualan bakso yang terbatas. Hanya sedikit pelaku UKM dari bawah yang bisa menjadi besar.

Seringkali ketika melewati tempat tukang bakso itu, kadang kosong. Mungkin karena sakit, atau ada hal lainnya. Akan berbeda jika sudah mempunyai kedai bakso permanen atau sewa tempat dengan sistem bagi hasil. Sampai pada suatu titik, karena usia tua atau renta, maka tukang bakso tidak akan bisa mewarisi ‘resep’ atau rasa bakso yang khas ke pihak lain.

Banyak orang tetap dalam pekerjaannya, karena memang merasa ‘stack’ dan tidak mau pindah dari zona nyaman. Tidak semua orang mau menjadi besar dan lebih sejahtera, karena merasa ‘sudah cukup’ padahal memiliki potensi untuk besar.

Hidup memang sebuah pilihan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s