Mengubah diri sendiri sebelum mengubah orang lain

ChangeManagement-Steps_thumb[2]Ketika memberikan pelatihan kepemimpinan level manajerial, pada sebuah perusahaan mechanical, procurement, construction di bilangan timur Jakarta, ada pertanyaan menarik dari peserta pelatihan mengenai sulitnya bekerja dengan atasan atau pimpinan. Mereka mengatakan perlu teknik dan strategi bagaimana menghadapinya.

Sebelum memberikan kiat-kiat atau tips, maka diajukan pertanyaan ke peserta:

“ Siapa diantara kalian yang selalu mendoakan keluarga, anak istri atau orang tua?”

Hampir semuanya mengangkat tangan. Ya siapa sih, yang tidak mendoakan kebaikan untuk rumah tangga atau keluarga sendiri? Lanjut ke pertanyaan berikut :

“ Siapa diantara kalian yang selalu mendoakan staff anda atau anak buah anda?”

Nah..kini tidak semua angkat tangan. Karena pertanyaannya ada kata ‘selalu’, artinya rutin mendoakan. Beberapa menjawab pernah, dan ada juga yang sering mendoakan kebaikan bagi staff atau anak buahnya agar memiliki prestasi kerja yang baik.

Lanjut ke pertanyaan terakhir.

“ Siapa diantara kalian yang selalu mendoakan boss atau atasan, mendoakan perusahaan ini, agar berkah aktifitasnya dan juga selalu tercapai tujuannya?

Kali ini banyak peserta training terdiam. Nah..disinilah pertanyaan terakhir saya berikan.

“Bapak-bapak dan ibu sekalian, selalu mendoakan kebaikan untuk keluarga, karena mereka memang yang paling mendapatkan hasil akhir dari pekerjaan, berupa nafkah atau sebagian rezki. Tapi bapak ibu melupakan pihak yang selama ini juga membantu proses mendapatkan rezeki atau pekerjaan agar berhasil, yaitu atasan, tempat bekerja ini dan juga rekan kerja atau anak buah sendiri..”

“Memang, mereka mungkin atasan kita kadang acapkali memarahi, memberikan teguran yang kadang sulit kita terima. Tapi seandainya kita mau mengubah mindset kita, bahwa itu sebenarnya ditujukan untuk keberhasilan program/proyek..tentu akan berbeda. Karena itu, sudah seharusnya mereka tidak dilupakan..berikan doa juga kepada mereka, agar bisa bisa menjadi atasan dan pimpinan teladan, yang mengayomi, yang memberikan keteduhan dan juga membimbing kita dengan benar…”

Jika kita menginginkan perubahan dalam lingkungan, janganlah menyalahkan pihak luar. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain berubah dulu. Tapi mulailah dengan diri sendiri dan juga melalui keyakinan positif melalui doa agar lingkungan kerja berubah lebih baik, lebih produktif dan lebih kondusif. Sayangnya, sedikit sekali atau hampir tak pernah penulis menemui karyawan baik level manajerial atau struktural yang rajin berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk kebaikan dan keberlangsungan perusahaan.

Masihkah kita mau mencela tempat kerja kita sendiri? Sungguh suatu hal yang tidak pantas jika kita sampai ‘meludahi’ sendiri sumur pemberi air kepada kita.

Terus bagaimana trik menghadapi atasan yang sulit?. Sebenarnya di blog ini sudah terjawab. Lihat tulisan mengenai efek Rosenthal atau Pygmalion. Keyakinan positif adalah awalnya untuk mengubah keadaan diri sendiri dan sekitar.

Satu pemikiran pada “Mengubah diri sendiri sebelum mengubah orang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s