Kenyamanan yang melenakan…

comfortzone-300x289Organisasi yang memiliki pertumbuhan, biasanya akan mengalami hal ini : Struktur membesar, lapisan organisasi (layer) bertambah, banyak posisi baru, fasilitas/benefit meningkat, dan berbagai macam perubahan lainnya. Namun, sayangnya perubahan tersebut tidak diikuti dengan kelancaran efektifitas maupun efisiensi dalam : alur komunikasi, aliran informasi, eksekusi perencanaan, maupun perbaikan persetujuan.

Inilah dampak pertumbuhan dan besarnya organisasi. Dalam tulisan sebelumnya, baik mengenai ketertinggalan organisasi maupun tentang layer organisasi sebagai hambatan organisasi, ketika organisasi membesar dan tumbuh. Selain itu, ada hal yang perlu diwaspadai lainnya yaitu adalah pemberian fasilitas, penambahan karyawan atau perubahan lain yang dirancang untuk membuat semakin nyaman. Apa saja karakter atau ciri organisasi sehingga memberi kenyamanan bagi karyawan terutama yang duduk di manajerial? berikut adalah ciri-cirinya :

  1. Fasilitas / benefit tidak dikaitkan dengan performa baik itu individu/unit/organisasi. Sering ada pemberian fasilitas berdasarkan tenure, masa kerja, jenjang pangkat dan lainnya. Walhasil, karyawan dengan masa kerja lebih lama, pangkat lebih tinggi akan menerima benefit lebih baik daripada karyawan berprestasi.
  2. Adanya penambahan karyawan yang bersifat indirect terhadap business, daripada yang direct ke business. Karyawan banyak bekerja sebagai administratif, pendokumentasian, supportif, daripada karyawan sebagai operasional, marketing, pengembangan bisnis, riset dan pengembangan. Ada contoh perusahaan, dimana tidak diperbolehkan merekrut sekretaris kecuali untuk level direktur, tetapi para senior manager ‘mengakali’ dengan merekrut staff dengan posisi Document Controller, PDCA Officer, Monitoring Controller dan nama kreatif lainnya.
  3. Terjadinya struktur bertingkat. Ada segelintir karyawan dengan otorikrasi dan birokrasi dalam hirarki dan struktur bersetujuan. Semakin sulit ditemui maka mereka merasa semakin tinggi perannya. Bisa diambil contoh, adalah banyaknya persetujuan bertingkat dan berjenjang. Bahkan untuk hal sederhana sekalipun seperti persetujuan untuk membuat memo. Aneh, tapi ada kejadian nyata.
  4. Sulitnya terjadi kolaborasi karena banyaknya politik kantor. Lebih sering terjadi ‘permainan politik’ daripada berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Dalam bahasa manajemen, too much political savvy than collaborating towards common goals. Bukan berarti politik di dunia pekerjaan diharamkan. Namun terkadang, kepentingan tujuan politik individu untuk hasrat mempertahankan jabatan atau legitimasi kenaikan jabatan menjadi lebih penting daripada perbaikan bisnis perusahaan. Tak heran, eksekusi perencanaan lebih sering menjadi wacana daripada membuat perencaan itu sendiri. Pada beberapa kasus, butuh waktu beberapa bulan dibandingkan realisasi di perusahaan lain yang hanya butuh beberapa hari.

Disinilah peran pemimpin perusahaan diperlukan. Pemimpin harus berani mengambil langkah – meskipun tidak popular- untuk memangkas hal di atas. Keterlenaan dan aspek ‘pembiaran’ akan menyebabkan perusahaan makin menderita, semakin tidak efektif dan semakin tidak efisien. Perusahaan tinggal menunggu menjadi sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s