RA Kartini..Pahlawan Kolonial Belanda atau Indonesia?

Kartini TheosofiUntuk sekian kalinya, negara Indonesia setiap tanggal 21 April memperingati Hari Kartini. Ada baiknya kita mengkritisi mengenai sepak terjak RA Kartini dalam kancah perjuangan bangsa Indonesia. Karena tidak jelas mengenai peran dan apa yang diperjuangkan oleh beliau, entah itu bagi bangsa atau perempuan Indonesia.

Dalam perkenalan dengan Artawijaya, penulis Gerakan Theosofi Indonesia yang diterbitkan oleh Al Kautsar, beliau memang pernah memaparkan bahwa RA Kartini kemungkinan adalah anggota Theosofi atau paling tidak terpengaruh oleh pemikiran Theosofi, yang berakar dari Freemasonry. Theosofi berasal dari “Theos” (Tuhan) dan “Sophia” (Kebijaksanaan). Theosofi berkeyakinan bahwa setiap agama sama , dan menuju pada Tuhan yang sama. Sebuah doktrin menyimpang, serupa dengan ide Pluralisme atau gagasan penyatuan agama melalui Perennialisme.

RA Kartini hanya dikenal ide dan gagasannya yang muncul melalui surat kepada Ny Abendanon, seorang wanita yang ditugaskan Kolonial Belanda sebagai Direktur Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Abendanon tercatat sering meminta nasihat dari seorang orientalis kawakan bernama Snouck Hurgronje. Menurut Hurgronje, golongan yang paling keras perlawanannya kepada kolonial Belanda adalah golongan Islam. Sehingga memasukkan peradaban barat, menurut Hurgronje adalah cara paling jitu mengatasai pengaruh Islam. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh untuk kemudian di’barat’kan pemikirannya. Hurgronje menyarankan kepada Abendanon agar mem’barat’kan Kartini.

Inilah beberapa surat Kartini kepada Abendanon :

Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan,adalah bunyi tanpa makna.” (Surat Kartini Kepada E.C Abendanon, 15 Agustus 1902)

Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain.” (Surat 31 Januari 1903)

Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E.C Abendanon, 31 Januari 1903).

Di sini sudah terlihat bahwa pemikiran Kartini sangat dipengaruhi Theosofi. Karena berkawan akrab dengan Abendanon, yang nota bene juga sahabat dari Orientalis Snouck Hurgronje, maka seringkali Kartini dikirimkan buku-buku mengenai paham Humanisme, Pluralisme, dan Okultisme diantaranya buku Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Kartini juga membaca buku De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.

Dari segi kiprah nyata, beberapa pertanyaan besar muncul mengenai Kartini ini:

  1. Kartini hanya bicara atau menulis surat mengenai suku Jawa saja. Tidak pernah bicara mengenai suku-suku lain di seantero Nusantara. Karena itu, Kartini sangat egosentris tentang jawa.
  2. Tidak pernah sekalipun tercatat dalam sejarah, Kartini melakukan perlawanan kepada pihak penjajah kolonial belanda. Yang terjadi malah berteman akrab, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh kolonial belanda.
  3. Dibandingkan tokoh wanita lain, kiprah nyata dan aksi riil Kartini tidak ada. Entah itu dalam pendirian sekolah, melakukan penerbitan surat kabar atau mengangkat senjata.

Mari bandingkan dengan tokoh sejarah perempuan Indonesia yang lebih bermanfaat dan ada aksi riilnya dibandingkan RA Kartini :

  1. Dewi Sartika, (1884-1947). Wanita ini tidak sekedar berwacana tentang pendidikan kaum wanita, namun juga mendirikan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.
  2. HR Rasuna Said (1910-1965). Pernah bergabung dengan Sarikat Rakyat, dan karena pemikiran kritisnya, sempat ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda pada tahun 1932. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum pemerintahan Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda
  3. Cut Nyak Dien (1848-1908). bahkan, ia tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Kartini malah melihat Belanda sebagai tempat tujuannya. “Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland (Belanda), karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih” (kepada Ny. Ovinksoer, 1900).

So, judul tulisan menggambarkan posisi Kartini. Pengaruh theosofi maupun pemikiran kolonial baratnya lebih kental daripada upaya pembaruan terhadap nasib bangsa Indonesia, apalagi untuk kaum perempuan. Lebih tepat menggambarkan Kartini adalah :  Tokoh ningrat jawa yang dipengaruhi pemikirannya oleh Belanda agar bisa membantu kolonialisme di Nusantara secara berkelanjutan, melalui politik etis kolonial Belanda.

Sebagai penutup, simak surat dan isi tulisan Kartini berikut :

Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902)

Nah..masih layakkah RA Kartini menyandang gelar pahlawan?

 

References :

Artawijaya. 2010. Gerakan Theosofi Indonesia. Pustaka Al-Kautsar

Artawijaya.2010. Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara. Pustaka Al-Kautsar

F.G.P. Jaquet (red.), Kartini .2000. Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya. 3rd edition. Jakarta: Djambatan, xxii + 603 pp

2 pemikiran pada “RA Kartini..Pahlawan Kolonial Belanda atau Indonesia?

  1. Ping balik: ‘Pahlawan’ yang bukan pahlawan sebenarnya | ilmu SDM

  2. Ping balik: Pantaskah Ki Hajar Dewantara menjadi bapak Pendidikan Nasional? | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s