Talent Acquisition ala Google, bagaimana mereka merekrut talenta terbaik ex pemenang DARPA Robotic Challenges (DRP)

ChallengeTasksV6 Hi-ResPada suatu sesi diskusi manajemen, ada pembicaraan mengenai akuisisi talenta, atau talent acquisition. Ada yang berpendapat bagian perekrutan harus merubah menjadi Talent Acquisition, sebagai bagian Talent Management. Tentu saja penulis tidak sepenuhnya setuju dengan ide tersebut, sebelum filosofi atau dasar talenta didefinisikan dengan jelas. Dasarnya begini, ada sebuah jabatan pada sebuah perusahaan dengan nama “Talent Acquisition Specialist” namun pekerjaannya tidak lebih dari sekedar Administrasi Seleksi Surat Lamaran yang datang. Nah..inilah yang perlu pembenahan. Jangan hanya menggunakan istilah ‘langitan’ padahal kerjaan masih ‘kuli’.

Mari lihat Google. Setelah melihat kemenangan tim SCHAFT dalam ajang menantang kompetisi bergengsi robot DARPA (Defence Advance Research Project Agency) atau DRP bulan Desember 2013, langsung mengakuisisi tim tersebut bulan Februari 2014. Tidak mudah bagi Google untuk bisa ‘membeli’ tim SCHAFT, karena tim SCHAFT sudah mendapatkan iming-iming pendanaan dari DARPA untuk melanjutkan risetnya, termasuk investor lainnya. Bukan Google namanya kalau hanya hal begini sudah menyerah. Mereka langsung bernegosiasi dengan kepala eksekutif tim SCHAFT dan akhirnya berhasil meyakinkan mereka untuk bergabung . Jadilah sekarang tim SCHAFT bagian dari Google.

SCHAFT, tim yang dibentuk dari para engineer, mahasiswa maupun peneliti Universitas Tokyo memang pantas menjadi tim terbaik dalam ajang kompetisi robot DARPA. Tim ini sekaligus membuktikan dominansi Jepang mengenai robot masih sulit dikalahkan dari tim negara lain. DARPA sendiri menyebutkan bahwa ajang kompetisi ini merupakan program paling ambisius dan paling besar dalam riset dan pengembangan robot, yang bertujuan mempercepat pengembangan robot untuk membantu manusia tidak hanya dalam kondisi darurat kebocoran nuklir tapi juga menolong manusia pada kondisi kebakaran, gempa bumi, kebocoran pabrik kimia serta bencana alam lainnya baik yang bersifat natural atau karena faktor manusia.

Tim terbaik dari berbagai Universitas atau lembaga, berkompetisi cukup sengit di ajang ini. Mereka memamerkan sensor, actuator, batterai, sistem kontrol terbaru untuk mengatasi hambatan dalam DRC (DARPA Robotic Challenge) 2013, seperti bagaimana robot menjalankan kendaraan dengan rintangan, membuka pintu, berjalan di area kasar, membersihkan sampah, membuka berbagai pintu, menaiki tangga industri, membongkar bata dinding, membawa dan menghubungkan hose, dan terakhir mencari serta menutup katup yang bocor. Semuanya berasal dari satu robot, untuk melakukan semua pekerjaan tersebut.

SCHAFT RobotSCHAFT berhasil mengalahkan tim prestise dari lembaga dan universitas terkemuka di Amerika, seperti MIT, Jet Propulsion Lab-NASA , Florida Institute for Human & Machine Cognition dan lainnya. Mereka mengumpulkan nilai skor tertinggi, yaitu 27. Keberhasilan tim SCHAFT dibandingkan tim lainnya, karena mereka datang dengan banyak inovasi baru dalam dunia robot. Secara khusus, mereka merancang aktuator baru yang kuat. Di tahun 2010, mereka mengembangkan compact liquid-motor cooled dan high-output driver module yang mampu menghasilkan kecepatan tinggi dan torsi tinggi tanpa terlalu panas, masalah yang umum untuk motor di robotika. Tim SCHAFT yang dikepalai oleh CEO Yuto Nakanishi, dan CTO Junichi Urata, adalah ilmuwan yang sudah menerbitkan lebih dari 40 tulisan ilmiah mengenai robot. Latar belakang keilmuan dan akademisi, keahlian serta pengalaman terlibat dalam project Humanoid Robot, tampaknya menjadi keberhasilan dari tim SCHAFT.

Yang menjadi tanda tanya justru adalah Google. Apa kira-kira yang ada di benak Google, dengan mengakuisisi tim SCHAFT, sebagai pemenang DRP ini? Juru bicara Google hanya menyebutkan “ Terlalu dini untuk berbicara mengenai rencana atau proyek khusus Google tentang robot”. Tim SCHAFT menurut Google juga akan tetap bekerja di Jepang, sebagaimana asal muasal mereka. Yang jelas, langkah Google mengakuisisi perusahaan dan tim robot terkemuka sepertinya memang ada ambisi tertentu, karena bulan Desember 2013 lalu, Google baru saja membeli Boston Dynamics, pembuat robot Cheetah dengan empat kaki yang mampu berlari lebih cepat dari Usain Bolt.

Ya..itulah cara Google merekrut talenta terbaik, sesuai dengan ‘rencana khusus’ mereka. Mereka benar-benar mencari talenta terbaik sesuai dengan rencana program atau proyek khusus mereka. Kita mungkin hanya bisa menunggu hasilnya, beberapa waktu kemudian, dengan hadirnya teknologi terbaru yang mencengangkan dan belum terpikirkan saat ini.

References :

DARPA military website. http://www.darpa.mil
Boston Dynamics. http://www.bostondynamics.com
DARPA Robotic Challenge. www. theroboticschallenge.org

6 pemikiran pada “Talent Acquisition ala Google, bagaimana mereka merekrut talenta terbaik ex pemenang DARPA Robotic Challenges (DRP)

  1. Ping balik: Masih layakkah Misi Google Sekarang? | ilmu SDM

  2. Ping balik: Inilah Ajang Kontes Robot Paling Bergengsi Sedunia tahun 2015 ! | ilmu SDM

  3. Ping balik: Inilah daftar lengkap peserta Final Darpa Robotic Challenge 2015 | ilmu SDM

  4. Ping balik: Mengapa Apple mengakuisisi Faceshift ? Sebuah analisis | ilmu SDM

  5. Ping balik: Ketika ide tulisan menjadi kenyataan… | ilmu SDM

  6. Ping balik: Cara merekrut talenta untuk Perusahaan Start-Up dan Digital Technology Demonstrator | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s