Feasibility Study Vs Intuitive, Mana yang dipilih?

Mindset BrainSaat memberikan training Feasibility Study beberapa waktu lalu, ada pertanyaan menarik dari salah seorang peserta. Apakah perlu dilanjutkan suatu proyek, bila dari hasil kelayakan memberi dampak negatif, namun pemilik proyek tetap memaksa untuk terus saja?. Sebuah pertanyaan sangat baik dan mendasar, karena disini dihadapkan pada suatu kontradiksi. Hasil analisis tidak layak, tapi yang empunya ide proyek tetap memaksa jalan.

Proyeksi bisnis, atau proyeksi finansial dalam studi kelayakan dilakukan berdasarkan asumsi-asumsi atau batasan yang dibuat untuk kondisi masa depan. Asumsi itu berdasarkan pertumbuhan produksi, pertumbuhan penjualan, peramalan biaya. Biasanya, penilaian aspek finansial pada kelayakan meliputi : Rencana Biaya Proyek yang akan dijalankan (Cost of Project), Analisis Peramalan (Financial Forecasting Analysis), Analisis Penilaian Investasi (Investment Valuation) maupun Analisis Sensitivitas (Sensitivity Analysis). Boleh jadi setelah melakukan analisis kelayakan finansial, kita mendapatkan nilai kurang baik dalam hal Payback Period, ROA, NPV atau Profitability Index. Masalahnya, semua data yang dipakai adalah berdasarkan asumsi pertumbuhan, suku bunga, kondisi dll, dimana bisa saja terjadi di waktu mendatang kondisi tersebut berubah.

Disinilah letak perbedaan tajam antara studi kelayakan dengan intuisi bisnis. Seorang wirusahawan atau entrepreneur sering kali memiliki ketajaman intuisi mengenai layak tidaknya suatu proyek atau ide bisnis, dimana jika dijalankan akan memberikan keuntungan masa depan, meskipun secara hitungan proyeksi finansial berbeda. Pada dasarnya, inilah yang disebut penglihatan bisnis masa depan atau business vision. Mereka, para entrepreneur lebih memikirkan bagaimana ide tersebut bisa berjalan, dan segala aspek sumberdaya atau finansial akan menyusul nanti. Boleh jadi, mereka melihat sesuatu, faktor lain dan kondisi masa depan, dimana sulit untuk dijelaskan saat ini tapi akan mempengaruhi kesuksesan ide bisnis tersebut mendatang. Mirip seperti saat Mark Zuckenberg ketika membuat Facebook. Jika saat awal dilakukan  studi kelayakan, mungkin tidak ada yang berpikir sebuah portal sosial media bisa menguntungkan. Tapi perkembangan dramatik sosial media, pertumbuhan internet, kebutuhan manusia berinteraksi online dan lainnya, menyebabkan Facebook tetap bertahan sampai sekarang, bahkan akhir tahun 2013 membukukan keuntungan besar.

Pada akhirnya, pelaku bisnis yang baik harus mampu mengkombinasikan antara analisis rasional melalui studi kelayakan dengan intuisi bisnis untuk menghasilkan keputusan yang terbaik. Tidak perlu terjadi, sebuah intuisi bisnis mendominasi keputusan ide tanpa dukungan data atau informasi sama sekali, ibarat  terjun ke jurang tepi laut, tanpa perlengkapan parasut atau mengetahui kedalaman laut tepi jurang tersebut.

Satu pemikiran pada “Feasibility Study Vs Intuitive, Mana yang dipilih?

  1. Ping balik: Ketika ide tulisan menjadi kenyataan… | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s