Ketika penemuan inovasi memiliki sistematika : TRIZ

problem solutionSelama bekerja di kantor paten uni soviet di tahun 1940 an, George Altschuller membantu pengecekan proposal  penemuan untuk paten. Sepanjang perjalanan dokumen,  Altschuller memperbaiki dan mempersiapkan semua aplikasi untuk pengajuan di kantor paten. Total lebih dari 40 ribu dokumen diperiksa dan diperbaiki terkait persiapan proposal paten.

Dari puluhan ribu dokumen tersebut, disadarinya bahwa sebuah masalah memerlukan solusi baru yang inovatif, jika ada kontradiksi yang belum terselesaikan, dengan kata lain memerlukan peningkatan satu parameter yang memiliki dampak negatif pada parameter lainnya.  Altschuller lantas menyebutnya sebagai “ Kontradiksi Teknis”.

Di kemudian hari, konsep yang dirumuskan dalam bahasa rusia Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadatch disingkat TRIZ. Dari sekian dokumen paten yang diajukan, Altschuller menemukan  adanya serangkaian prinsip-prinsip, konsep ideal dalam suatu sistem, matriks kontradiksi, solusi standar, dan beberapa hukum evolusi sistem teknis . Yang paling terkenal adalah 40 prinsip penemuan, sebagai dasar parameter rekayasa suatu obyek, seperti berat, panjang maupun toleransi manufaktur untuk memperoleh solusi terhadap permasalahan rekayasa peralatan yang ditemui.  Pada akhirnya apa yang dirumuskan oleh George Altschuller menjadi Teori Penemuan untuk Pemecahan Masalah, atau TIPS (Theory of Inventive Problem Solving).

Suatu bentuk konsep universalisme dalam mencari penemuan baru merupakan inti dari TRIZ ini. George Altschuller telah menemukan prinsip-prinsip universal bagaimana menyelesaikan suatu problem melalui teori dasar bahwa sebagian besar dari problem yang membutuhkan solusi inventif, biasanya mencerminkan kebutuhan untuk mengatasi dilemma atau trade-off antara dua elemen yang saling bertentangan. Maka dengan menggunakan konsep TRIZ, sebuah strategi yang sistematis atau suatu perangkat peralatan dapat diciptakan sebagai solusi superior untuk mengatasi kebutuhan kompromis antara dua elemen yang saling bertentangan tersebut.

Terlihat rumit, tapi sebenarnya tidak. Mari ambil contoh sederhana. Sebuah kompor gas, adalah kompor yang memiliki daya panas/kalor baik,  namun ada resiko dampak api yang ditimbulkan bisa menimbulkan kebakaran. Lagi pula ada masalah terhadap transfer panas yang tidak hanya menuju perangkat masak tapi juga lingkungan sekitar, seperti gas polutan sehingga sangat berbahaya jika menggunakan kompor gas di dekat bahan mudah terbakar seperti kayu, kertas maupun plastik. Selain kompor gas ada kompor listrik.  Sederhananya kompor listrik menggunakan kumparan yang dialirkan arus listrik sehingga menjadi membara. Jauh lebih baik dari kompor gas, tidak ada gas polutan,tetapi tetap ada panas dari elemen dan juga efisiensi termalnya jauh lebih rendah daripada kompor gas. Maka dibutuhkan kompor yang bisa menggabungkan kedua fungsi terbaik itu yaitu : aman, tidak berbahaya, hanya memanaskan panci / wajan pemasak, efisiensi kalori tinggi, dan tidak membahayakan lingkungan. Gabungan kedua fungsi tersebut, adalah bagaimana mencari dan membuat sebuah kompor yang bisa memberikan transfer panas ke panci/wajan, tanpa perlu menimbulkan resiko panas lingkungan, memiliki efisiensi termal tinggi, tidak menimbulkan gas polutan SOx dan NOx.  Maka lahirlah kompor listrik induksi, sebagai contoh aplikasi TRIZ.

Keberhasilan TRIZ dalam mendorong inovasi dan penemuan menjadi sumber utama bagi perusahaan, untuk meraih keunggulan. Ketika Apple meluncurkan iPad, tetapi tidak memiliki kemampuan komunikasi seperti iPhone, maka Samsung ‘memperbaiki’ kekurangan itu dengan meluncurkan Galaxy Tab, sebuah tablet PC android plus penambahaan kemampuan/elemen untuk komunikasi.  Itu adalah solusi inventif, dimana ada kebutuhan tablet PC seperti iPad, tapi juga mempunyai kemampuan berkomunikasi.

Tak heran, beberapa perusahaan besar dunia seperti HP,GE, Xerox, IBM, LG, P&G, Ford, Daimler-Chrysler, Boeing maupun organisasi seperti NASA telah menggunakan TRIZ ataupun turunan konsep TRIZ pada project pengembangan produk baru atau ketika menemukan masalah baru yang membutuhkan solusi inventif. Beberapa modifikasi dan turunan dari TRIZ dikenal juga sebagai SIT (Systematic Inventive Thinking), ASIT (Advance Systematic inventive Thinking), USIT (Unified Systematic Inventive Thinking),  JUSIT (Japanese Version of Unified Systematic Inventive Thinking).

References :

Sheng, I. L. S.; Kok-Soo, T. (2010). “Eco-Efficient Product Design Using theory of Inventive Problem Solving (TRIZ) Principles”. American Journal of Applied Sciences 7 (6): 852–858.

Barry, Katie; Domb, Ellen and Slocum, Michael S.Triz. What it is Triz. The Triz Journal. Real Innovation Network.

Wallace, Mark (June 29, 2000). The science of invention. Salon.com

Satu pemikiran pada “Ketika penemuan inovasi memiliki sistematika : TRIZ

  1. Ping balik: Training Quality Indonesia-Konsultan ISO 9001-Konsultan Advance quality-Pelatihan Mutu | Kami lembaga Training Quality dan Konsultasi ISO untuk implementasi sertifikasi mutu dan kualitas produk maupun jasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s