Saat perusahaan tidak terbuka terhadap kondisinya

Truth_Open_Seringkali saat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan maupun ancaman dan peluang bagi perusahaan, data yang ditampilkan belum memberikan makna. Artinya, data tersebut tidaklah muncul secara tepat ataupun detil, sehingga masih ada sebagian tidak mengemuka. Dalam kata lain, data dan informasi diberikan belum akurat.

Inilah kesalahan yang terjadi. Kita tidak mau mengungkapkan kebenaran mengenai apa kondisi riil dalam perusahaan. Kita hanya mau membeberkan apa-apa yang ‘pantas’ untuk disampaikan, baik kepada pemilik perusahaan atau top manajemen. Tentu saja akibatnya tidak baik, jika ketidak akuratan informasi tersebut terus berlanjut.

Dalam sesi workshop strategis yang dilakukan penulis , muncul kejadian mirip diatas. Informasi dari bottom-up manajemen, mengenai data-data kekuatan, kelemahan, ancaman maupun peluang (SWOT) bagi perusahaan setelah direvisi oleh tim internal, kemudian di’bongkar ulang’ lagi oleh top manajemen. Ada alasan mengapa hal tersebut perlu direvisi karena kurang ‘strategis’, bila di ‘action’ sekarang maka hal tersebut akan terselesaikan dan berbagai lainnya. Kenyataannya, bahwa jika memang mudah dilakukan ‘action’, mengapa tidak dilakukan saja dari dulu? artinya issu tersebut sudah bergantung lama dan sampai sekarang belum ada penyelesaian.

Apa yang bisa dipelajari dari atas, ada kelemahan pada faktor komitment untuk eksekusi strategi, berdasarkan informasi kondisi riil internal / eksternal perusahaan. Acapkali kita membiarkan kondisi itu berlarut, karena dianggap terlalu mudah untuk ditangani dibandingkan hal lain yang lebih penting.  Ketika kita menganggap remeh suatu persoalan kecil, maka boleh jadi kita tidak peduli terhadap hal lebih besar. Kepedulian terhadap hal kecil merupakan langkah awal untuk membereskan sesuatu lebih besar, karena hal-hal remeh lebih mudah untuk diselesaikan dibandingkan hal-hal besar, yang mungkin membutuhkan energi, sumberdaya, koordinasi serta alokasi waktu lebih besar dan kompleks. Bisa saja kita beralasan dari itu adalah pareto, namun hendaknya diingat. Ketidakmampuan untuk segera menyelesaikan hal-hal kecil adalah bagian dari manajemen.

Disinilah letak keberhasilan dan kemampuan para leader untuk bisa mengeksekusi rencana atau plan yang telah disusun. Ketika menyusun SWOT sebagai bagian analisis kondisi internal/eksternal perusahaan, selayaknya perusahaan benar-benar terbuka dan jujur atas kondisi seutuhnya. Ketidakjujuran atau menutupi keadaan sebenarnya bukanlah hal baik, karena dari situ keputusan penting bisa diambil. Beberapa perusahaan besar telah mengalami hal tersebut.  Kejatuhan Blackberry, Kodak adalah contoh nyata kegagalan dalam hal percepatan mengeksekusi rencana strategi, ketika melihat pasar sudah bergerak dari konten yang ‘kaku’ seperti tampilan OS Blackberry, menuju konten dinamis dan intuitif iOS dan Android. Inilah yang dikemukakan penulis dalam menengahi kondisi diatas, sebuah keterbukaan dan kejujuran tentang perusahaan sendiri, merupakan hal krusial saat menganalisis kondisi perusahaan sehingga bisa diambil perencanaan tepat untuk selanjutnya dieksekusi.

Jadi, sudahkah kita jujur dan terbuka atas kondisi internal / eksternal kita atau kita malah lebih suka menutupinya? pilihan ada di tangan anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s