Belajar dari Netflix, bagaimana mempertahankan High Performance Culture Employee

NetflixNetflix (Nasdaq:NFLX),  adalah sebuah perusahaan penyewaan video-on demand melalui internet streaming. Melayani wilayah US, Amerika Utara, Amerika Selatan dan sebagian wilayah Eropa seperti UK, Finlandia, Belanda. Sejak didirikan di tahun 1997 oleh Reed Hastings, telah berkembang menjadi salah satu peyedia streaming dan VOD (Video-On-Demand)  terbesar di dunia dengan jumlah pelanggan 33 juta , dimana pelanggan bisa menonton video melalui PC, Set-Top-Boxes, Smart TV maupun Console Devices seperti X-Box, PS,Wii, TabletPC dan lainnya.

Dari hanya 20 orang, sekarang sekitar 2000 lebih karyawan, menunjukkan perkembangan pesat  Netflix. Perusahaan ini memiliki budaya yang unik dalam mempertahankan keberlangsungan bisnisnya. Menyelarasakan dengan perkembangan teknologi yang cepat, dimana dulunya Netflix mengandalkan penjualan DVD by email, kemudian mulai beralih jasa Streaming,  membutuhkan karyawan yang mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Apa saja yang ‘diajarkan’ oleh Netflix oleh founder dan CEOnya, mari kita simak :

Membentuk High Performance

Di Netflix, great workplace bukanlah diartikan sebagai tempat kerja dengan benefit luarbiasa, kantor yang indah atau dengan kantin yang  lezat. Namun great workplace di Netflix adalah bagaimana jika setiap karyawan mampu secara efisien menarik dan mempertahankan rekan kerja yang menakjubkan. Ada ungkapan yang selalu ditekankan oleh CEO bahwa Netflix leader harus dapat meraih, mempertahankan maupun ‘mengurangi’ secara cerdas, sehingga Netflix akan memiliki star employee di setiap posisi. Tes yang diberikan oleh para leader / manager di Netflix adalah : “ Mana dari sekian karyawan saya, jika mereka akan keluar dari perusahaan ini untuk jenis pekerjaan serupa pada perusahaan lain, akan saya pertahankan habis-habisan di Netflix?”

Memberikan kebebasan dan tanggungjawab (Freedom & Responsibility)

Jika perusahaan semakin besar, maka kompleksitas cenderung membesar. Di Netflix, awalnya memberikan kebijakan cuti / off /liburan tahunan bagi karyawan. Namun kemudian kebijakan itu ditiadakan. Mengapa? karena karyawan di Netflix biasa bekerja secara online tiap malam, kadang di hari libur, melayani email, kadang juga mengambil waktu istirahat. Maka Netflix tidak melacak jumlah jam kerja karyawannya, tapi memberikan kebebasan bagi karyawan untuk mengambil sendiri jumlah hari liburnya. Sebagai contoh, karyawan bisa mengambil libur panjang, dan kembali lagi bekerja dengan idea atau inspirasi segar bagi perusahaan.  Landasannya adalah : Di Netflix tidak ada kebijakan baju yang harus dipakai karyawan, tapi itu tidak berarti anda boleh telanjang di kantor.

Lantas bagaimana aturan untuk perjalanan dinas, hubungan dengan vendor/supplier atau lainnya yang umum diberikan aturan/standar ketat oleh perusahaan. Nah..ini bagian yang menarik. Netflix memberlakukan kebijakan umum terkait pengeluaran, entertainment, hadiah atau perjalanan. Yaitu, Act in Netflix’s Best Interest –Berlakukan untuk kepentingan terbaik bagi Netflix. Karyawan disaat menggunakan perjalanan dinas harus merasakan seolah-olah itu menggunakan uang sendiri, biaya yang dikeluarkan memang berharga dan perlu untuk keperluan perusahaan. Contoh sederhana adalah : Jika anda berada di restoran mewah, tentu wajar jika hal itu dilakukan oleh tim sales marketing bersama customer , tapi tidak pantas jika dilakukan karyawan Netflix sendirian atau bersama rekan kerja.

Filosofi kompensasi pada Top Market

Di Netflix tidak memberlakukan bonus kinerja atau bonus tahunan. Mereka percaya, bahwa hal itu tidak dibutuhkan jika anda mempekerjakan karyawan yang tepat. Filosofi di Netflix adalah, jika anda mempekerjakan karyawan yang sudah dewasa pemikirannya dan meletakkan kepentingan perusahaan, maka sebuah bonus tahunan tidak akan membuat karyawan bekerja lebih keras atau lebih cerdas. Di Netflix, mereka membiarkan karyawan mengikuti interview dengan perusahaan kompetitor dan sejenis untuk mengetahui berapa besaran pasar upah untuk pekerjaan tersebut. Hal ini biasa dihindari oleh praktisi HR perusahaan lain, namun justru di Netflix diperbolehkan. Bahkan bagian HR Netflix meminta agar mereka menginformasikan berapa tawaran dari kompetitor tersebut, karena itu adalah sumber informasi berharga. Di Netflix, mereka lebih mempercayai pada pasar upah.

Itulah sekelumit ‘ajaran’ sebagai budaya Netflix. Sangat menarik bahwa apa ditawarkan oleh Netflix, mungkin sedikit bertentangan dengan pakem yang biasa diatur oleh para praktisi HR. Disinilah bedanya. Berada pada iklim dan perkembangan teknologi yang kompetitif, maka praktik-praktik terdahulu yang mungkin efektif dijalankan pada masa tersebut, kini terlihat kuno serta tidak aplikatif dalam lingkungan bisnis sekarang maupun masa depan. Maka peran HR di masa mendatang sepertinya bukan lagi sebagai Business Partner, seharusnya menjadi ‘Enabling Business”. Inilah yang penulis kemukakan pada saat Sharing Session pada acara Kopdar HRM club di JDC 14 Des 2013 lalu, mengenai How to Design HR Roadmap. Netflix sudah membuktikan bahwa HR bisa menjadi Enabling Business.

2 pemikiran pada “Belajar dari Netflix, bagaimana mempertahankan High Performance Culture Employee

  1. ya menarik, jika Perusahaan sdh besar. Jika Perusahaan masih merangkak dan masih ribet soal cash flow dll agaknya hanya akan membuat karyawan menderita. Yang bertahan hanya karena butuh kerja bukan karena loyalitas.

    Ini merupakan tantangan dan jelas merupakan hal menarik bagi Perusahaan

    • Mas Arie, sebenarnya tidak perlu menunggu perusahaan besar. Perusahaan justru jadi besar karena menerapkan filosofi dan budaya yang mendukung. Netflix sudah menjalani hal itu, dan bisa dijadikan best practise bagi perusahaan.
      Salam,
      T. Shahindra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s