Pemimpin berkualitas tidak lahir di alam demokrasi (2)

al fatihDalam tulisan sebelumya disebutkan bahwa memang sistem demokrasi tidak akan melahirkan pemimpin yang berkualitas atau terbaik. Lantas, sistem apakah yang bisa melahirkan pemimpin terbaik dan teladan bagi rakyat atau masyarakat?.  Tentunya ada, asalkan rakyat atau masyarakat ini sadar dan mau membuka diri terhadap sistem lain yang lebih adil.

Memang, di jaman sekarang hampir tidak ada contoh kepemimpinan yang layak atau teladan, akibat lahir atau muncul dari sistem yang sudah tidak benar. Mari kita lihat contoh terbaik yang ada di masa lampau, dimana kemunculan pemimpin ini sudah didengungkan oleh Nabi besar, Muhammad Rasulullah SAW ratusan tahun sebelumnya.

Waktu itu, Sabda Rasullullah : “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335). Kota Konstatinopel, sekarang disebut Istambul  adalah pusat ibukota wilayah kekuasaan Romawi Timur dulu, dimana sudah banyak yang berusaha menaklukkannya tapi selalu gagal. Sampai pada akhirnya, kekuasaan itu runtuh ditangan seorang Sultan berusia muda, sekitar 20 an yang memimipin pasukan terbaik, sesuai sabda Rasullullah.

Beliau adalah Muhammad – Al Fatih, masih berusia sekitar 25 tahun, (ada yang menyebutkan 21 tahun) saat memimpin pasukan untuk menguasai konstatinopel di tahun 1453M.  Memiliki  kepakaran dalam bidang militer, sains, matematik dan menguasai enam bahasa (bahasa Turki, Greek, Hebrew, Arab, Parsi dan Latin) pada ketika usia sangat muda.

Kisah kepemimpinan maupun karakter Al-Fatih sungguh mengagumkan. Ada suatu kisah setelah menaklukkan Konstatinopel, muncul sedikit persoalan yaitu siapa yang layak untuk memimpin shalat jum’at  atau menjadi imam shalat Jum;at.

Al-Fatih menawarkan diri kepada para rakyatnya. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri…lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh  pasukannya untuk bangun.

Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!!” .  Maha suci Allah..ternyata, tidak seorangpun pasukan yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara  pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan shalat fardhu.  Ini membuktikan kualitaskeimanan tentaranya adalah tentara yang terbaik saat itu.

Lalu Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasukan pimpinan Al-Fatih ini sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelum shubuh dan shalat rowatib lainnya. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa mantap kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, dan rajin ibadah pasukan Al Fatih ini.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh pasukanya Muhammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!”

Disinilah, ada pemandangan yang menakjubkan sejarawan barat dan timur. Semua pasukan yang hadir dengan cepat duduk… Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri diantara. Siapakah dia…? Dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Romawi Timur, Kekaisaran Byzantium  Konstantinopel.  Ternyata hanya beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tidak pernah kosong/absen semalampun, baik itu shalat rawatib maupun shalat malam tahajud.

Dari kisah diatas bisa digambarkan, bahwa  tentara penakluk Konstatinopel dan pemimpinnya merupakan yang terbaik saat itu. Semua tentara Al-Fatih adalah tentara yang tidak pernah meninggalkan shalat wajib. Itu sudah menunjukkan bahwa tentara Al-Fatih adalah pasukan yang shaleh, jujur dan menegakkan akidah dengan benar. Pasukannya juga rajin melakukan shalat sunat rawatib, meski ada kalanya satu dua yang terlewat. Mereka juga terbiasa shalat malam. Hanya saja, cuma Al-Fatih seorang diri dari sekian puluhan ribu pasukannya yang tidak pernah melewatkan shalat sunnah  atau tinggal kosong satu malam pun ketika shalat tahajjud.

Apa pelajaran yang bisa diterima dari kisah di atas? Sangat sederhana. Pemimpin atau imam itu adalah orang yang terbaik kualitasnya dari semua orang atau rakyat. Al Fatih sudah membuktikannya, hanya beliau satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkan shalat Tahajjud.  Tentaranya juga bukan sembarangan. Mereka adalah tentara terbaik seperti sabda Rasulullah, tidak pernah satupun meninggalkan shalat wajib, dan biasa mengerjakan shalat sunat rawatib serta rajin melakukan shalat tahajud.  Tentunya, pemimpin model Al-Fatih ini tidak bisa lahir di alam demokrasi yang berdasarkan suara terbanyak. Karena pemimpin terbaik itu, harusnya dipilih berdasarkan kriteria-kriteria baik seperti yang disuarakan oleh Al-Fatih saat memilih Imam Shalat jum’at.

2 pemikiran pada “Pemimpin berkualitas tidak lahir di alam demokrasi (2)

  1. Ping balik: Inilah Peradaban Baru dambaan ummat dan penduduk muka bumi | ilmu SDM

  2. Ping balik: Ketika urusan tidak dipegang yang ahlinya.. | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s