Pemimpin berkualitas tidak lahir di alam demokrasi (1)

how-democracy-works-funny-picsLIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menyebutkan bahwa pemilu di Indonesia tidak melahirkan pemimpin berkualitas. Demikian laporan berita Republika, Rabu 26 Nov 2013.  Sebuah laporan yang jujur, karena memang ada kesalahan fatal bila suatu negara tetap melanggengkan kepemimpinan melalui mekanisme pemilu atau demokrasi. Kelemahan-kelemahan ini kadang dipelajari dan diperbaiki melalui pakar pemerintahan, seperti pembatasan masa kekuasaan, mekanisme online namun tetap tidak menyelesaikan akar masalah dari demokrasi.

Makna harfiyah dari demokrasi adalah demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan), sehingga arti secara literal adalah kekuasaan rakyat. Jika kekuasaan mendasarkan pada rakyat, demokrasi tidaklah memiliki sistem hukum, karena tergantung kehendak, keinginan dan nafsu dari rakyat.

Apa saja kelemahan mendasar, yang menjadi pangkal kenapa demokrasi melalui pemilu gagal melahirkan pemimpin berkualitas. Berikut penjelasannya :

  • Undang-undang, hukum serta aturan dibuat oleh rakyat, termasuk juga membuat, merevisi atau mengganti atau merubahnya. Meskipun berasal dari mereka yang mengaku ahli, tetapi aturan hukum tersebut tidak mengacu kepada sesuatu yang haq atau kekal. Jika dasar untuk membuat aturan berdasarkan keinginan rakyat saja, maka bisa jadi akan dibuat UU atau aturan yang aneh, absurd seperti aturan perkawinan sejenis yang telah dilegalkan di beberapa negara. Jelas, hal tersebut menyalahi fitrah dari manusia. Bisa jadi nantinya akan dibuat aturan legal mengenai perkawinan dengan hewan atau perkawinan dengan benda mati .
  • Pemimpin dipilih berdasarkan suara mayoritas. Jika anggaplah suatu daerah adalah terdiri dari mayoritas pencoleng, pencopet, koruptor, penjudi, pemadat …ya semua sampah masyarakat, sudah pasti yang terpilih adalah kalangan mereka. Inilah kesalahan besar demokrasi. Tentunya sudah bisa dipastikan, bila ada pemimpin lewat jalur demokrasi, mereka hanya akan mengutamakan kepentingan kelompok yang memilihnya.
  • Karena suara terbesar atau terbanyak adalah yang paling mendapat tempat, maka sudah tentu yang paling banyak omong, paling bersuara keras, paling vokal akan menjadi suara mayoritas. Ini mirip kondisi di parlemen negara yang menerapkan demokrasi. Suara orang-orang yang jujur, cerdas, berilmu tinggi akan tenggelam karena suara-suara orang bodoh tapi paling nyaring.

Anggaplah suatu negara itu seperti sebuah perusahaan, yang biasanya ada Serikat Pekerja. Apa jadinya jika pimpinan suatu perusahaan dipilih oleh Serikat Pekerja? tentu akan kacaulah perusahaan tersebut. Maka akan dipilih yang jadi pemimpin adalah yang paling dekat dengan karyawan dalam memperjuangkan keinginan SP seperti gaji setinggi-tingginya, fasilitas sebesar-besarnya tanpa memperhitungkan keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.  Tidak perlu menunggu waktu lama, pasti perusahaan tersebut segera kolaps.

Itulah sekelumit kesalahan besar demokrasi, yang sayangnya masih dianut sebagian besar negara di dunia, termasuk di Indonesia. Lantas, adakah sistem lain yang lebih adil dalam memberikan dan menghasilkan pemimpin berkualitas. Tentu saja ada, karena dunia dan seiisinya diciptakan Allah tidak dengan kesia-siaan. Tinggal bagaimana manusia mencari dan menemukan petunjuk yang telah diberikan Nya. Tapi seperti manusia lainnya, sebagian besar mereka sombong dan banyak membuat kerusakan di muka bumi ini.

6 pemikiran pada “Pemimpin berkualitas tidak lahir di alam demokrasi (1)

  1. Ping balik: Inilah Peradaban Baru dambaan ummat dan penduduk muka bumi | ilmu SDM

  2. Ping balik: Pemimpin yang zalim terhadap umat.. | ilmu SDM

  3. Ping balik: “Darkness Age” Indonesia : Akhir Riset Kanker C Tech Labs Dr. Warsito | ilmu SDM

  4. Ping balik: Satu kayuh, dua tiga pulau terlampaui.. | ilmu SDM

  5. Ping balik: Inikah tanda keruntuhan Eropa paska keluarnya Inggris Raya? | ilmu SDM

  6. Ping balik: Pemimpin yang kehilangan legitimasinya | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s