Yang Sedikit Belum Tentu Kurang, Yang Banyak Belum Tentu Cukup…

rejekiDalam perjalanan dari satu kantor menuju suatu kantor lain di bilangan Jakarta, penulis begitu keluar dari lift dengan sedikit tergesa segera ke pintu keluar lobby gedung , dengan agak terburu-buru berusaha mencegat taksi biru yang baru saja menurunkan penumpang. Namun, entah mengapa, sopir taksi tersebut terus saja menjalankan kendaraannya keluar pintu gedung. Ketika seorang satpam gedung mencoba mencegat taksi tersebut, sopir taksi hanya menurunkan kaca mobil dan mengatakan sesuatu kepada satpam sambil terus keluar pintu gerbang.

Karena penasaran, dan merasa diabaikan oleh taksi, maka penulis pun bertanya kepada si Satpam gedung.

“ Kenapa taksi itu mas ?”

“ Dia mau makan dulu pak, jadi tidak bisa antar bapak..Kita cari taksi lain saja”

“oh..begitu. Ok mas, taksinya yang cari yang serupa ya..”  jawab penulis.

“ Baik pak..” si Satpam segera menggunakan HT nya untuk meminta petugas satpam di depan pintu gerbang gedung, untuk mencegat taksi kosong . Setelah menunggu sekitar 10 menit, barulah datang taksinya. Alhamdulillah, akhirnya bisa dapat juga.

“Langsung ke gedung A ya pak..” sambil merebahkan ke bangku belakang.

“ Ok pak..mau lewat mana nih, lewat jalur X atau Y…? si sopir taksi menawarkan alternatif perjalanan.

“ Yang mana saja pak, asal cepat, karena dalam lima belas menit harus sudah berada di sana…”

“Lewat jalur X saja ya pak..”

“Iya..situ saja..mudah-mudahan tidak macet” .Memang kemacetan di Jakarta kadang suka keterlaluan. Walhasil, lebih baik pakai  saran dari sopir taksinya saja, karena siapa tahu lebih paham jalur ‘tikus’ dan ‘by pass’ dibandingkan penulis.

Hari itu adalah hari dimana penulis melakukan puasa sunnah, dan ketika pamit ke luar malah dibekali oleh tuan rumah sebuah box makanan fastfood untuk buka serta kue-kue kecil. Melihat box makanan yang model Japanese Fastfood tersebut, maka menurut penulis tentu sudah tidak selezat sebagai santapan berbuka. Memang, dari awal sudah niat untuk memberikan box tersebut kepada sopir taksi .

“ Omong-omong..sudah makan siang belum pak?” tidak enak rasanya kalau jadi penumpang hanya diam saja, seringkali di dalam taksi penulis mengajak bicara sopir.

“ Belum..tadinya sudah mau lewat gedung..tapi karena ada satpam yang minta masuk ke gedung, akhirnya belok kiri ambil penumpang..”

“ Nah..ini rejeki untuk bapak..ada box makanan, silakan disantap ya..kebetulan saya lagi puasa.” Sambil meletakkan box makanan ke bangku depan.

“ Oh..terimakasih banyak..” jawabnya . Terlihat mukanya begitu ceria menerima box makanan dari penulis.

Kalau dilihat dari penampakan, si pengemudi sepertinya sudah berusia sekitar 50 tahun lebih. Di bandingkan penulis yang masih 30 an (++ hehe…) tentu jauh ya. Bahkan sepanjang perjalanan, si sopir taksi dengan senang hati mengobrol panjang lebar mengenai pekerjaannya.

“ Sebelum saya jadi sopir taksi ini, saya bekerja di bagian kontraktor civil engineering pak. Punya anak buah dan bekerja kemana-mana..” Demikian si sopir taksi menjelaskan. Cukup kaget juga, karena berarti pekerjaan terdahulu lebih mapan dan menjanjikan dibandingkan jadi sopir taksi. “ Tapi..waktu itu saya tamak dan serakah..jadi pindah-pindah kerja melulu, kemudian biasalah..ada hal-hal yang seharusnya tidak baik dilakukan, saya kerjain..agar memperoleh penghasilan besar…” beliau menjelaskan kembali.

“ Terus terang..penghasilan sebagai sopir taksi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan waktu saya di bagian sipil engineering. .Tapi anehnya, karena mungkin yang saya lakukan kurang berkah, itu duit habis gak jelas. Malah saya terlibat utang dimana-mana..hingga akhirnya saya jadi sopir taksi ini”

“ O ya..sampai segitukah?”

“Betul pak..Kadang penghasilan besar, kalau tidak diperoleh dengan cara yang patut maka tidak jelas juga keluarannya. Buktinya saya ini sampai berutang kemana-mana. Terus terang pak, saya jadi sopir ini malah bisa bayar utang. Dulu sewaktu di kontraktor justru punya banyak utang, jadi penghasilan besar tidak bisa bayar utang..”

“Kok bisa, penghasilan besar malah berutang, tapi penghasilan kecil malah cukup?”

“ Itulah anehnya..tapi memang ada sesuatu yang luar biasa. Ketika jadi sopir ini, secara pendapatan jauh lebih kecil, namun sering dapat tambahan lain lain dari penumpang. Seperti, ketika mengantar cuma argo 50 ribu, namun dibayar 100 ribu dan si penumpang tidak mau diberikan kembalian. Kadang ada juga penumpang yang minta ditemanin makan di restoran. Seperti bapak ini, tahu-tahu memberi box makanan ke saya, padahal saya sendiri tidak meminta..nah hal-hal itu yang luar biasa…”

Ya..benar, pikir penulis dalam hati. Rejeki akan selalu ada bagi orang yang mau berusaha, jujur dan ikhlas bekerja. Ketika membawa box makan siang tersebut, dalam hati sudah bermaksud mau memberikan ke sopir taksi. Namun, sayangnya sopir taksi pertama justru malah pergi dengan alasan mau makan siang. Seandainya saja sopir taksi awal tersebut mengambil penulis, maka akan ada dua keuntungan, mendapat makan siang dan juga pendapatan argo taksi. Bayangkan, hanya selisih 10 menit saja, sudah ada berbeda hasilnya.

Belum lagi pelajaran yang diperoleh hasil perbincangan dengan sopir taksi. Ternyata, tidak semua penghasilan besar itu memberikan kelapangan. Justru seringkali terjadi malah tidak bisa mengelolanya, terutama jika berasal dari ketamakan dan keserakahan. Cerita dari si sopir taksi telah memberikan ilustrasi, bahwa tidak selamanya penghasilan yang besar itu cukup. Tetapi penghasilan kecil sendiri juga belum tentu kurang. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan bekerja dalam mencari penghasilan bersih dan halal. Selalu ada keberkahan dan rejeki dari Allah SWT bagi hamba Nya yang ikhlas.

8 pemikiran pada “Yang Sedikit Belum Tentu Kurang, Yang Banyak Belum Tentu Cukup…

    • Betul mas,
      Apa yang disediakan dunia ini tidak akan pernah cukup bagi keserakahan manusia..
      Tapi sudah lebih dari cukup jika manusia memiliki keikhlasan hati..

  1. Ping balik: Saat-saat menuai kebahagiaan bagi keluarga.. | ilmu SDM

  2. Mantap tulisannya pak, memang rizki seringkali diukur oleh rasa bukannya nominal “jumlah berapa”. Seperti halnya, Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Soal rasa, sangat dipengaruhi oleh keberkahan yang diberikan Allah SWT.
    Sehingga tak salah jika ada ulama yang menyampaikan bahwa salah satu cara Allah SWT menurunkan keberkahan pada hamba-Nya, ialah dengan memberikan kelapangan dan hati yang senantiasa bersyukur.
    CMIIW

  3. Ping balik: Just intermezo.. Anda setuju ? | Timdata Pendidikan

  4. Ping balik: Ada orang yang selalu beruntung dan selalu sial, kenapa? | ilmu SDM

  5. Ping balik: Menjemput keberkahan dalam mencari rezeki | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s