Fahira Idris : Pejuang moral masyarakat secara Soft Pressure

Terlahir dalam keluarga mapan berdarah minang dan memiliki usaha sejak masa remaja, tidak menjadikannya lupa akan fenomena sosial saat ini. Itulah yang dilakukan ibu Fahira Idris, mengenai gerakan moral dan sosial yang dirintisnya sejak tahun 2010.

Fahira IdrisFahira Fahmi Idris, -akrab dipanggil- Uni Fahira,  sudah menggeluti dunia usaha sejak dari SD. Berbagai usaha telah dijalankan, dan sekarang lebih dikenal sebagai pengusaha parsel bunga berskala nasional yang mulai merambah mancanegara.  Kepedulian terhadap moral anak-anak bangsa,  terutama sejak terlibat di jejaring sosial media, membuatnya untuk aktif menyikapi fenomena  ini. Terlebih dengan banyaknya pengaduan yang diterima dalam jejaring sosial media, seperti halnya kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) yang menyebarkan buku-buku ke sekolah, dan sekarang merebaknya miras (minuman keras) secara bebas di toko-toko atau minimarket.

Pendiri Yayasan Selamatkan Anak Bangsa ini tidak tinggal diam terhadap fenomena perusakan moral tersebut.     “ Jika larangan merokok, ada perusahaan farmasi yang mendukung.  Untuk Anti Narkoba, ada BNN (Badan Narkotika Nasional), tapi untuk LGBT atau pengendalian Miras, siapa badan atau LSM yang mendukung?” demikian Uni beretorika, ketika ditemui  penulis di Rumah Damai Indonesia Senin (1/7) . “Padahal miras sebenarnya jauh lebih berbahaya dibandingkan rokok, karena efeknya yang bisa mengubah perilaku pengguna, ” tambahnya lagi.  Fenomena ini yang membuatnya mendirikan Gerakan Anti Miras, sebuah gerakan untuk mendorong kontrol sosial terhadap penyebaran miras.

Berdasarkan survey internal yang dilakukan Gerakan Anti Miras, setiap hari di Indonesia ada sekitar 50 orang korban akibat langsung atau tidak langsung dari miras. Korban yang terjadi bisa berupa pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, perkosaan, kekerasan rumah tangga, perkelahian dan aksi kekerasan lainnya.  Dalam setahun jumlahnya sekitar 18.000, jumlah yang cukup besar dan sebenarnya sudah harus jadi perhatian pemerintah.  Data dari Gerakan Anti Miras ini mendukung laporan WHO, karena pada tahun 2011 saja  ada 2,5 juta kematian  di seluruh dunia akibat pengaruh miras atau alkohol.  Jumlah tersebut sudah termasuk kematian karena kecelakaan atau penyakit akibat konsumsi miras atau pengaruh alkohol.

Sebagai seorang ibu dari 2 anak, Nabila Zahra dan Nazira Yahya, tentu perjuangan yang dilakukan tidak sama dengan gerakan dari ormas lain seperti FPI yang seringkali terlihat langsung menggebrak lokasi penjualan miras illegal, meskipun kenyataannya sudah diperingatkan berkali-kali. Beliau lebih menekankan kepada soft pressure atau social control society. Cara ini menurut beliau lebih efektif, karena mendekatkan kepada keaktifan dan partisipasi masyarakat langsung yang terlibat seperti  pihak Kampus, Sekolah, komunitas para dokter,  komunitas pendidik atau guru,  blogger/ komunitas jejaring sosial media,  komunitas olahraga maupun ormas seperti ormas Islam. Jika masyarakat menolak keberadaan penjual miras, maka dengan sendirinya tidak ada yang mengkonsumsi miras.

Sayangnya, perjuangan ini minim dukungan pemerintah.  RUU Miras yang sudah dirancang sejak tahun 2011 dari fraksi PPP, sampai sekarang belum disahkan. Walhasil, peredaran miras semakin menyebar bahkan sampai di minimarket-minimarket.  Bahkan, dengan minimarket yang beroperasi sampai 24 jam, disertai kafe tenda sekitarnya, seolah berupaya menjadikan gaya hidup baru bagi anak-anak dan remaja untuk mengkonsumsi miras.

Beliau tidak memungkiri adanya “grand design” untuk menjadikan “Alcohol lifestyle” sebagai gaya hidup baru atau trend di kalangan remaja.  Keuntungan yang tinggi, jumlah penduduk yang besar sebagai market, perilaku konsumtif remaja membuat  penjual miras tidak peduli akibat efek buruk dari miras yang dijual. Kapitalis yang mendapat keuntungan besar dari miras tentu saja adalah, pub atau café, toko penjual miras, minimarket penjual miras bahkan hypermarket.

Berjuang sendiri tentu tidaklah cukup. Untuk menghindari bahaya miras, tentunya mulai penyadaran dari keluarga terdekat tentang efek bahaya miras. Kaum agamawan seperti ulama /ustadz diharapkan agar selalu menyadarkan ummat dengan faktor keharaman miras yang tentunya sudah mutlak. Teman terdekat juga bisa memberikan pengaruh kepada temannya bahwa tidak ada “alcohol lifestyle” tapi yang benar “health lifestyle”.  Sedangkan di kampus, sekolah atau lembaga pendidikan sejak dini harus disosialisasikan pengetahuan bahaya miras.  Gerakan Anti Miras sendiri menurut Uni, memiliki para sukarelawan yang rajin mendatangi minimarket/toko yang menjajakan miras, agar tidak menjual miras sesuai ketentuan Kepres No 3 tahun 1997 maupun Peraturan Menperindag serta memberikan stiker ID  (Identity Card) Zone.  Sosialisasi di jejaring media, kampus, sekolah, talkshow dan TV baik offline maupun online terus dilakukan secara intensif oleh Gerakan Anti Miras agar tumbuh kesadaran masyarakat tentang bahaya miras.

Harapan Uni Fahira, Indonesia memiliki aturan tegas mengenai miras. Negara  ini seharusnya sudah mempunyai UU Miras, PP Miras, Perda Miras maupun aturan lainnya yang mengendalikan atau membatasi miras. Sebagai contoh, negara sekuler seperti Thailand, Turki, Inggris bahkan Amerika punya aturan sangat tegas dalam pembelian miras.  Jangan sampai di Indonesia dicap sebagai “Surga Penjualan dan Konsumsi Miras”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s