Batan Tek bangkit dari kubur tahun 2011, penguasa radioisotop di Asia tahun 2013

Yudi-dan-Kusnanto-Gatra-Jongky HadiantoJika anda pernah melakukan pemeriksaan CT Scan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), Gamma Camera, NMR (Nuclear Magnetic Resonance) dan peralatan Observasi Scanning canggih lainnya, maka sebenarnya setiap alat itu memerlukan radioisotop. Radioisotop adalah bahan yang sangat penting untuk pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Radioisotop adalah bahan yang tidak bisa dipisahkan dengan kedokteran nuklir. Dengan radioisotop organ-organ di dalam badan bisa dilihat secara berwarna dan tiga dimensi. Di Indonesia ada sekitar 12 rumah sakit yang memerlukan radioisotop  seperti itu. Sedangkan seluruh dunia ada sekitar 3000 rumah sakit menggunakan radiisotop untuk pemeriksaan peralatan Scanning.

Pada awalnya teknologi produksi isotop menggunakan pengayaan uranium tingkat tinggi. Namun, ternyata pada tahun 2010, ada larangan internasional dari IAEA yang dimotori amerika untuk melakukan pengayaan uranium tingkat tinggi, karena pengayaan uranium tingkat tinggi ini bisa disalahgunakan untuk membuat senjata nuklir. Itu menurut mereka.

Padahal selama ini BatanTek menggunakan teknologi tersebut. Artinya, sejak tahun 2010 maka nafas organisasi sudah dihetikan alias dicabut nyawanya pelan-pelan. BatanTek tentunya tidak mau mati. Tim BatanTek bahkan telah mendatangkan konsultan dari Amerika untuk membantu membuat proses uranium tingkat rendah. Namun kali ini juga gagal.

Akibatnya, RS di Indonesia  yang selama ini menggunakan radioisotop dari BatanTek memilih membeli dari sumber lain. Semua pelanggan marah dan memutuskan hubungan. BatanTek praktis mati.

Penemuan dan Teknologi Baru

Beruntung, ada Dr Yudiutomo datang dan menjadi Dirut baru. Lulusan Fakultas Teknik Nuklir UGM ini memang bukan sembarang orang. Dia meraih gelar doktor di bidang nuklir di Iowa State University, USA. Beliau mengajak ahli nuklir sealmamater di UGM, Dr Ing Kusnanto, untuk menjadi direktur produksi. Dr Kusnanto meraih gelar doktor nuklir dari Aachen, Jerman.

Karena PT BatanTek masih dalam keadaan sulit sejak 2010, sejak awal dua ahli nuklir ini memilih menghemat: menyewa satu rumah untuk dihuni berdua. Keluarga ditinggal saja di Jogja.

Dua orang inilah yang tidak henti-hentinya berpikir agar BatanTek bisa melakukan pengayaan uranium tingkat rendah. Siang malam dua ahli ini terus berdiskusi. Keputusan untuk tinggal satu rumah membuat diskusi mereka berlanjut setelah jam kantor sekalipun. Di rumah kontrakan itulah mereka bisa berdiskusi sampai pukul dua dini hari.

Hasilnya sungguh luar biasa: mereka menemukan cara baru mengayakan uranium tingkat rendah. Bukan cara yang sudah dikenal di dunia sekarang ini, tapi cara baru yang selanjutnya diberi saja nama “Formula YK” (Yudiutomo Kusnanto). Formula YK ini menggunakan prinsip electro plating. Menggantikan cara lama sistem foil target. Prinsipnya, sebelum dimasukkan ke reaktor nuklir, uranium di-plating dengan rumus tertentu. Cara ini, meski kelak diketahui ahli lain pun, akan sulit ditiru. Rumus angka-angkanya tidak akan diungkap.

Namun, untuk membuat proyek ini terlaksana, ternyata butuh peralatan dan infrastruktur baru. Tentunya sulit untuk memperolehnya dalam waktu dekat, apalagi meyakinkan pihak perbankan. Akhirnya, setelah diskusi dengan Meneg BUMN perihal tersebut, maka dibantulah Batan Tek yang memerlukan modal sekitar 85 Milyar untuk membuat formulasi baru tersebut dapat terlaksana. BRI akhirnya bersedia memberikan jaminan 85 Milyar demi proyek tersebut.

Menjadi penguasa radioisotop di Asia

Dengan penemuan baru Formula YK ini Indonesia melalui Batan Tek berhasil menjadi satu-satunya negara di Asia yang mampu memproduksi radioisotop melalui pengayaan tingkat rendah. Kini seluruh negara Asia datang ke BatanTek untuk membeli radioisotop.  Keberhasilan itu menjadi titik awal Batantek kembali memasarkan radioisotop ke klien-kliennya. Kali ini dengan teknologi pengayaan uranium tingkat rendah. Padahal para produsen lain masih eksis dengan uranium pengayaan tingkat tinggi, seperti Kanada dan Australia.

Maka, pemeriksaan melalui MRI, CT Scan, gamma camera, serta operasi yang menggunakan pisau gamma mutlak memerlukan radioisotop. Jepang pun tidak memproduksinya sehingga pasar radioisotop teramat besar. Apalagi Tiongkok. Kemampuan Batan Tek menembus pasar Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan negara-negara Asia lain sangat besar,  sehingga masa depan PT Batan Teknologi amat cerah. Tahun 2012 omzetnya langsung bisa mencapai Rp 200 miliar. Untuk mencapai omzet 1 trilyun di tahun 2013 dan lebih dari 3 trilyun di tahun berikutnya tampaknya terbuka lebar.

Amerika dan Australia, meski mampu membuat radioisotop, bukanlah pesaing Batan Tek. Umur radioisotop ini hanya 60 jam. Setelah itu daya radiasinya habis. Untuk kebutuhan Tiongkok 10 curie, misalnya, Tiongkok harus membeli 60 curie. Yang 50 curie akan hilang di jalan. Karena itu, pengirimannya harus dengan pesawat. Waktu pengirimannya sejak dari Serpong ke bandara dan seterusnya harus dihitung secara akurat. Inilah yang menyebabkan bahwa radioisotop hanya berumur beberapa puluh jam saja, selanjutnya akan terus meluruh dan hilang tak berbekas.

Pelajaran Yang Bisa Diambil

Apa yang bisa kita pelajari dari Yudiotomo dan Kusnanto, sehingga bisa memutar keadaan 180 derajat, dari perusahaan yang mati, menjadi penguasa pasar radioisotop di Asia tahun 2012 dan mungkin sebentar lagi meraih prestasi dunia?

Kegigihan. Disini terlihat, bahwa kegigihan keduanya benar-benar sulit dicari bandingan. Demi mencari penemuan formulasi pengayaan uranium tingkat rendah, mereka berdua bersedia tinggal satu rumah, kemudian diskusi dengan tim Engineer Batan Tek lainnya kadang sampai siang malam untuk membuat suatu formulasi pengayaan uranium tingkat rendah. Bukannya tidak mau menggunakan konsultan teknologi luar dari Amerika, tapi mereka sudah mencoba hanya saja gagal. Terlihat bahwa ternyata kemampuan rekayasa ahli lokal Indonesia bisa lebih canggih dari luar.

Kepercayaan. Disinilah peran kementrian BUMN sebagai fasilitator mampu menjadi ‘penyedia’ jalan bagi Batan Tek agar bisa mencarikan penjamin penyedia modal yaitu BRI untuk dana pembuatan infrastruktur dan fasilitas baru bagi formulasi tersebut. Perlu ada orang yang bisa ‘melihat’ dan percaya meskipun belum terlihat sekarang tapi mampu meyakini bahwa itu akan berhasil jika diberi kesempatan.

Referensi :

Manufacturing Hope. 2012. Artikel Dahlan Iskan Meneg BUMN pada Jawa Pos News Network (www.jpnn.com)

Kompas, BatanTek menjadi produsen radioisotop tingkat rendah terbesar di asia tenggara. 2012. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/25/14534464/Batan.Tek.Jadi.Perusahaan.Produsen.Nuklir.Terbesar.di.Asia.Tenggara

6 pemikiran pada “Batan Tek bangkit dari kubur tahun 2011, penguasa radioisotop di Asia tahun 2013

  1. Ya, jika para engineer di indonesia diberikan kesempatan, mereka bisa mendunia. Sayangnya, kesempatan itu tidak sering terjadi atau yang terjadi malah di’blokir’ oleh para oportunis yang mementingkan impor daripada menggunakan sumber daya lokal yang cerdas. Beberapa perusahaan seperti Texmaco, Dirgantara Indonesia (IPTN) dll adalah contoh masa lalu.

  2. Ping balik: Ada pada level berapa Solusi Inovatif disain produk/jasa organisasi? | ilmu SDM

  3. Ping balik: Mengapa perusahaan bisa gagal dalam bisnis? | ilmu SDM

  4. Ping balik: Strategi bisnis yang selaras dengan visi misi organisasi | ilmu SDM

  5. Ping balik: Cara membangun Struktur Organisasi yang selaras dengan strategi visi misi organisasi | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s