Antara kambing, kesejahteraan dan impor sapi

kambingSekitar sebulan lalu, januari 2013 penulis menerima SMS dari dai yang bertugas di pedalaman. Beritanya adalah bahwa kambing yang dipelihara sejak tahun lalu kini sudah melahirkan.  Agak kaget juga  karena terus terang sudah lupa tentang hal ini, bahwa tahun lalu pernah memberi rekomendasi dan bantuan pengadaan kambing untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan daerah pedalaman tersebut. Walhasil, berita singkat tersebut sungguh terasa menggembirakan karena apa yang disarankan telah membuahkan hasil.

Di tengah kisruhnya pengadaan impor daging sapi saat ini yang bahkan menyeret salah satu petinggi partai tahun 2013 dengan dugaan suap, entah mengapa penulis tetap lebih sreg mengenai peternakan kambing. Indonesia, negeri yang tanahnya terkenal subur dan tidak mengalami musim dingin atau panas seperti belahan negeri lain, sebenarnya sangat cocok untuk budidaya peternakan. Tapi anehnya, justru impor daging khususnya sapi malah sangat dominan dan menjadi sumber kebutuhan daging, bukannya melirik peternakan kambing sebagai pengganti atau substitusi kebutuhan daging.

Memang negeri ini memiliki pemerintahan yang aneh. Tidak melihat kekuatan dan potensi negeri ini. Yang ada adalah kaum oportunis atau mafia yang ingin agar dapat untung besar melalui impor atau sekedar jual beli kuota impor, tanpa ada upaya mensejahterakan penduduk negeri ini atau menghentikan ketergantungan dari daging impor. Bukan berita aneh, jika daging kambing masih dinomorduakan dibandingkan daging sapi.  Mungkin juga ini berita yang sengaja dihembuskan oleh yang tidak mau negeri ini menjadi sejahtera semua penduduknya.

Seperti selama ini yang beredar adalah bahwa kambing (bukan domba ) memiliki kandungan kolestrol jahat yang tinggi dll. Isu ini benar-benar menyesatkan.  Mari kita lihat data dari USDA ini.

Nutrisi Kambing

Ternyata kambing (goat) memiliki lemak jenuh paling rendah dibandingkan ayam maupun sapi. Bahkan kolestrolnya paling rendah. Tentunya saya juga heran jika ada yang tidak mau makan daging kambing sebagai sumber protein dengan alasan takut kolestrol dan lemak jenuh. Bisa jadi isu tersebut dihembuskan dari mulut ke mulut agar orang tidak mau makan daging kambing. Dampaknya adalah peternakan kambing tidak terlalu menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian besar keluarga Indonesia.  Selain itu juga agar timbul persepsi bahwa mengkonsumsi daging sapi lebih baik daripada daging kambing. Tentunya hal ini akan menguntungkan bagi pedagang sapi atau importir sapi yang tinggal mendatangkan sapi dari luar negeri, tanpa kepedulian membangun kemandirian penyediaan protein hewani sendiri.

Banyak keuntungan yang diperoleh dari ternak kambing dibandingkan sapi antara lain :

  • Bisa diternakkan dalam jumlah kecil dan mudah dibandingkan sapi yang tentunya butuh pakan berkilo-kilo lebih banyak.
  • Bisa langsung cepat besar, setelah dua tahun bisa diambil dagingnya. Beda dengan sapi yang butuh waktu 5 – 7 tahun.
  • Setiap keluarga dengan halaman kecil bahkan dapat memelihara kambing sendiri.
  • Dapat mencukupi kebutuhan protein keluarga dengan beternak kambing.
  • Kambing setiap tahun beranak, sekali beranak bahkan sering tidak hanya satu, kadang dua bahkan ada yang sampai empat.  Mari ambil angka terendahnya 1; ambil pula risiko kematiannya 1/10 anak kambing. Maka setiap tahun satu kambing menghasilkan 0.9 kambing; diambil lagi biaya pemeliharaannya 50%-nya maka masih menghasilkan 0.45 satuan kambing.

Atas dasar itulah, tahun lalu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat di pedalaman maka penulis merekomendasikan agar memelihara kambing bagi masyarakat binaan dai tersebut. Syukurlah, usulan itu disetujui dan bantuan pun segera  diberikan untuk membeli sepasang kambing.  Sampai berbulan-bulan hingga setahun lebih tidak mengikuti mengenai perkembangan ternak tersebut tersebut hingga akhirnya bulan lalu mendapat kabar gembira bahwa kambing tersebut kini telah beranak.

Ini memang hanya langkah kecil. Tapi jika setiap keluarga di pedalaman memelihara sepasang kambing saja, dengan hitungan ada sekitar 10 juta keluarga tinggal di pedalaman Indonesia, maka tahun depan akan bisa menghasilkan sekitar 9 juta  ekor kambing, itu adalah paling pesimistis. Bila ambil optimum, maka sekitar 20 juta kambing baru diperoleh. Jika mulai sekarang atau tahun ini dilakukan,  berita tentang kisruh impor daging, suap kuota impor, kekurangan protein serta lainnya akan tinggal sejarah.

3 pemikiran pada “Antara kambing, kesejahteraan dan impor sapi

  1. Setuju banget, harus ada gerakan dari bawah yang bisa mengangkat ekonomi bangsa. Kita saat ini nggak bisa ngarepin pemerintah, ngarepin pejabat, mereka dah lupa tugas kewajibannya. Kita, rakyat sendiri yang harus berani ambil terobosan dan menjadi pelopor bagi yang lain.

  2. Betul mas Sunu…jika mas Sunu memiliki lahan cukup..sekitar 100 m2 saja, sudah bisa memelihara kambing di dalam kandang.
    Tidak usah ngarepin pemerintah, pejabat dll..memang dalam sistem demokrasi yg amburadul ini, kekuasaan lebih penting daripada kesejahteraan rakyat. Perlu upaya untuk mengganti sistem demokrasi yg jelas gagal dalam memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

  3. Ping balik: Satu kayuh, dua tiga pulau terlampaui.. | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s