Vaksinasi, benarkah menolong manusia?

491px-ReverseGeneticsFlu.svgSalah satu yang dianggap sebagai bentuk upaya preventif (pencegahan) terhadap penyakit adalah vaksinasi.  Vaksinasi merupakan upaya peningkatan system kekebalan tubuh (imunisasi) melalui pemberian virus/bakteri/media biologis yang telah direkayasa sedemikian rupa, sehingga akan mengaktifkan respon imunitas tubuh terhadap penyakit tertentu yang diharapkan. Secara singkat vaksin adalah sebuah preparat biologis untuk menangkal penyakit atau meningkatkan kekebalan tubuh.

Namun apakah benar vaksinasi efektif untuk peningkatan kekebalan tubuh? Banyak pendapat yang pro maupun kontra terhadap vaksinasi.  Bahkan demikian kuatnya kelompok yang kontra terhadap vaksinasi sehingga membentuk komunitas, seminar dan perkumpulan mengenai bahaya vaksinasi sendiri. Sedangkan yang pro terhadap vaksinasi umumnya berasal dari kalangan akademik, pemerintah maupun institusi kesehatan.

Terhadap hal ini, maka penulis pun berupaya mencari sendiri apa sebenarnya vaksinasi, tentunya melalui jalur dan studi literature ilmiah terhadap vaksin. Dari hasil studi literature ternyata, memang vaksin masih menghadapi pro-kontra baik di sisi ilmiah / saintifik dalam hal efektifitas  mencegah penyakit. Tidak hanya di negara Indonesia, bahkan di negara yang nota bene ‘embahnya’ teknologi dan sains, masyarakat di sana juga memiliki pendapat kontra terhadap vaksin. Salah satu lembaga di amerika yang cukup keras menyuarakan tentang vaksin ini adalah NVIC, National Vaccine Information Center ( www.nvic.org) yang didirikan oleh Barbara Loe Fisher. LSM ini berupaya mencegah kecelakaan dan kematian akibat vaksin melalui edukasi,penerangan dan informasi luas mengenai vaksin, akibat, resiko dan dampaknya kepada publik atau masyarakat Amerika.

Hasil studi yang penulis lakukan juga memperlihatkan adanya pro dan kontra tentang vaksin. Dalam istilah ilmiah, masih ada gap riset (research gap) mengenai manfaat maupun  resiko vaksin. Jenny Johnstone, et al (2010) yang meneliti efektifitas vaksin pneumonia atau PPV, menyatakan bahwa PPV tidak memberikan pengurangan resiko pneumonia dibandingkan dengan yang tidak divaksin.  Johnstone menyimpulkan, perlu adanya strategi baru untuk menurunkan resiko penyakit pneumonia, terutama dengan pemberian vaksin.

Itu baru dari pneumonia, bagaimana dengan penyakit lain? Ambil contoh vaksin untuk virus kanker  serviks, HPV (Human Papilloma Virus), dimana salah satunya HPV Vaccine atau dengan merk dagang Gardasil ternyata menurut periset University of Columbia , dapat menyebabkan penyakit autoimun dan kelainan saraf. Chris Saw dan Lucija Tomijenovic (2012) menyebutkan bahwa vaksin HPV tersebut mengandung HPV-16L 1 antigen yang memiliki resiko inheren dan potensial mencetuskan penyakit autoimun cerebral vasculopathy. Meskipun ada efek pencegahan HPV untuk periode sekitar 3 tahun menurut Steinbrook (2006), namun melihat adverse reaction yang ditimbulkan berupa pencetusan penyakit autominun, jelas lebih berbahaya dibandingkan manfaatnya.

Bagaimana dengan vaksin yang umum digunakan saat ini seperti polio dan lainnya. Ada dampak vaksin polio bisa menyebabkan efek Reverse Virulence, yaitu dimana pemberian vaksin malah menyebabkan penyakit polio.  Efek ini di mata statistik sangat rendah, yaitu 1 kejadian diantara 2 juta vaksin yang diberikan, atau dalam bahasa manajemen sudah memenuhi six sigma. Namun harus diingat, bahwa bagi penderita yang terkena adalah 100%, artinya statistik tidaklah bisa dijadikan pembenaran.   Logikanya, maukah anda divaksinasi tapi ada kemungkinan 0,00005% anda akan terkena penyakit yang harusnya dicegah oleh vaksin ? atau dari setiap 2 juta anak yang divaksin, akan ada 1 anak terkena penyakit, dimana penyakit tersebut akan selamanya diidap (polio menyebabkan kelumpuhan permanen). Saya kira jawabannya adalah tidak. Disini keamanan vaksin memang masih dipertanyakan.

Menurut ahli virology, hal ini memang sudah diduga, terutama terkait pemberian vaksin polio sabin secara oral atau OPV. Vaksin ini, yang mengandung virus hidup tapi dilemahkan, bisa mutasi menjadi virus pathogen  menurut Maria Yakovenko (2008). Virus yang ada di vaksin oral polio ternyata tidak stabil secara genetis, bisa bermutasi dan evolusi menjadi ganas dalam kondisi tertentu.

Sekarang, kita bisa lihat perbandingannya dengan pemberian vaksin untuk hewan. Prinsip pemberian vaksin untuk hewan dan manusia pada dasarnya sama. Namun ada aturan-aturan yang lebih baik dalam pemberian vaksin bagi hewan dibandingkan manusia.  Dengan kata lain, pemberian vaksin untuk hewan jauh lebih rasional dibandingkan manusia.

Berikut adalah perbandingan antara pemberikan vaksin untuk hewan oleh dokter hewan dan vaksin untuk manusia  dokter medis atau pemerintah:

  1. Dokter hewan menganggap hewan peliharaan sebagai individu. Vaksin yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup hewan. Misalnya, anjing yang memiliki alergi jarang diberikan vaksin atau diberikan dosis yang lebih kecil atau tidak divaksinasi sama sekali. Jika ada reaksi yang merugikan yang dialami dari vaksin, dokter hewan  sangat berhati-hati tentang pemberian vaksin di masa depan. Sayangnya, pendekatan yang sama tidak dilakukan untuk pemberian vaksin bagi anak-anak atau manusia, yang seringkali mengabaikan anak/manusia sebagai individu terutama pada saat vaksinasi massal.
  2. Untuk menghindari over vaksinasi, dokter hewan sering meminta  vaksin titer atau test darah untuk menentukan jumlah vaksin, demi menghindari efek samping atau komplikasi atau perlunya booster. Dokter anak tidak menawarkan titer vaksin untuk anak-anak, bahkan untuk semua vaksin yang diwajibkan  untuk semua anak-anak
  3. Dokter Hewan mengakui bahwa vaksin dapat menyebabkan efek samping yang serius, termasuk yang sudah terdokumentasi dengan baik akibat dari vaksin yaitu : kanker pada kucing: leukemia kucing dan sarkoma kucing. Dokter anak jarang sekali atau pernah menyebutkan hubungan atau resiko baik efek samping, reverse virulence seperti : asma, eksim, kejang,  lambung, stroke, demam, kanker dan autisme. Seringkal orang tua hanya diberitahu bahwa hal-hal diatas bukanlah disebabkan oleh vaksin, tapi karena penyakit bawaan sebelum divaksin.
  4. Kebanyakan dokter hewan tampaknya memahami bahwa kebijakan satu ukuran cocok untuk semua hewan tidaklah  tepat. Tidak demikian bagi dokter atau praktisi kesehatan medis untuk manusia, dimana satu dosis vaksin berlaku untuk semua penerima.

Dalam rangka penyelamatan akibat resiko vaksin, di Negara Amerika, masih ada aturan National Vaccine Injury Act of 86 (Public Law 99-660) dengan National Vaccine Injury Compensation Program (VICP) yang memberikan kompensasi pada anak jika memang benar mengalami sakit, kematian atau efek samping lainnya karena vaksin. VICP akan membayar sekitar USD 250 ribu atau sekitar 2.4 Milyar rupiah, jika terbukti adanya kematian akibat Vaksin. Tapi di Indonesia sayangnya belum ada.  Jadi resiko akibat vaksin, ya ditanggung sendiri oleh penderita atau keluarga.

Lantas bagaimaina menyikapinya?. LSM Amerika tentang Vaksin yaitu NVIC, memberikan 8 pertanyaan yang harus dijawab sebelum memutuskan melakukan vaksinasi. Pertanyaan itu adalah :

  1. Apakah anak atau saya sedang sakit saat ini?
  2. Apakah saya atau anak saya pernah mendapat reaksi buruk ketika divaksinasi sebelumnya?
  3. Apakah saya atau anak saya memiliki reaksi individu atau sejarah keluarga terkait vaksinasi, penyakit neurologis, beberapa jenis alergi atau problem system imunitas tubuh?
  4. Apakah saya sudah tahu dampak penyakit atau resiko vaksin terhadap saya atau anak saya?
  5. Apakah saya sudah mendapat informasi sepenuhnya mengenai efek samping vaksin?
  6. Apakah saya sudah tahu bagaimana mengidentifikasi dan melaporkan akibat atau suatu reaksi dari vaksinasi?
  7. Apakah saya sudah tahu bagaimana menyimpan dokumen tertulis, termasuk pembuat/manufaktur vaksin , nama/merk dagang vaksin, jenis vaksin, lot number produksi vaksin, untuk vaksinasi yang akan dilakukan?
  8. Apakah saya sudah tahu bagaimana saya mendapatkan hak atas pilihan informasi yang saya buat ?

Petunjuk yang diberikan NVIC cukup jelas. Jika anda menjawab Ya untuk nomor 1-3, atau Tidak untuk nomor 4 s/d 8, dan Tidak mengerti pentingnya jawaban anda, maka sama sekali tidak tahu mengenai resiko, komplikasi ataupun informasi tentang vaksin itu sendiri.  Sebagai gambaran saja,  sudah lebih dari 2 milyar USD telah diberikan kompensasi VICP kepada anak-anak di Amerika yang mengalami kematian, atau cacat berat akibat vaksin sejak tahun 1986.

Apakah program vaksinasi ini bisa dikaitkan dengan kapitalis?. Dilihat dari segi komersial, vaksin memang bisnis yang menggiurkan. Bisnis vaksin membukukan sekitar 7 – 10 milyar US dollar / tahun pendapatan yang dihasilkan oleh program vaksin untuk manusia. Berbeda dengan vaksin hewan yang jauh lebih rendah kontribusi dan keuntungannya. Tidak ada program massal vaksin untuk hewan seperti kambing, anjing, kucing atau hewan peliharaan lain.

Dari studi literature yang penulis lakukan ,  bisa disimpulkan masih banyak kelemahan dari segi efektifitas, manfaat ataupun dampak vaksinasi sebagai pencegahan penyakit.

Beberapa aspek terkait vaksin tersebut adalah :

  1. Segi keamanan vaksin, karena vaksin juga mengandung bahan2 lain seperti : pengawet, antibiotik, media jaringan hidup yang mungkin berbahaya bagi manusia.
  2. Segi Reverse Virulence, kemungkinan aktifnya kembali virus yang sudah dilemahkan.
  3. Segi Side Effect, timbulnya penyakit yang lebih berbahaya dibandingkan penyakit yang dicegah seperti penyakit gangguan saraf, autoimun, dll.
  4. Di Indonesia, masih belum ada aturan mengenai kebijakan tentang kecelakaan akibat vaksin. Sehingga resiko terkait vaksin ditanggung sendiri dan belum ada studi lebih lanjut kebijakan tentang efektifitas, manfaat maupun kerugian/resiko yang kemungkinan diderita penerima vaksinasi ini.

Referensi :

 

Jenni Johnstone,Dean T. Eurich,Jasjeet K. Minhas,Thomas J. Marrie, and Sumit R. Majumdar, 2010. Impact of the Pneumococcal Vaccine on Long-Term Morbidity and Mortality of Adults at High Risk for Pneumonia. Clinical Infection Diseases 2010 Vol 51 issue 1 : hal 15-22. DOI 10.1086/653114. Diakses pada laman Oxford Journals tanggal 19 Des 2012, http://cid.oxfordjournals.org/content/51/1/15.full

Matt J. Keeling. Peter J.White, 2010. Targeting vaccination against novel infections: risk, age and spatial structure for pandemic influenza in Great Britain. Journal of Royal Society 2010 Vol 8 No 58 hal 661-670. Diakses pada laman RoyalSocietyPublishing .http://rsif.royalsocietypublishing.org/content/8/58/661.full

Steinbrook R. 2006. The potential of human papillomavirus vaccines. New England Journal of Medicine 2006; 354(11):1109–1112, Diakses pada laman New England Journal of Medicine 11 Des 2012, http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMp058305#t=article

Tomijenovic Lucija , and Shaw Christopher. 2012. Death after Quadrivalent Human Papillomavirus (HPV) Vaccination: Causal or Coincidental? Pharmaceutical Reg. Affairs 2012, S12-001. Diakses pada pada laman http://sanevax.org/wp-content/uploads/2012/10/Tomljenovic-Shaw-Gardasil-Causal-Coincidental-2167-7689-S12-001.pdf

Maria Yakovenko, et.al. 2009. Evolution of the Sabin Vaccine into Pathogenic Derivatives without Appreciable Changes in Antigenic Properties: Need for Improvement of Current Poliovirus Surveillance. Journal of Virology, April 2009 Vol 83 No 7 p 3402-3406. Diakses pada laman : http://jvi.asm.org/content/83/7/3402.full

Sherri Tenpeny, Dr.  2010. Article : Vaccines: Veterinarians Are Better Than Human Doctor. Huffington Post. 2010, diambil pada laman http://www.huffingtonpost.com/dr-sherri-tenpenny/vaccines-veterinarians-ar_b_533505.html

NVIC. National Vaccine Information Center. Ask 8 question. Diambil pada laman http://www.nvic.org/Ask-Eight-Questions.aspx