Antara sistem pendidikan, ujian dan etika kita

Ada kisah yang cukup mengharukan akhir-akhir ini. Seorang ibu murid di sekolah yang melaporkan tindakan mencontek massal di SD Gadel, Surabaya (Harian Surya, 10 Juni 2011) justru mendapatkan intimidasi dari rekan-rekan dan guru sekolah. Entah, apa yang ada di pikiran rekan-rekan atau guru sekolah tersebut. Tampaknya memang ada hal ‘penyakit’ sosial yang sudah cukup parah di masyarakat kita. Berbuat baik/kebenaran akan ditanggapi sinis, tetapi berbuat maksiat atau tidak bermoral justru dianggap biasa-biasa saja.

Penulis jadi teringat pada masa-masa sekolah dahulu. Ketika menghadapi ujian, yang umum sering terjadi adalah penulis sering menjadi ‘referensi’ bagi teman-teman yang menghadapi kesulitan menyelesaikan soal ujian. Tak dipungkiri, bentuk ujian yang merupakan Multiple Choice, memberi kesempatan murid-murid untuk malas belajar, karena bisa mengambil kesempatan ‘melihat’ hasil pekerjaan teman muridnya yang pintar. Karena itu, seringkali di dalam ujian, ‘posisi’ tempat duduk murid menentukan ‘prestasi’. Tinggal siasat bagaimana agar tidak ketahuan guru. Umum terjadi, yang duduknya bersebelahan dengan murid pintar biasanya nilainya cukup baik.

Namun ketika penulis kuliah, semua model pelajaran, ujian maupun soal berubah 180 derajat. Ternyata, perbedaan kualitas pengajaran yang mencolok saat sekolah dan kuliah memberikan nuansa dan atmosfir yang sangat berbeda. Rupanya para pengajar/dosen di perguruan tinggi sangat memahami buruknya metode, pengajaran, bentuk ujian ataupun pola ajar yang diberikan sekolah. Bahkan penulis, yang dulunya tidak paham kenapa suatu rumus atau soal itu bisa ada, karena banyak diajarkan teknik hapalan semata, dengan pengajaran metode yang sistematis saat kuliah jadi paham ‘kunci’ atau filosofi dari rumusan persoalan tersebut. Sampai-sampai penulis berpikir, kenapa tidak waktu sekolah saja diajarkan metode pengajaran kuliah ini, sehingga tidak perlu buang-buang waktu selama sekitar satu tahun matrikulasi untuk process reengineering ini, yang tentunya jadi bekal belajar ke tingkat/jurusan di tahun berikutnya. Jika mahasiswa tidak sukses di tingkat pertama, walhasil akan kesulitan menyelesaikan kuliah selanjutnya.

Salah satu bentuk metode ujian yang diberikan yang menjungkirbalikan pelajaran ketika sekolah adalah ketiadaan atau hampir tidak ada soal multiple choice. Inilah menurut penulis salah satu akar penyebab mengapa siswa sekolah tidak memiliki kemampuan memadai untuk menyelesaikan persoalan secara sistematis, dan juga cenderung membuat siswa sekolah malas belajar dan suka mencontek. Ujian di kuliah, hampir semuanya adalah ujian essay, yang mau tidak mau penulis harus belajar mengenai konsep, filosofi, serta pengertian mendalam mengenai mata pelajaran tersebut. Mayoritas ujian yang diberikan justru open book, alias mahasiswa diperbolehkan untuk melihat buku referensi, catatan kuliah atau buku pedoman kuliah lainnya selama ujian.

Bahkan ada cerita menarik ketika ujian, yaitu saat mahasiswa menghadapi ujian mata kuliah matematika terapan/teknik. Rupanya, soal ujian yang diberikan benar-benar ‘luar biasa’ berat alias abnormal menurut mahasiswa, karena memang yang membuat ujian ini, sang dosen, mulai dari S1 s/d S3 nya diselesaikan di luar negeri yaitu Jepang. Terkenal akan kepintarannya, dan sekarang sudah menyandang title professor serta rektor di salah satu universitas di jakarta, juga biasa membimbing mahasiswa tingkat doktoral baik di dalam atau di luar negeri. Meskipun mahasiswa peserta ujian sudah mempersiapkan diri serta membekali dengan contoh2 soal ujian terdahulu, tapi tidak menolong banyak, karena memang soal yang dibuat si dosen tidak pernah sama. Jumlah soal ujian yang diberikan tidaklah banyak, tapi berbeda-beda untuk tiap mahasiswa. Setelah soal diberikan saat ujian, mahasiswa dipersilakan pulang ke rumah/tempat kos untuk menyelesaikan soal tersebut, dan jawaban boleh diserahkan ke dosen tiga hari kemudian !. Bayangkan, datang ujian hanya menerima soal, terus disuruh pulang dan kembali dengan jawaban tiga hari. Dipersilakan juga membuka berbagai referensi atau bertanya ke teman2 yang ikut ujian tersebut. Meskipun bisa melihat buku kuliah, diktat atau catatan, tapi memang jika mahasiswa tidak pernah mengikuti kuliah, mendapatkan pemahaman atau filosofi persoalan, maka akan kesulitan dalam menyelesaikan soal ujian yang ‘luar biasa’ berat tersebut.

Inilah yang terlupakan dalam sistem pendidikan nasional kita. Soal ujian, entah itu kelulusan, kenaikan tingkat atau test uji masuk, seringkali dibuat dalam pilihan berganda atau multiple choice. Secara logika, jika pilihan ganda hanya benar salah, tanpa belajar pun kita memiliki peluang 50%, cukup dengan menulis benar atau salah saja untuk semua soal. Pilihan ganda A s/d D, memiliki peluang 25% dan seterusnya. Berbeda dengan ujian essay atau tulisan. Jika tidak ada yang mengisi, maka nilai nol. Salah mengisi, maka nilainya tidak penuh. Dan seringkali ujian essay, lebih memperhatikan sistematika metode mulai dari Input (data yang digunakan untuk menjawab), Process (metode dan rumus yang digunakan untuk menjawab ujian) dan Output (hasil keluaran jawaban) Untuk beberapa ujian yang baik, seringkali dilihat sistematika pengisian jawabannya, sehingga kadang jika hasilnya salah atau nilainya hanya berbeda sedikit, sedangkan input dan processnya sudah benar, bisa diberikan nilai yang cukup tinggi.

Padahal, kalau mendengar cerita pendidikan waktu dahulu, terlihat lebih kuat dan lebih mantap dibandingkan sekarang. Dosen mata kuliah penulis, pernah mengatakan bahwa ketika sekolah dulu, setiap siswa dipanggil dan diujikan satu persatu oleh guru, sehingga guru benar-benar memegang tanggungjawab akan kelulusan siswa sesuai bidang studi yang diajarkan. Inilah teladan dan etika yang hilang di sistem pendidikan sekarang.

Siapa yang harus bertanggungjawab pada sistem pendidikan sekarang, sehingga kejadian seperti diatas bisa terjadi? Semua pihak, mulai dari pemerintah sampai dengan masyarakat dan stakeholder yang terkait bidang pendidikan harus memiliki peran dan tanggungjawab. Perlu ada reformasi total dalam kurikulum, pendidikan , pengajaran, metode, sistem, maupun model yang ada. Bisa saja dimulai dari hal terkecil, yakni mulailah meninggalkan soal ujian sistem multiple choice atau pilihan berganda. Ini bukan hal sulit, tapi memang, bangsa kita seringkali mencari jalan pintas. Daripada sulit memeriksa soal ujian essay, lebih baik menggunakan pilihan berganda, yang bahkan dengan komputer bisa memeriksa ratusan/ribuan jawaban dalam sekian detik. Suatu pola jalan pintas, yang mirip dengan kisah di sinetron-sinetron tv kita. Dan pola pikir jalan pintas ini, bisa jadi adalah akar yang menyebabkan mengapa korupsi dan kejahatan etika lainnya seolah sudah jadi budaya negeri ini.

2 pemikiran pada “Antara sistem pendidikan, ujian dan etika kita

  1. Setuju banget… saya juga pernah mencermati hal ini. Bisa dilihat bagaimana pelajar-pelajar kita lemah kemampuan verbal linguistiknya, karena tidak dibiasakan menulis essay ataupun berbicara di depan kelas. memang metode pengajaran dan sistem pengajaran perlu ditinjau lebih jauh. Lihatlah di tv ketika anak-anak SMP ataupunn bahkan SD di luar sana begitu pandainya mrk menjawab pertanyaan dan merangkai kata-kata dengan baik, coba bandingkan dengan pelajar-pelajar kita. Maaf kalo saya terpaksa bilang, pelajar SMA pun masih kalah dibanding anak SD di luar sana. Menyedihkan.

    • Benar Sdr Nur,
      Kemampuan dan kelemahan anak didik atau sekolah kita, karena memang mereka dibiasakan sekolah dengan teknik hapalan, pilihan ganda dll.
      Karena itu, saya melihat ada sekolah solutif (bukan alternatif) dan ini sudah dibuktikan di beberapa model sekolah rumah atau home schooling, dimana kemampuan anak SMP sudah setara dengan Mahasiswa perguruan tinggi.
      Artinya, mereka hanya belajar dan fokus pada pelajaran yang memang perlu diajarkan, bukan pelajaran yang bisa belajar di rumah seperti ilmu humaniora, sejarah, dll.

      Salam,
      tengku shahindra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s